Pemalang – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pemalang menyalurkan donasi bantuan bagi korban bencana alam banjir bandang di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Rabu (28/1/2026). Selain menyalurkan bantuan logistik kebutuhan sehari-hari, PMII Pemalang juga menggelar kegiatan hiburan dan trauma healing untuk anak-anak yang terdampak bencana. Kegiatan tersebut mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari masyarakat setempat.
Banjir bandang yang melanda wilayah Pemalang bagian selatan, khususnya Desa Penakir dan sekitarnya, menyebabkan kerusakan cukup parah. Sejumlah rumah warga, bangunan sekolah dan madrasah, lahan perkebunan, hingga jembatan sebagai akses utama mobilitas masyarakat terdampak dan mengalami kerusakan. Akibatnya, aktivitas keseharian warga terganggu, termasuk kegiatan belajar mengajar anak-anak.
Berdasarkan hasil observasi di lokasi terdampak, proses pembelajaran tatap muka di sekolah untuk sementara waktu ditiadakan dan diganti dengan pembelajaran dari rumah masing-masing siswa. Kondisi tersebut turut memengaruhi psikologis anak-anak yang mengalami trauma pascabencana.
Peristiwa banjir bandang ini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas, lembaga sosial, hingga relawan yang turut berpartisipasi membantu para korban. Merespons kondisi tersebut, PMII Kabupaten Pemalang sebelumnya menggelar konser amal dan penggalangan dana sebagai upaya membuka ruang kepedulian publik untuk membantu masyarakat terdampak.
Ketua PMII Kabupaten Pemalang, Sulaiman, menyampaikan bahwa bencana banjir bandang yang terjadi kali ini memiliki dampak luar biasa dan tidak seperti kejadian sebelumnya, sehingga perlu penanganan dari berbagai aspek, termasuk aspek psikologis anak-anak.
“Bencana alam yang terjadi di wilayah Pulosari dan sekitarnya tidak seperti biasanya, dan dampaknya sangat luar biasa. Kita harus memikirkan kondisi korban dari berbagai aspek, terutama kesehatan, kebutuhan pokok, dan mental anak-anak yang mengalami trauma. Karena itu, selain menyalurkan bantuan logistik, kami juga memberikan hiburan kepada anak-anak dengan tujuan menghilangkan trauma dan mengembalikan semangat mereka,” ujar Sulaiman.
Bantuan yang disalurkan diharapkan dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Sementara itu, kegiatan trauma healing dilakukan melalui berbagai aktivitas edukatif dan hiburan, seperti ice breaking, permainan tebak-tebakan, pemberian hadiah berupa roti dan susu, doa bersama, serta penyampaian pesan-pesan motivasi oleh kader PMII. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu anak-anak kembali bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Slamet Masrukhi, selaku salah satu koordinator posko bencana Desa Penakir, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah peduli, khususnya kepada PMII Kabupaten Pemalang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan teman-teman PMII yang telah berkunjung dan menyalurkan donasi bantuan. Kehadiran teman-teman di sini sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa banjir bandang yang terjadi bukan disebabkan oleh aktivitas penebangan hutan, melainkan faktor alam.
“Banjir bandang ini bermula dari tanah longsor di lereng Gunung Slamet yang menggugurkan banyak pepohonan. Material berupa tanah, pasir, bebatuan, dan kayu terbawa ke aliran sungai dan menumpuk di jembatan, sehingga menyumbat aliran air. Ditambah curah hujan yang tinggi, air akhirnya meluap dan terjadilah banjir bandang,” jelasnya.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh lapisan masyarakat, baik yang terdampak maupun tidak terdampak, khususnya bagi kader PMII Kabupaten Pemalang. Pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana perlu ditanamkan sebelum dan sesudah kejadian, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan harus terus diperkuat.
Melalui kegiatan penyaluran donasi dan trauma healing bagi anak-anak, PMII Kabupaten Pemalang menunjukkan komitmennya dalam menumbuhkan nilai kepedulian kemanusiaan, khususnya bagi generasi muda sebagai harapan emas masa depan.
Editor: Anwar





