Oleh: Fatkhuddin
Langit di atas Desa Samborejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan mungkin sedang muram, dan tanah dibawahnya telah hilang ditelan genangan. Namun, bagi KH. Ahmad Rifa’i, Rois Syuriah MWCNU Tirto, air yang mengepung rumahnya bukanlah alasan untuk kehilangan ketenangan.
Sore itu, beliau tidak memilih untuk mengurung diri di dalam rumah yang lembap. Sebaliknya, dengan kain sarung batik dan topi bisbol yang kokoh, beliau melangkah ke pelataran. Di sana, di antara riak air yang keruh, terdapat beberapa bongkah batu yang masih setia menyembul ke permukaan. Di sanalah beliau duduk—seolah-olah sedang berada di atas singgasana yang dikirimkan alam untuknya.
Menyimak “Bahasa” Alam
Duduknya beliau bukan sekadar melepas lelah. Ada pancaran ketabahan (sabar) dan keridhaan (rida) yang dalam dari gestur tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan, menyapu pemandangan desa yang sedang berjuang melawan banjir tahunan.
Bagi seorang kiai, banjir bukan sekadar bencana hidrologi, melainkan sebuah “pesan” yang harus dibaca dengan mata batin. Beliau seakan sedang menunjukkan kepada warga Samborejo bahwa: Ketenangan adalah kunci: Meski lingkungan kacau, hati harus tetap seperti air yang tenang di kedalaman.
Kedekatan dengan Rakyat: Beliau tidak mengungsi ke tempat mewah; beliau tetap berada di sana, merasakan dingin yang sama dengan yang dirasakan santri dan tetangganya.
Simbol Keteguhan NU
Foto ini menjadi potret hidup tentang filosofi Nahdlatul Ulama di akar rumput. Seorang pemimpin yang tidak berjarak dengan realitas. Di tengah kepungan banjir Tirto yang seringkali datang tanpa permisi, KH. Ahmad Rifa’i tetap menjadi “meru”, menjadi titik diam yang memberikan rasa aman bagi mereka yang melihatnya.
Saat air merendam fondasi bangunan, beliau mengingatkan kita bahwa ada satu hal yang tidak boleh ikut terendam: iman dan harapan.
“Banjir mungkin bisa merendam kaki, tapi jangan sampai ia merendam semangat untuk tetap tegak berdiri.”





