Beranda Opini Beyond Trend: Sustainable Fashion sebagai Strategi Inovatif Ekonomi Kreatif

Beyond Trend: Sustainable Fashion sebagai Strategi Inovatif Ekonomi Kreatif

0
sumber foto: pexels.com

Oleh: Muthmainnatun Mufidah*

Apakah mungkin sebuah busana mampu menyelamatkan bumi sekaligus menggerakkan ekonomi nasional? Pertanyaan itu kini menjadi relevan di tengah fakta bahwa industri fashion global menyumbang sekitar 10% emisi karbon dunia dan menjadi penyumbang limbah air terbesar kedua (UN Environment Programme, 2023). Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan budaya tekstil dan potensi ekonomi kreatif yang besar memiliki peluang untuk menjadikan sustainable fashion bukan sekadar tren, melainkan strategi ekonomi kreatif yang berdaya saing global.

Gaya, Etika, dan Ekonomi

Dalam dua dekade terakhir, ekonomi kreatif menjadi salah satu tulang punggung pembangunan nasional. Menurut Bappenas (2024), sektor ini menyumbang lebih dari Rp1.300 triliun terhadap PDB nasional dan membuka lapangan kerja bagi lebih dari 20 juta orang. Sub-sektor fashion menyumbang porsi terbesar, namun ironisnya juga menjadi salah satu industri paling boros sumber daya dan menghasilkan limbah tinggi.

Di sinilah konsep sustainable fashion menemukan relevansinya. Gerakan ini tidak hanya menyoroti penggunaan bahan ramah lingkungan, tetapi juga menata ulang rantai nilai industri mode secara menyeluruh—mulai dari desain, produksi, distribusi, hingga konsumsi. Prinsip slow fashion dan ethical production menempatkan manusia dan lingkungan sebagai inti dari proses kreatif.

Contoh nyata datang dari SukkhaCitta, merek lokal yang mempraktikkan sistem farm to closet menghubungkan petani kapas, perajin kain, dan desainer dalam satu rantai nilai yang adil dan transparan. Produk mereka tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga mengangkat martabat perempuan perajin di pedesaan. Model seperti ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan strategi bisnis yang menguntungkan sekaligus berdampak sosial.

Generasi Baru, Pasar Baru

Transformasi digital juga menjadi katalis penting dalam memperkuat gerakan sustainable fashion. Platform daring seperti Tokopedia Green dan Zalora Sustainability kini menjadi ruang bagi brand lokal untuk menjangkau konsumen global yang semakin sadar lingkungan. Generasi muda, terutama Gen Z, tampil sebagai motor perubahan.

McKinsey (2022) menyebutkan bahwa 67% konsumen muda bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan. Mereka tidak sekadar membeli busana, tetapi membeli nilai yakni tanggung jawab sosial, transparansi, dan cerita di balik produk. Bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia, tren ini adalah peluang emas untuk menegaskan identitas produk lokal yang berpijak pada budaya dan keberlanjutan.

Namun, peluang besar ini masih dibayangi berbagai tantangan. Banyak pelaku UMKM belum memiliki akses terhadap bahan ramah lingkungan, teknologi efisien, atau pendanaan yang mendukung prinsip keberlanjutan. Di sisi lain, kesadaran konsumen terhadap dampak fast fashion masih rendah. Industri mode murah dengan produksi masif masih menjadi primadona pasar karena harga yang terjangkau, meski berdampak negatif terhadap lingkungan dan tenaga kerja.

Mewujudkan Strategi Berkelanjutan

Jika sustainable fashion ingin benar-benar menjadi strategi ekonomi kreatif nasional, perlu langkah konkret lintas sektor. Pertama, pemerintah dapat memperkuat sistem standarisasi dan sertifikasi hijau, agar produk berkelanjutan Indonesia memiliki kredibilitas di pasar global.
Kedua, skema pembiayaan berbasis syariah dan ESG (Environmental, Social, Governance) harus diperluas agar UMKM kreatif dapat bertransformasi tanpa terbebani bunga tinggi.

Ketiga, digitalisasi rantai pasok melalui blockchain dan green e-commerce akan meningkatkan transparansi produksi dan memperkuat kepercayaan konsumen. Selain itu, kolaborasi antara desainer muda, komunitas lokal, dan lembaga pendidikan vokasi dapat melahirkan inovasi material ramah lingkungan berbasis serat alam Indonesia seperti kapas organik, serat nanas, dan ecoprint.

Mendukung Harapan untuk Bumi

Sustainable fashion bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan arah baru pembangunan ekonomi kreatif Indonesia. Dengan mengedepankan nilai etika, inovasi, dan keberlanjutan, sektor ini dapat menjadi contoh bagaimana ekonomi hijau tumbuh tanpa mengorbankan budaya dan manusia di baliknya.

Kini saatnya kita beralih dari “memakai mode” menjadi “memaknai mode.” Karena setiap potongan kain yang berkelanjutan bukan hanya bentuk ekspresi diri, melainkan juga pernyataan moral: bahwa masa depan ekonomi kreatif Indonesia bisa ditenun dengan benang keberlanjutan.

*Penulis merupakan mahasiswa Magiester Ekonomi Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini