
Jarum pendek jam dinding menunjuk angka 10. Jarum panjangnya menunjuk angka 12. Waktunya saya harus berangkat. Menuju kampus yang letaknya tak jauh dari kantor. Kira-kira hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki.
Sayang, siang itu saya tak di kantor. Saya mesti bertolak dari rumah yang jaraknya dengan kampus 3 kilometer. Jika ditempuh dengan sepeda motor, butuh waktu 6 menit. Itu pun kalau jalanan lancar.
Biasanya, di perempatan Grogolan yang berpotongan dengan jalur Pantura Kota Pekalongan lalu lintas kerap macet. Jalanan penuh kendaraan. Sementara, durasi nyala lampu hijau di perempatan itu tak lebih dari satu menit. Membuat para pengguna jalan saling berebut jalan. Maka, perjalanan pun bisa lebih lama dari waktu yang diestimasikan google maps.
Akan tetapi, saya memilih mengendarai mobil. Cuaca hujan yang masih membayangi Kota Pekalongan menjadi alasan saya. Lain dari itu, saya tak ingin sampai di kampus dalam keadaan basah kuyup. Akan terlihat konyol jika hal itu terjadi. Apalagi saya mesti masuk kelas dan menjumpai mahasiswa.
Untunglah, siang itu tak hujan. Perjalanan juga agak lancar. Terutama, saat melintasi jalur pantura.
Di tengah perjalanan, sebuah notifikasi muncul di hp andorid bikinan China. Sebuah pesan singkat yang dikirim via WhatsApp saya terima. Isinya, pemberitahuan tentang pengunduran jam kuliah. Semula, dijadwalkan pukul 11 siang. Oleh karena mahasiswa sudah masuk kelas sejak pagi, maka kuliah diundur pada pukul 13.00.
Apa boleh buat, saya yang kadung menempuh perjalanan menuju kampus akhirnya mesti membelokkan setir. Yang mula-mula hendak ke kampus, mesti saya belokkan menuju kantor. Setidaknya, saya akan mudah memarkir mobil di halaman kantor daripada di tempat lain.
Maklum, bisa dikatakan hampir seluruh ruas jalan yang saya lalui tidak cukup punya ruang untuk memarkir mobil. Selain karena ramai dan sempit, juga dikarenakan penggunaan bahu jalan untuk jualan.
Sembari menunggu waktu yang telah dijadwalkan, saya pun mengerjakan hal-hal kecil di kantor. Menyiapkan materi untuk siaran sore, berdiskusi kecil dengan beberapa kawan, dan tentu saja mengisi perut agar tidak kosong. Begitu mendekati jam yang ditentukan, saya segera meluncur ke kampus.
Saya tak sendirian. Ada kawan baik yang ikut menemani. Dia pula yang kemudian mendokumentasikan aktivitas saya di kampus. Namanya, Om Han.
Sampai di kampus kami sebentar duduk-duduk di lobi. Menunggu teman saya yang dosen. Sebab, kedatangan saya di kampus juga atas permintaan beliau. Saya diminta mengajar sebagai dosen tamu di kampus untuk mata kuliah Jurnalistik.
Alasan beliau meminta saya menjadi dosen tamu, tidak lain karena saya bekerja di media pemberitaan. Lain dari itu, media tempat saya bekerja juga sudah memiliki hubungan kerja sama. Dengan kata lain, langkah itu sekaligus sebagai upaya memperkuat hubungan kerja sama tersebut.
Tetapi, saya punya alasan sendiri. Mengapa saya menyanggupi permintaan itu. Pertama, saya benar-benar ingin membantu kawan saya yang dosen sekaligus kaprodi itu untuk mengembangkan kampus. Itu sudah menjadi komitmen saya sejak lama.
Kedua, saya merasa perlu menyampaikan beberapa gagasan tentang jurnalistik. Sebab, yang saya tahu, perkuliahan jurnalistik di kampus, khususnya di luar program studi ilmu komunikasi dan jurnalistik, agaknya masih perlu dioptimalkan. Diakui atau tidak, perkuliahan jurnalistik yang dilakukan masih sebatas pada materi-materi dasar yang sifatnya sangat teknis. Bahkan, materi itu cenderung mengulang dari pembelajaran di bangku sekolah. Seperti prinsip 5W + 1H, teknik wawancara, cover both side, dan teknik penulisan karya jurnalistik. Akan tetapi, materi-materi ini disampaikan dengan cara yang cenderung “disederhanakan”, belum menyentuh pada perihal yang esensial.
Sementara, pemahaman mendasar tentang hakikat jurnalistik dan bagaimana menerapkan prinsip filosofis jurnalistik agaknya belum tersentuh. Mengapa? Sebab, saya tahu, di kampus yang saya datangi itu belum ada tenaga pengajar yang cukup menguasai jurnalistik. Setidaknya, punya pengalaman dan pemahaman mendalam mengenai jurnalistik.
Dan, alasan ketiga, sebagai sarana saya untuk menguatkan silaturahmi intelektual. Hubungan antara dunia kampus dengan dunia intelektual di luar kampus. Ya, pekerjaan sebagai jurnalis pada hakikatnya merupakan kerja intelektual. Seorang jurnalis tak sekadar mencatat peristiwa sebagai berita, melainkan pula harus mampu melakukan serangkaian penelusuran yang tajam pada setiap peristiwa. Bekal pengetahuan, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan melakukan analisis data mesti menjadi pegangan bagi jurnalis.
