Oleh: Dr. Moh. Nasrudin, M.Pd.I (Ketua PC ISNU Kab. Pekalongan)
Indonesia Emas 2045, sebuah visi yang dicanangkan sebagai tonggak sejarah satu abad kemerdekaan, membangkitkan perdebatan sengit antara optimisme dan pesimisme. Optimisme berakar pada potensi sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, dan kemajuan teknologi. Namun, pesimisme muncul dari tantangan kompleks seperti ketimpangan ekonomi, korupsi, dan perubahan iklim. Diskursus ini bukan sekadar peramalan, tetapi refleksi kritis terhadap arah pembangunan bangsa.
Optimisme Indonesia Emas 2045 bertumpu pada beberapa pilar. Pertama, kekayaan alam yang melimpah, dari mineral hingga energi terbarukan, menjadi modal penting. Kedua, bonus demografi dengan dominasi usia produktif menawarkan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Ketiga, perkembangan teknologi digital membuka ruang inovasi dan efisiensi di berbagai sektor. Keempat, pembangunan infrastruktur yang masif meningkatkan konektivitas dan daya saing. Pilar-pilar ini, jika dikelola dengan bijak, dapat mengakselerasi pencapaian visi 2045.
Namun, pesimisme menghantui perjalanan menuju 2045. Tantangan struktural seperti ketimpangan ekonomi yang melebar, kemiskinan yang persisten, dan pengangguran yang tinggi menjadi hambatan serius. Korupsi yang merajalela menggerogoti kepercayaan publik dan menghambat investasi. Perubahan iklim mengancam sektor pertanian dan pesisir, berpotensi memicu krisis pangan dan pengungsian. Selain itu, polarisasi politik dan intoleransi dapat mengganggu stabilitas nasional.
Sumber daya manusia (SDM) menjadi titik krusial dalam perdebatan ini. Optimisme muncul dari potensi generasi muda yang kreatif dan adaptif. Namun, pesimisme muncul dari kualitas pendidikan yang belum merata, masalah kesehatan seperti stunting, dan kesenjangan keterampilan. Upaya peningkatan kualitas SDM harus menjadi prioritas utama, mencakup pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan pengembangan karakter.
Menghadapi dilema ini, jalan tengah yang realistis adalah kunci. Optimisme harus diimbangi dengan kewaspadaan, dan pesimisme harus diatasi dengan aksi nyata. Strategi pembangunan harus inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada hasil. Tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel menjadi prasyarat. Investasi pada inovasi dan teknologi harus diprioritaskan. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil menjadi esensial.
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, tetapi visi yang harus diwujudkan dengan kerja keras dan kolaborasi. Setiap warga negara memiliki peran penting dalam mencapai tujuan ini. Generasi muda sebagai agen perubahan harus proaktif dan inovatif. Pemerintah harus menciptakan kebijakan yang kondusif dan responsif. Sektor swasta harus berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Mari kita tinggalkan ego sektoral dan perbedaan, bersatu padu membangun Indonesia yang maju, adil, dan makmur.





