Pekalongan – Desa Samborejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, tengah menghadapi krisis air bersih yang berkepanjangan akibat buruknya manajemen pengelolaan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Keluhan warga yang membutuhkan pasokan air bersih sering kali diabaikan oleh pengurus yang mengelola Pamsimas secara individu, tanpa struktur kelembagaan yang jelas.
Kondisi ini diperburuk dengan minimnya komitmen dari pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk menyelesaikan persoalan. Kepala Desa Samborejo bersama perangkatnya terkesan pasif, meskipun masyarakat terus mendesak agar masalah ini segera ditangani. “Kami sudah berkali-kali melapor ke pengurus, tetapi tidak ada tanggapan. Air bersih yang menjadi kebutuhan utama seolah diabaikan,” ujar salah satu warga.
Sementara itu, anak-anak dan orang dewasa harus mengangkut air dengan jerigen di bawah terik matahari. Mereka harus mengangsu air di masjid, para pedagang kecil tidak bisa berjualan dan harus meluangkan waktunya. Situasi ini menggambarkan betapa sulitnya kehidupan warga yang bergantung pada sumber air bersih yang kian terbatas.

Keadaan ini menjadi sorotan karena Pamsimas, yang seharusnya memberikan solusi untuk ketersediaan air bersih, justru terjebak dalam pengelolaan yang tidak transparan dan tidak akuntabel. Diperlukan langkah nyata dari pihak desa, BPD, dan pemerintah daerah untuk menyusun ulang sistem pengelolaan, termasuk memperkuat struktur kelembagaan dan melakukan pengawasan ketat.
Kelangkaan air bersih ini menjadi pengingat pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, lembaga pengelola, dan masyarakat untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Jika tidak segera ditangani, krisis ini dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan warga Desa Samborejo secara keseluruhan.
Pengirim: Ali Gunawan
Editor: K. Anwar