Tersebab itu, saya sangat ingin mengajarkan hal itu kepada mahasiswa. Walau begitu, mesti saya akui, pengalaman saya di dunia jurnalistik boleh dibilang belum cukup panjang. Sampai saat ini saya masih terus belajar dan berupaya memperdalam pemahaman saya tentang jurnalistik.
Nah, lewat mengajarkan apa yang menjadi pengalaman dan pemahaman itu, saya punya kesempatan dan peluang untuk dapat lebih belajar. Minimal, saya kembali membuka halaman-halaman banyak buku, membacanya secara saksama. Bukan sekadar untuk dijadikan bahan materi perkuliahan, melainkan pula sebagai pemicu otak agar bekerja lebih ekstra di dalam memahami hakikat jurnalistik hingga ke akar-akarnya.
Kawan dosen yang saya tunggu tiba. Saya dan Om Han menyambutnya. Tanpa basa-basi yang berlarut, kami digiring segera menuju ruang kelas.
Di kelas, Ibu dosen yang cantik dan bersahaja itu memperkenalkan saya kepada mahasiswa. Ia menyebut bermacam-macam atribut yang kadung disematkan kepada saya. Tentu, saya juga merasa tersanjung. Akan tetapi, saya tak ingin terlampau tinggi terbang dibuatnya.
Lepas itu, ia menyerahkan kelas pada saya. Segera, saya mulai perkuliahan. Saat itu, saya mengawali perkuliahan dengan pertanyaan. Terutama, menyoal apa itu jurnalistik.
Saya asungkan beberapa istilah yang kesannya semakna. Lantas, saya lontarkan pertanyaan kepada mahasiswa untuk menjajaki pikiran mereka. Apakah sudah memahami atau sama sekali tak mengerti.
Saat itu, kelas mendadak senyap. Saat itu, saya menangkap kesan kebingungan pada wajah-wajah mahasiswa. Mungkin, mereka tak terbiasa dengan pola yang saya mainkan, pikir saya saat itu. Akan tetapi, saya juga menjadi curiga, jangan-jangan mereka tak cukup punya referensi mengenai pertanyaan saya itu.
Padahal, pertanyaan yang saya ajukan tergolong sederhana. Saya hanya meminta mahasiswa mengenali perbedaan antara jurnalistik, jurnalisme, jurnalis, media, dan pers. Istilah-istilah yang sangat mendasar.
Lalu, sekadar memecah keheningan, saya terpaksa menunjuk beberapa mahasiswa untuk mengungkapkan pikirannya. Itu pun atas saran bu dosen. Katanya, “Kalau nggak ditunjuk kelas akan sepi, Kang.”
Acak saya menyebut nama yang tertera pada daftar hadir. Satu per satu mereka bersuara. Akan tetapi, jawaban mereka masih berupa kopian dari hasil telusur pada gawai yang mereka kantongi. Mereka hanya membacakan hasil telusur itu.
Saya tak memasalahkan perihal itu. Namanya juga masih tahap belajar. Hanya, ekspektasi saya kala itu mahasiswa punya cukup keberanian mengutarakan pemahamannya. Salah pun tak jadi soal, sebenarnya. Sebab, saya pun tidak akan mendiamkan. Saya akan menyampaikan koreksi atas kesalahan itu.
Dari sini, saya lantas mencoba mengerti, betapa belajar yang sebenar-benarnya bukanlah hal mudah. Terutama, manakala pikiran seseorang masih diliputi perasaan takut atas kesalahan. Padahal, ruang belajar membuka peluang untuk kesalahan. Justru dari kesalahan pula seseorang pada akhirnya akan mendapatkan pelajaran berharga. Yaitu, bagaimana kemudian ia memiliki kemampuan untuk menerima kesalahan itu dan mengoreksi kesalahan itu secara bersama-sama, antara dosen dan mahasiswa.
Upaya bersama-sama di dalam menjalankan koreksi inilah yang memberi kesempatan bagi semua untuk berdialektika. Tidak menutup kemungkinan, dialektika yang dijalankan akan pula memberi respons dan mungkin juga koreksi atas hal-hal yang kadung dianggap benar. Sehingga, memungkinkan bagi pengertian baru.
Dengan kata lain, perkuliahan mestinya memberi ruang terbuka bagi usaha-usaha pikiran untuk membedah bahkan menggugat apa-apa yang telah dianggap sebagai patron. Menggugat logosentrisme. Di saat itu, budaya akademik akan menjadi sebuah kolam yang asyik untuk direnangi. Cair dan menyegarkan. Bangku perkuliahan punya peluang untuk menjadi ruang bagi pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sekadar menjadi ajang transfer pengetahuan yang sifatnya cenderung deduktif.
Tentu, agar mencapai penciptaan ruang yang demikian, banyak hal yang memang perlu dipersiapkan. Salah satunya, ketercukupan sarana pendukung bagi terciptanya budaya literasi yang mumpuni. Ah, rasanya ingin sekali saya kembali ke kampus. Mungkinkah?




