Oleh: Faqih Aly Ridho
Generasi Z, yakni individu yang lahir antara pertengahan 1990an hingga awal 2010an, hidup dalam era digital yang sarat dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun, di tengah banjir informasi dan rasionalisme sains, muncul fenomena menarik: Generasi Z tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual.
Justru, banyak dari mereka mencari cara baru untuk mengintegrasikan spiritualitas dengan pendekatan ilmiah dalam memahami realitas. Fenomena ini memperlihatkan adanya persimpangan antara dua pendekatan epistemologis yang selama berabad-abad kerap dianggap bertentangan.
Secara historis, sains dan spiritualitas sering diposisikan sebagai dua kutub yang berbeda yang satu berbasis empirisme dan yang lain berbasis wahyu dan intuisi. Namun, tokoh-tokoh besar seperti Albert Einstein pernah menyatakan bahwa “sains tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa sains adalah buta”. Pandangan ini menegaskan bahwa keduanya dapat saling melengkapi, bukan meniadakan.
Generasi Z, yang tumbuh dalam budaya digital dan global, cenderung lebih terbuka untuk menjelajahi hubungan antara pengetahuan ilmiah dan pengalaman spiritual secara paralel. Generasi Z menunjukkan kecenderungan untuk mencari makna hidup yang lebih dalam, meskipun tidak selalu melalui institusi keagamaan formal. Banyak dari mereka mencari spiritualitas dalam bentuk mindfulness, meditasi, dan filsafat Timur, yang kini sering diintegrasikan dalam pendidikan tinggi dan terapi modern.
Di sisi lain, sains kognitif dan neurosains juga mulai mengkaji efek spiritualitas terhadap kesehatan mental, membuka jalan bagi sintesis antara spiritual dan ilmiah. Penelitian dari Harvard Medical School, misalnya, menunjukkan bahwa praktik spiritual dan religius memiliki korelasi positif terhadap kesejahteraan psikologis.
Media sosial menjadi ruang baru bagi Generasi Z dalam membentuk identitas spiritual dan ilmiah mereka. Platform seperti TikTok dan Instagram banyak menampilkan konten yang menggabungkan sains populer dengan tema-tema spiritualitas modern, mulai dari astrologi hingga diskusi filsafat kuantum. Hal ini menunjukkan bahwa narasi keilmuan dan spiritual tidak hanya berdampingan, tetapi saling membentuk satu narasi identitas yang kompleks.
Dalam ruang digital, Generasi Z tidak ragu menantang dikotomi lama antara iman dan rasio. Meski ada kecenderungan positif, integrasi antara sains dan spiritualitas juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah risiko sinkretisme tanpa landasan epistemologis yang kuat, atau pencampuran bebas antara ilmu dan mitos yang bisa menyesatkan.
Di sisi lain, peluang besar muncul ketika pendidikan dapat mengarahkan Generasi Z untuk berpikir kritis sekaligus reflektif terhadap realitas transendental. Program-program pendidikan transdisipliner, yang menggabungkan sains, filsafat, dan teologi, menjadi penting dalam menyiapkan generasi ini menghadapi kompleksitas zaman. Kecenderungan Generasi Z untuk mengintegrasikan sains dan spiritualitas juga sangat terlihat di ruang digital.
Media sosial menjadi laboratorium besar bagi eksplorasi identitas spiritual mereka. TikTok, YouTube, hingga Instagram dipenuhi konten yang menggabungkan pengetahuan ilmiah populer dengan konsep spiritual, seperti video tentang hubungan antara fisika kuantum dan kesadaran, astrologi dan psikologi, hingga diskusi tentang eksistensi jiwa dari perspektif neurosains. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak lagi eksklusif dimiliki oleh lembaga keagamaan, tetapi menjadi wilayah personal yang dikonstruksi secara bebas dan dinamis.
Referensi
Barna Group. (2018). Gen Z: The Culture, Beliefs and Motivations Shaping the Next Generation.
Campbell, H. A.,&Tsuria, R. (Eds.). (2021) Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media
Einstein, A. (1954). Ideas and Opinions
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy–and Completely Unprepared for Adulthood.
VanderWeele, T. J. (2017). Religion and Health: A Synthesis, Harvard Review of Psychiatry.
Zajonc, A. (2010). Science and Spirituality: Integrative Approaches to Learning and Knowing
Editor: K. Anwar





