Beranda Opini Prestasi, Ketika Proses dan Dampak Lebih Penting dari Angka

Prestasi, Ketika Proses dan Dampak Lebih Penting dari Angka

0

Oleh: Rini Lestari*)

Hingga saat ini, tolak ukur prestasi masih sering disamakan dari tingginya nilai akademis. Sehingga orang sering beraggapan bahwa anak yang memiliki nilai akademis tinggi adalah anak yang cerdas dan berprestasi. Sebaliknya, anak yang nilainya standar atau biasa-biasa saja adalah bodoh dan pemalas. Ironisnya, banyak sekali anak muda yang memiliki potensi tinggi dan keterampilan luar biasa di berbagai bidang, mirisnya hanya dianggap sebagai hobi bukan prestasi.

Di salah satu SD di kabupaten OKU Timur, Sumsel. Masih ada anak yang dikucilkan hanya karena dianggap tidak pintar. Padahal anak tersebut memiliki prestasi di bidang olahraga. Namun sangat disayangkan hal tersebut dipandang sebelah mata oleh gurunya. Sehingga ia dikucilkan oleh teman-temannya bahkan kehilangan rasa percaya diri.

Prestasi tidak seharusnya diukur dari banyaknya piala atau piagam yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa besar usaha, motivasi dan ketulusan seseorang dalam meraih tujuan. Di balik setiap keberhasilan, selalu ada kerja keras, semangat pantang menyerah, serta keberanian untuk bangkit dari kegagalan. Ironisnya, di tengah budaya yang sering menilai sukses dari simbol penghargaan, makna perjuangan dan proses belajar justru sering diabaikan. Padahal, nilai tertinggi dari sebuah prestasi bukanlah logam berlapis emas atau secarik kertas bertinta, melainkan tekad, kejujuran, dan semangat untuk terus berkembang tanpa henti.

Prestasi Tidak Butuh Nilai Yang Tinggi

Dikutip dari SIMT (Sistem Informasi Manajemen Talenta) dibawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Tercatat lebih dari 64.000 prestasi anak Indonesia (akademis & non-akademis) per awal 2024. Hal ini membuktikan bahwa prestasi tidak hanya dinilai dari angka.

Terlepas dari fenomena tersebut, banyak prestasi yang luput dari pandangan masyarakat. Seorang ibu yang merawat keluarganya dengan penuh kasih sayang, bahkan balita yang baru bisa berjalan juga sebuah prestasi. Ini hanya masalah sudut pandang orang menilai arti sebuah prestasi. Prestasi juga bisa disalurkan melalui hobi yang terus diasah, pengetahuan yang luas, dan juga kemampuan menyatakan pendapat.

Susi Pudjiastuti adalah pengusaha sukses Indonesia yang dikenal sebagai pendiri Susi Air dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Secara akademik, meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formal tingkat menengah, Susi Pudjiastuti membuktikan bahwa pengalaman, ketekunan, dan keberanian mengabil resiko dapat melahirkan prestasi besar.

Peran orang tua sebagai pendukung utama seharusnya sadar dengan potensi yang dimiliki anak mereka. Orang tua harus menanamkan niat yang tulus dalam hati anak ketika mereka melakukan suatu usaha, selalu memberi semangat dalam hal yang baik, membantu anak untuk menemukan jati diri dan potensi apa yang mereka punya. Bukan hanya berfokus pada bagaimana cara anak mendapat nilai tinggi di sekolah ataupun seberapa banyak penghargaan yang harus didapat.

Ironisnya, bukan hanya orang tua tetapi juga ada beberapa guru yang memandang sebelah mata siswa yang tidak menguasai bidang akademis. Mereka hanya fokus dengan pendidikan siswa yang dinilai pintar sehingga siswa yang nilai akademisnya rendah hanya dibiarkan tidak berkembang. Padahal, siswa tersebut pasti memiliki potensi dalam dirinya dibidang lain. Fungsi pendidikan sebagai pembentuk karakter di sini sangat diperlukan agar siswa bisa menemukan potensi diri mereka di bidang yang mereka bisa kuasai.

Dalam kajian psikologi pendidikan, sikap diskriminatif dalam belajar diketahui dapat berdampak pada menurunnya rasa percaya diri dan motivasi belajar peserta didik. Dengan demikian, guru harus memiliki kesadaran penuh serta bisa bertindak adil dalam mendidik anak di sekolah.

Mengapa Proses Itu Penting?

Najwa Shihab, seorang jurnalis dan tokoh publik Indonesia, dalam berbagai forum pendidikan sering menekankan bahwa prestasi tidak semata-mata diukur dari nilai akademik, melainkan dari proses, keberanian, dan kontribusi seseorang bagi lingkungannya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa apresiasi seharusnya tidak hanya diberikan pada hasil akhir, tetapi juga pada proses panjang yang dijalani seseorang. Ketika usaha dihargai, semangat dan motivasi untuk berkembang akan tumbuh lebih kuat.

Bentuk apresiasi pun tidak selalu berupa penghargaan besar namun ucapan tulus, dukungan moral, atau perhatian kecil pun mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Tentu, semangat berusaha tidak muncul begitu saja; ia dibentuk oleh lingkungan keluarga yang mendukung, suasana sosial yang positif, serta sistem pendidikan yang menghargai proses, bukan semata-mata hasil.

Setiap orang harus berusaha menciptakan potensi diri melalui proses yang tidak mudah tentunya. Belajar menghargai waktu, usaha dan setiap langkah yang dilalui. Bukan untuk menjadi hebat tetapi menjadi bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Dengan demikian, prestasi bukanlah dilihat dari seberapa cepat kamu memperoleh sesuatu. Tetapi seberapa besar keberanian dan proses untuk memperoleh sesuatu itu. Yakin bahwa diri kita bisa dan tidak akan menyerah.

Thomas A. Edison dikenal sebagai ilmuan dari Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 1.000 hak paten dari temuannya. Seorang yang tidak mengenal rasa putus asa dan selalu belajar dari kegagalan untuk meraih kesuksesannya. Thomas pernah mengutipkan seuntai kalimat di beberapa bukunya yaitu:

“I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work”. Artinya saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil”.

Terus berusaha melewati rintangan meskipun mengalami banyak kegagalan. Dengan begitu kita akan lebih memahami arti ketekunan dan makna perjuangan. Setiap kegagalan akan menjadi batu pijakan untuk menjadi lebih baik lagi. Belajar dari kesalahan dan menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Percaya pada proses, sebab usaha tidak akan menghianati hasil. Tidak seorang pun merasakan kesuksesan sebelum mengalami kegagalan. Karena kesuksesan adalah buah dari beribu kegagalan.

*)Mahasiswa Universitas Nurul Huda

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini