Beranda Opini ENAK DADI WONG APIK: Ketika Kebaikan Jadi Pilihan Hidup

ENAK DADI WONG APIK: Ketika Kebaikan Jadi Pilihan Hidup

0

Oleh: Dr. H. Casrameko, M.Pd.I (Dosen STAIKAP Pekalongan)

Enak dadi wong apik” — sebuah ungkapan yang ringan diucapkan dalam bahasa Jawa, namun mengandung makna yang dalam dan membutuhkan perjuangan untuk merealisasikannya. Apalagi di tengah dunia yang semakin pragmatis dan gaya hidup hedonis dan egosentris, menjadi orang baik kadang terlihat seperti pilihan yang tidak menguntungkan dan banyak kesulitannya. Tapi benarkah begitu?

Enak dadi wong apik” adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang secara harfiah berarti “Enak menjadi orang baik.” Ungkapan ini tidak sekadar menggambarkan kenyamanan atau kenikmatan fisik, tetapi lebih merujuk pada kenyamanan batin, ketenangan hati, dan rasa puas secara moral karena memilih untuk hidup dengan prinsip-prinsip kebaikan.

Ungkapan tersebut memiliki beberapa makna yang mendalam. Pertama, kebaikan sebagai pilihan hidup. Ungkapan ini mengandung makna bahwa menjadi orang baik bukan karena keadaan, tapi karena kesadaran dan pilihan. Meskipun sering kali menghadapi tantangan, menjadi baik itu tetap terasa “enak” karena membawa kedamaian batin.

Kedua, enak yang tidak harus disamakan dengan imbalan duniawi “Enak” di sini bukan berarti selalu mendapat pujian, kekayaan, atau penghargaan. Tapi “enak” karena hati terasa lebih ringan, tidak terbebani oleh rasa bersalah atau kebencian. Ketiga, menjadi orang baik adalah sumber ketenteraman. Jiwa kebaikan membuat hidup seseorang lebih bermakna. Meski tidak selalu dihargai oleh orang lain, namun kebaikan membawa kebahagiaan sejati yang berasal dari dalam diri.

Keempat, paradigma Kebaikan secara Psikologis adalah pendekatan yang memandang kebaikan (goodness) bukan sekadar sebagai norma moral atau ajaran agama, tetapi sebagai bagian integral dari kesehatan mental, kesejahteraan psikologis, dan perkembangan manusia yang optimal. Paradigma ini berkembang dalam ranah psikologi positif, psikologi humanistik, dan ilmu perilaku modern.

Landasan Teoretis dalam Psikologi

Psikologi Humanistik. Tokoh: Carl Rogers, Abraham Maslow

  1. “Setiap manusia lahir dengan benih kebaikan dalam dirinya.” Di balik segala kelemahan dan luka, ada kekuatan alami yang mendorong manusia untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Inilah yang disebut sebagai potensi untuk menjadi baik — sesuatu yang melekat sejak lahir dan terus mencari jalan untuk diwujudkan.
  2. “Kebaikan bukan sekadar pilihan moral, tetapi jalan menuju pemenuhan diri.” Saat seseorang bersikap jujur, peduli, dan membantu sesama, ia tidak hanya membuat dunia menjadi lebih baik — tapi juga sedang melangkah menuju aktualisasi diri: titik tertinggi dalam pertumbuhan psikologis, di mana seseorang hidup selaras dengan nilai-nilai terdalamnya.
  3. “Empati, kasih sayang, dan keaslian hati adalah jembatan menuju hubungan yang sehat dan bermakna.” Dalam dunia yang penuh kepalsuan dan kepentingan, hadirnya relasi yang dibangun atas dasar ketulusan adalah anugerah. Hubungan yang kuat bukan lahir dari kepintaran atau kekuasaan, tapi dari keberanian untuk hadir secara autentik, penuh empati, dan penuh kasih.

Mengapa “Dadi wong apik” itu “enak” ?

Pertama, jadi orang baik itu tidak selalu mudah, tapi penuh arti menjadi orang baik berarti mau mengalah, mau mendengar, dan tidak membalas keburukan dengan kebencian. Memang tidak gampang, karena dunia sering kali memperlakukan orang baik seperti bodoh atau lemah. Tapi sebenarnya, dibutuhkan kekuatan besar untuk tetap bersikap baik di tengah dunia yang keras.

Kedua, kebaikan kembali ke diri sendiri. Secara psikologis, orang yang melakukan kebaikan lebih mudah merasa bahagia. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan sederhana seperti menolong orang lain bisa meningkatkan hormon endorfin — pembawa perasaan senang. Artinya, ketika kita berbuat baik, yang pertama kali merasakan manfaatnya adalah diri kita sendiri. Inilah kenapa “dadi wong apik” itu “enak”, yaitu: hati jadi adem, tidur lebih nyenyak, dan hidup lebih bermakna.

Ketiga, dunia butuh orang baik, bukan yang sempurna tidak ada manusia yang sempurna. Tapi dunia ini butuh lebih banyak orang yang mau berusaha jadi baik. Jadi orang baik bukan berarti tidak pernah salah, tapi punya niat tulus untuk tidak menyakiti dan mau memperbaiki diri. Kebaikan itu menular. Satu senyum, satu pertolongan, bisa jadi pemicu perubahan besar. Jadi, meski kita merasa kebaikan kita tak dihargai, yakinlah bahwa dampaknya tidak pernah sia-sia.

Keempat, enaknya jadi orang baik bukan karena balasan, tapi karena kedamaian. Sebagian orang berkata: “Ngapain baik, nanti dimanfaatin.” Tapi kebaikan sejati tidak berhitung untung-rugi. Kita berbuat baik bukan karena ingin dipuji atau dibalas, tapi karena itu bagian dari nilai yang kita pegang. Orang baik mungkin tidak punya segalanya, tapi dia punya ketenangan batin. Dan itu mahal harganya dan yang menjadi sumber pencapaian segalanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini