Oleh: Muhtar Ali Ahmadi (Mahasiswa Prodi Magister Ekonomi Syariah UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan)
Di tengah dinamika ekonomi yang kian menantang, program makan bergizi gratis dari pemerintah hadir layaknya seteguk air di tengah terik. Program ini bukan sekadar soal makan siang gratis di sekolah, melainkan sebuah intervensi sosial yang berdampak luas, terutama bagi kantong-kantong ekonomi rumah tangga kelas menengah ke bawah. Menarik untuk melihat bagaimana program ini bisa menjadi katalis positif bagi kesejahteraan keluarga Indonesia seiring dengan implementasinya di berbagai daerah.
Program makan bergizi gratis ini secara sederhana menyasar anak-anak sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Tujuannya jelas mulia: memastikan asupan gizi yang layak bagi generasi masa depan sekaligus mengurangi beban pengeluaran rumah tangga. Jika dihitung secara kasar, satu porsi makan siang bergizi per hari untuk satu anak bisa bernilai Rp10.000 hingga Rp15.000. Dalam sebulan, angka ini bisa mencapai Rp300.000 hingga Rp450.000 per anak. Dapat dibayangkan jika sebuah keluarga memiliki dua atau tiga anak usia sekolah. Angka tersebut menjadi cukup signifikan dalam pos pengeluaran keluarga.
Di sinilah letak nafas segarnya: beban harian ibu-ibu rumah tangga sedikit berkurang. Hal ini tidak hanya dari sisi biaya, tapi juga waktu dan energi dalam menyiapkan bekal anak. Uang belanja bisa lebih fleksibel, bahkan mungkin bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang tak kalah penting, seperti tabungan pendidikan, cicilan rumah, atau sekadar belanja sembako mingguan tanpa terlalu banyak hitung-hitungan.
Disamping hal tersebut, program ini juga membawa efek domino yang sehat dengan memastikan anak-anak mendapat makanan bergizi di sekolah, sehingga kekhawatiran akan gizi buruk atau kurang energi untuk belajar bisa ditekan. Anak yang kenyang dan sehat tentu lebih siap menyerap pelajaran. Dan dalam jangka panjang, ini berarti investasi sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Sementara itu dari sisi ekonomi makro, ini merupakan modal berharga bagi pembangunan bangsa.
Namun tentu saja, program ini tak lepas dari tantangan. Pertama, soal keberlanjutan anggaran. Apakah APBN dan APBD mampu mengakomodasi program ini dalam jangka panjang, terutama ketika diperluas secara nasional? Kedua, soal kualitas dan distribusi. Makanan bergizi bukan sekadar soal kenyang, tapi juga soal gizi seimbang, kebersihan, dan ketersediaan bahan pangan lokal yang berkualitas.
Oleh karena itu pelibatan masyarakat lokal, termasuk UMKM pangan, bisa menjadi strategi cerdas. Bayangkan jika warung makan, katering rumahan, hingga kelompok tani lokal dilibatkan dalam penyediaan makanan bergizi ini, efek ekonominya bisa berlipat: selain membantu anak-anak sekolah, juga membuka lapangan kerja dan memberdayakan ekonomi desa.
Kita juga perlu mengapresiasi dimensi edukatif dari program ini. Melalui kebiasaan makan sehat di sekolah, anak-anak dikenalkan pada pola makan seimbang sejak dini. Mereka belajar bahwa sayur, buah, dan protein nabati maupun hewani adalah bagian penting dari kehidupan, bukan sekadar formalitas isi piring. Jika ini konsisten, bukan tak mungkin akan terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga sadar gizi dan kesehatan.
Lantas, bagaimana dengan suara-suara sinis yang menyebut program ini sekadar “bagi-bagi makan”? Di sinilah pentingnya kita memandang kebijakan sosial dengan kacamata lebih luas. Program sosial, bila dikelola dengan transparan dan akuntabel, bukanlah pemborosan. Justru sebaliknya, ia adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak dasar warganya.
Bagi keluarga-keluarga di pelosok negeri yang penghasilannya hanya cukup untuk hidup sehari demi sehari, program ini bukan soal gratisan. Ini tentang keadilan sosial. Tentang bagaimana negara hadir untuk menambal celah ketimpangan, sekecil apa pun itu. Dan bagi kita yang mungkin tak terlalu terdampak secara langsung, ini adalah pengingat bahwa solidaritas sosial masih hidup di negeri ini.
Sebagai penutup, program makan bergizi gratis bisa menjadi titik awal dari gerakan yang lebih besar: membangun bangsa dari meja makan. Di sanalah karakter dibentuk, kebiasaan baik dimulai, dan cinta keluarga terjaga. Dan siapa sangka, dari sepiring nasi, segenggam sayur, dan sepotong lauk, kita tengah menanam benih masa depan yang lebih cerah.





