Beranda Opini Kemajuan Bangsa dan Slogan “Wong Jowo Ojo Ilang Jowone”

Kemajuan Bangsa dan Slogan “Wong Jowo Ojo Ilang Jowone”

0
foto: detik.com

Oleh: Khayatun Nufus*

Maju dan mundurnya budaya sangat menentukan nasib suatu bangsa. Indonesia yang dikenal memiliki nilai budaya tinggi belum mampu keluar dari krisis yang berkepanjangan. Bahkan kita cenderung menjadi bangsa yang pelupa, pembenci, pelanggar hukum, mau menang sendiri, tidak saling mempercayai, mudah menghilangkan ketinggian budaya bahkan berpotensi menjadi penjual bangsa sendiri. Nauzubillah min Zalik

Wilayah Jawa yang merupakan wilayah dengan penduduk terpadat di Indonesia terkenal dengan kekentalan budayanya. Orang Jawa diharapkan mampu mempunyai nalar, skill dan manajemen demi kemajuan bangsa Indonesia. Modernisasi pada masa orde baru membawa dampak serius terhadap mundurnya budaya jawa. Ramdani Wahyu dalam bukunya yang berjudul Ilmu Budaya Dasar mengatakan faktor kemunduran budaya Jawa sebagai berikut :

1. Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatif sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti Surjan, batik, blangkon kebaya dan keris, kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan Timur Tengah/Arab.

2. Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam dan fleksibel juga di gerilya. Di mulai dengan salam pertemuan yang memakai selamat pagi dan sebagainya. Dulu bangsa Indonesia bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dan sebagainya.

3. Kebaya, modolan, dan Surjan di ganti dengan pakaian ala barat dan model lainnya. Nama-nama Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hadjar  …) mulai dihilangkan.

4. Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dahulu terkenal putrinya yang lemah lembut (putri solo, lakune koyo macan luwe) di gerilya menjadi kota yang suka kekerasan.

5. Gerilya lewat pendidikan juga gencar. Perguruan berbasis taman siswa nasionalis, pluralis dan menjunjung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga di gerilya. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan menjadi manusia.

6. Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luar biasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya, yaitu Hindu. Peranan Walisongo saat itu sebagai alat politis. Semenjak saat itu, kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa.

7. Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instan, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dan seterusnya yang tidak masuk akal.

8. Sampai saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multidimensi). Kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama-sama mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa beserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

Wong Jowo Ojo Ilang Jowone

Bagi masyarakat Jawa tentu sudah tidak asing lagi dengan kalimat “wong jowo ojo ilang jowone”. Jika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “orang jawa jangan hilang jawanya”. Di balik lima kata tersebut tersirat suatu makna. Maknanya, sebagai orang Jawa khususnya umumnya orang Indonesia jangan menghilangkan nilai-nilai budaya. Jadilah orang Jawa sesungguhnya yang lemah lembut, andap asor, cerdas dan harmonis dan bangga berbahasa jawa (Krama).

Kita sebagai warga pribumi harus bangga tinggal di Indonesia yang kaya akan budaya. Ingat perjuangan para pahlawan dulu dalam memperjuangkan kemerdekaan. Jangan mudah terpengaruh dengan budaya asing yang merusak. Cintailah produk-produk dalam negeri. Jadilah manusia modern yang cerdas dan mempertahankan kultur budaya, agar tidak mudah dijajah oleh bangsa asing.

*Penulis merupakan mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, aktif pula di PAC IPPNU Karangdadap

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini