Oleh: Faya Agnia Rohadi
Di era perkembangan teknologi yang melaju dengan pesat, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robotika telah menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Dari asisten digital hingga mobil otonom, inovasi ini menjanjikan efisiensi dan fasilitas yang luar biasa. Namun, adanya kemajuan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Bagaimana agama Islam dalam menanggapi kecanggihan teknologi tersebut? Apakah iman dan inovasi dapat selaras, atau justru bertolak belakang?
Agama yang sepanjang sejarahnya, telah dijadikan sebagai panduan moral dan etika dalam kehidupan. Agama tidak hanya mengatur hubungan yang bersifat vertikal antara manusia dengan Tuhan, namun juga mengatur hubungan horizontal antar sesama manusia dan lingkungan. Maka dalam menghadapi kemajuan teknologi yang semakin independen dan “berpikir”, agama dihadapkan langsung dengan tantangan untuk menafsirkan ulang kembali nilai-nilainya. Khususnya ketika AI mulai mengambil ketetapan yang menjamah ranah etika, seperti dalam bidang hukum, kesehatan, bahkan pendidikan. Hal inilah yang menjadikan diskusi antara iman dan inovasi menjadi sangat penting.
Artikel ini akan mengulas bagaimana agama, khususnya agama Islam, memandang perkembangan AI dan Robotika dalam unsur etika, hukum, dan spiritualitas. Dengan menggali perspektif dari teks-teks keagamaan, ulama, dan para pemikir kontemporer, kita akan melihat bahwa iman dan inovasi tidak selalu bertolak belakang. Justru, keduanya bisa saling memperkuat dalam membangun peradaban yang berbasis keadilan, manusiawi, dan bermakna. Karena dibalik logika mesin, tidak luput dari kebijaksanaan manusia, dan disitulah peran agama menjadi sangat vital.
Dalam konteks Islam, reaksi mengenai perkembangan AI dan Robotika mulai mendapatkan atensi yang serius dari para intelektual muslim. Beberapa Ulama dan ilmuwan menegaskan seberapa pentingnya membingkai teknologi dalam nilai-nilai syariah, seperti keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan. AI bukanlah objek yang bebas akan nilai; namun, dalam pemanfaatannya tetap harus dalam pengawasan agar tidak menimbulkan mudharat bagi manusia. Misalnya, dalam pengaplikasian algoritma untuk pengambilan keputusan harus mempertimbangkan keadilan sosial dan menghindari diskriminasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mubarok (2020) pada Artificial Intelligence dalam Perspektif Etika Islam, teknologi dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah jika penggunaannya berdasarkan niat dan cara yang benar sesuai dengan prinsip maqashid syariah.
Dalam Islam, teknologi dianggap sebagai karunia Allah yang tercipta melalui akal manusia yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan umat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya” (QS. Al-Jatsiyah: 13). Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa segala bentuk ilmu pengetahuan, termasuk AI dan Robotika, adalah ciptaan Allah yang dapat dieksplorasi oleh manusia.
Para ulama kontemporer seperti Syeikh Taha Jabir Al-Alwani menegaskan ijtihaj dalam merespons kemajuan ilmu dan teknologi, agar tidak terjadi konflik antara iman dan inovasi (Al-Alwani, 1993). AI dan Robotika jika diarahkan dengan nilai-nilai tauhid dan etika islam, dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kualitas hidup manusia tanpa kehilangan orientasi spiritual. Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, dia menyempurnakannya dengan baik” (HARI. Al-Baihaqi). Hadits ini memberikan asas moral bahwa inovasi, termasuk dalam bidang teknologi, harus berlandaskan kejujuran, tanggung jawab, dan disertai dengan niat yang benar.
Dengan begitu, titik temu antara iman dan inovasi dapat tercapai melalui pendekatan yang integratif, dimana menganggap teknologi bukan sebagai pengganti manusia, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kapatuhan kepada Sang Pencipta. AI dan Robotika tidak tidak hanya menjadi perwujudan inovasi manusia, tetapi juga menjadi ladang amal sholeh apabila digunakan untuk kemaslahatan umat, misalnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan Robotika yang signifikan tidak seharusnya menjadi tantangan bagi keimanan, melainkan berpotensi sebagai peluang untuk memperkuat peran pemimpin manusia di dunia. Dalam perspektif islam, inovasi adalah sebagian ilmu yang diamanatkan oleh Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an yang bahwasanya segala yang ada di langit dan bumi ditundukkan untuk manusia. Dengan etika dan spiritual yang kuat sebagai landasan, AI dan Robotika dapat diarahkan untuk kemaslahatan umat, bukan sekedar realisasi teknologi. Oleh sebab itu, titik temu antara iman dan inovasi dapat dicapai dengan aliansi nilai-nilai ilahiah dan kemajuan teknologi, sehingga pencapaiannya tidak hanya bermanfaat di dunia saja, namun juga bermanfaat bagi akhirat kelak.
Editor: K. Anwar





