Beranda Opini Dakwah dan Gen Z: Ketika Pesan Keagamaan Berhadapan dengan Cara Berpikir Baru

Dakwah dan Gen Z: Ketika Pesan Keagamaan Berhadapan dengan Cara Berpikir Baru

0
sumber foto: pexels.com

Oleh: Teuku Zikril Hakim. S. Sos.*)

Suatu sore di sebuah warung kopi di Banda Aceh, saya mendengar percakapan beberapa mahasiswa. Topiknya beragam, mulai dari musik, pekerjaan sampingan, media sosial hingga akhirnya menyentuh soal agama. Bukan dengan nada sinis, bukan pula dengan penolakan. Yang muncul justru kebingungan. “Bukan Islamnya yang berat,” kata salah satu dari mereka, “tapi cara ngomongnya yang bikin jauh.” Kalimat sederhana itu, bagi saya, merangkum persoalan besar dakwah hari ini.

Generasi Z tumbuh dalam dunia yang bergerak cepat. Mereka lahir ketika internet sudah menjadi kebutuhan primer, ketika media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan ruang pembentukan identitas. Di Aceh, mereka hidup di antara kuatnya identitas keislaman dan derasnya arus global. Dakwah pun mau tidak mau berhadapan dengan cara berpikir baru: lebih kritis, lebih dialogis, dan alergi terhadap nada menghakimi.

Secara demografis, Gen Z bukan kelompok kecil. Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 mencatat lebih dari seperempat penduduk Indonesia berasal dari generasi ini. Mereka adalah calon pemimpin, pengambil keputusan, dan pewaris nilai keagamaan di masa depan. Namun, realitasnya, banyak forum dakwah justru terasa sunyi dari wajah-wajah muda. Bukan karena mereka menjauh dari agama, melainkan karena agama sering datang dengan bahasa yang tidak mereka kenali.

Dalam ilmu komunikasi, ini bukan hal baru. Everett M. Rogers pernah menegaskan bahwa sebuah gagasan, sebaik apa pun isinya, tidak akan diterima jika gagal menyesuaikan diri dengan karakter penerimanya. Dakwah, dalam konteks ini, bukan soal benar atau salahnya pesan, tetapi soal apakah pesan itu mampu menyapa pengalaman hidup audiensnya. Gen Z tidak menolak nasihat; mereka hanya ingin diperlakukan sebagai subjek yang diajak berbicara, bukan objek yang dihakimi.

Masalahnya, dakwah kita kerap terjebak dalam pola lama: satu arah, penuh penegasan, minim empati. Di ruang-ruang tertentu, dakwah bahkan berubah menjadi instrumen kontrol sosial. Di Aceh, ini terasa lebih kompleks. Syariat Islam yang seharusnya menjadi jalan pembinaan spiritual kadang tampil sebagai wajah otoritas. Akibatnya, sebagian anak muda melihat dakwah bukan sebagai pelukan, melainkan sebagai sorotan lampu yang siap mencari salah.

Marshall McLuhan pernah mengatakan, the medium is the message. Cara kita menyampaikan pesan sering kali lebih berpengaruh daripada isi pesan itu sendiri. Gen Z hidup dalam budaya visual, singkat, dan interaktif. Mereka terbiasa dengan cerita, bukan ceramah panjang. Ketika dakwah hadir dengan gaya yang kaku, tanpa ruang dialog, pesan agama yang luhur pun terdengar asing.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan dakwah yang kasar. Al-Qur’an mengingatkan agar seruan kebaikan dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik. Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid pernah menulis bahwa dakwah sejatinya menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang membebaskan dan mencerahkan. Bukan menekan, apalagi menakutkan. Pesan ini terasa relevan ketika berhadapan dengan Gen Z yang sangat peka terhadap isu kebebasan, keadilan, dan kejujuran.

Gen Z tidak antiagama. Mereka justru aktif mencari makna. Laporan Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa generasi muda lebih percaya pada figur yang mereka rasa dekat secara emosional, banyak di antaranya hadir di media sosial. Di sana, dakwah tampil dengan wajah yang lebih manusiawi: berbentuk cerita, refleksi personal, bahkan pengakuan akan kegagalan diri. Bagi Gen Z, kejujuran semacam ini jauh lebih menyentuh daripada klaim moral yang sempurna.

Jurgen Habermas, seorang filsuf komunikasi, menekankan pentingnya tindakan komunikatif—komunikasi yang setara, terbuka, dan rasional. Jika dakwah ingin tetap hidup di tengah generasi baru, ia harus berani turun dari mimbar yang terlalu tinggi dan duduk sejajar dengan audiensnya. Mendengar sebelum berbicara. Memahami sebelum menilai.

Quraish Shihab pernah mengatakan bahwa keberhasilan dakwah terletak pada pemahaman terhadap manusia sebelum berbicara tentang Tuhan. Kalimat ini sederhana, tetapi dalam. Gen Z ingin dipahami kegelisahannya: tentang masa depan yang tidak pasti, tekanan sosial, hingga pencarian jati diri. Dakwah yang mengabaikan realitas ini akan terdengar seperti suara asing di tengah keramaian.

Pada akhirnya, dakwah dan Gen Z bukan dua dunia yang bertentangan. Keduanya hanya dipisahkan oleh jarak cara berkomunikasi. Ketika dakwah mampu hadir sebagai cerita yang hangat, dialog yang jujur, dan nasihat yang manusiawi, Gen Z tidak akan menjauh. Mereka justru akan datang, bukan karena dipaksa, tetapi karena merasa pulang.

Mungkin, dakwah hari ini tidak lagi cukup bertanya, “Apa yang harus disampaikan?” tetapi lebih dalam lagi, “Bagaimana caranya agar pesan itu terasa seperti milik mereka?

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini