Konon, usia tak hanya menyoal angka. Juga bukan semata-mata soal menjadi tua. Akan tetapi, erat kaitan pula dengan daya pikir. Khususnya, dalam melakukan konsentrasi.
Anda boleh percaya, boleh juga mengabaikan. Sebab, perihal itu saya dapatkan dari seorang mentor yang melatih saya menyetir mobil. Mas Ridho, namanya.
Dalam satu sesi latihan, mas Ridho menanyai saya soal usia. Saya jawab, usia saya sudah kepala empat. Seketika mas Ridho terperanjat. Posisi tubuh yang mula-mula agak santai mendadak tegak. Kepalanya pun sedikit mundur dari posisi semula.
Menyaksikan reaksi yang ditunjukkan mas Ridho, saya bertanya-tanya. Mengapa? Ada apa dengan usia segitu? Apakah sudah tidak selayaknya saya belajar menyetir mobil? Ataukah sudah kedaluwarsa?
Pelan-pelan mas Ridho menjelaskan. Ia tata betul kalimat yang akan diucapkannya. Barangkali takut kalau ada ucapan yang menyinggung perasaan saya.
Katanya, “Wah, kalau begitu saya mesti melatih njenengan secara intensif nih, Kang. Selain karena usia sudah kepala empat, njenengan juga mulai dari nol. Njenengan bahkan belum punya dasar mengenai kendaraan berkopling.”
Saya manggut-manggut saja mendengar ucapan itu. Menyimaknya dengan saksama. Agar, saya benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan mentor saya itu.
“Orang seusia njenengan biasanya agak lamban menerima pembelajaran. Khususnya, yang berkenaan dengan apa-apa yang mesti dihafalkan. Selain itu, juga daya konsentrasi,” jelas mas Ridho.
“Oh, begitu?” sela saya. “Lha, terus saya mesti bagaimana supaya saya bisa menyetir? Sebab, bagi saya, saat ini memiliki keterampilan menyetir mobil itu sudah menjadi kebutuhan.”
Mas Ridho menerangkan, “Menyetir mobil itu butuh konsentrasi tinggi, Kang. Kemampuan memainkan tangan, kaki, dan penglihatan menjadi sangat diperlukan. Makanya, konsentrasinya tidak hanya pada apa yang ada di depan. Akan tetapi, samping kiri kanan, belakang, serta bagaimana memainkan tuas persneling, pedal kopling, rem dan gas. Belum lagi spion dan mengatur jarak aman. Seluruhnya membutuhkan konsentrasi.”
Saya sebentar menepikan mobil. Lalu, menyimak pembelajaran yang diberikan mas Ridho. Bagi saya, ini pelajaran penting yang benar-benar harus saya simak.
“Nah, persoalannya, rata-rata orang seusia njenengan itu agak kesulitan untuk berbagi konsentrasi semacam itu, Kang. Mungkin karena cara berpikir orang seusia njenengan sudah sangat kompleks. Apalagi dengan kesibukan yang padat seperti njenengan,” ucapnya.
“Mas Ridho pernah melatih orang seusia saya atau lebih tua lagi?” tanya saya menyela.
Ia hanya menggeleng kepala pelan sambil melanjutkan penjelasannya, “Ya, ini sebatas jaga-jaga saja sih, Kang. Sebagai pengetahuan buat njenengan. Tetapi, bagi saya, mengajari njenengan menyetir mobil adalah sebuah tantangan, Kang. Makanya, saya mesti menyiapkan metode yang agak berbeda.”
“Wah, ini namanya diskriminatif nih?!” canda saya.
“Bukan. Ini namanya proporsional, Kang. Kalau diskriminatif, saya tentu akan menolak permintaan njenengan mengajari setir mobil, Kang,” balasnya dengan canda pula.
Kami lantas tertawa bareng. Membiarkan pembicaraan kami terjeda sejenak, sembari membuat suasana mencair lagi.
“Gini, Kang. Ada kunci yang mesti saya sampaikan ke njenengan. Bahwa, selama menyetir mobil yang njenengan mesti pikirkan adalah mobil ini merupakan bagian dari njenengan. Mobil ini adalah tubuh njenengan sendiri. Maka, njenengan mesti kenali betul apa-apa yang ada di dalamnya,” katanya.
“Semacam persenyawaan, begitu?” tanya saya.
“Ya. Mobil yang njenengan kendarai ini adalah diri sendiri. Bukan bagian atau bahkan sesuatu yang lain dari njenengan,” terangnya.
“Mengapa?”
“Karena selain konsentrasi, njenengan membutuhkan rasa percaya diri. Terutama, saat mengaspal di jalan raya. Lebih-lebih saat di jalan sempit,” katanya.
Saya tertegun atas penjelasan mas Ridho yang bahasanya lumayan metaforis itu. Padahal, ia lulusan matematika. Tetapi, dari cara ia menjelaskan, membuat saya berpikir betapa sesungguhnya matematika dan bahasa adalah sebuah dua ilmu yang berjalan beriringan.
Selintas, saya teringat pada seorang kawan yang ahli matematika, khususnya di bidang ilmu pengukuran. Muhammad Ali Gunawan, namanya. Beberapa kali kami melangsungkan diskusi menyoal filsafat, bahasa, matematika, serta ilmu-ilmu lain, juga masalah-masalah kebudayaan. Catatan diskusi itu pernah dimuat di kompasiana.com.
Balik lagi ke persoalan awal. Mengenai hubungan umur dan daya pikir. Khususnya, dalam urusan kemampuan berkonsentrasi.
Mas Ridho kemudian menerangkan lebih gamblang mengenai bagaimana kondisi jalanan akan berpengaruh pada psikis seseorang. Khususnya, seorang sopir. “Orang yang awam bisa saja kena mental hanya karena mendengar bunyi klakson. Mengapa bisa begitu? Sebenarnya, itu disebabkan oleh kondisi mental kita yang bisa saja belum siap. Kita nggak punya cukup nyali untuk mengaspal. Ketika gangguan itu memengaruhi mental, maka sulit bagi kita untuk mengendalikan diri dan berkonsentrasi,” terangnya.
“Makanya, urusan teknis bagi seorang pemula seperti njenengan harus tuntas. Harus selesai. Sehingga, njenengan tinggal memainkan peran sebagai seorang yang memiliki rasa percaya diri. Tetapi, saya yakin, njenengan mampulah untuk urusan nyali. Apalagi pengalaman njenengan di atas pentas sudah banyak. Anggap saja, jalanan saat ini adalah panggung njenengan,” pungkasnya sebelum akhirnya saya kembali berlatih.
Ah, rasanya malam itu saya mendapatkan banyak pelajaran dari mas Ridho. Bahwa, di dunia ini masalah mental menjadi penting. Tetapi, untuk membuat mental itu terbangun, masalah-masalah teknis harus sudah selesai.
Pelajaran itu membuat saya berpikir, bahwa dalam segala urusan kehidupan, mental menjadi persoalan yang tidak bisa disepelekan. Seorang sarjana, boleh saja lulus dengan IPK tinggi. Memiliki berbagai macam kecakapan. Bahkan, menguasai berbagai bidang ilmu.
Akan tetapi, jika mental tidak punya, ia bisa sangat mungkin akan terjebak dalam rasa kecewa yang teramat dalam. Sebab, ia bisa saja punya penilaian yang buruk terhadap kenyataan hidup. Menganggap, bahwa kenyataan tidak seindah yang dibayangkan dalam ilmu-ilmu yang pernah ia pelajari. Lantas, merasa bahwa ilmu itu sia-sia belaka.
Namun sesungguhnya, ia hanya lupa, bahwa untuk membuat ilmu menjadi pusaka, maka ia perlu menguji dirinya di dalam menggunakan ilmu itu. Bukan sekadar menopengi diri dengan gelar-gelar akademik ataupun bersembunyi di balik jubah kesarjanaannya. Ia mesti menjalani hidup sebagai manusia. Bukan sebagai gelarnya.





