Beranda Opini Memberi Ruang, Bukan Tekanan: Cara Sekolah Menumbuhkan Keaslian  

Memberi Ruang, Bukan Tekanan: Cara Sekolah Menumbuhkan Keaslian  

0

Oleh: Aliyah Tunafiah*)

Di banyak sekolah hari ini, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh aturan, target, dan standar yang seragam. Mereka diminta untuk duduk diam, mengikuti ritme yang sama, berpikir dengan cara yang sama, bahkan bermimpi hal yang sama. Padahal setiap anak datang ke sekolah dengan dunia batinnya sendiri—dengan rasa ingin tahu, bakat, dan sifat unik yang tidak bisa dipaksa seragam. Karena itu, sekolah seharusnya menjadi tempat yang memberi ruang, bukan tekanan; tempat yang menumbuhkan keaslian, bukan memoles anak agar cocok dengan cetakan tertentu.

Masalahnya, pendidikan kita sering lebih fokus pada pencapaian ketimbang perkembangan. Banyak sekolah menuntut nilai tinggi, rangking, prestasi akademik, dan kerap lupa bahwa anak sebenarnya sedang bertumbuh sebagai manusia. Ketika ukuran keberhasilan hanya berupa angka, anak seperti sedang berkompetisi tanpa henti. Mereka belajar untuk menyenangkan guru dan orang tua, bukan memahami pelajaran. Mereka takut salah, takut bertanya, takut berbeda. Dalam jangka panjang, ini mematikan rasa percaya diri dan keberanian mereka untuk menjadi diri sendiri.

Padahal esensi sekolah bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi membentuk karakter dan memberikan pengalaman belajar yang membebaskan. Sekolah yang baik bukan yang membuat semua anak sama pandai, tetapi yang memberi setiap anak kesempatan menemukan siapa dirinya.

Memberi ruang adalah kunci.

Sekolah yang membiarkan anak menjadi diri sendiri bukan berarti sekolah tanpa aturan. Justru sebaliknya, sekolah menyediakan lingkungan yang aman agar mereka bisa bereksplorasi tanpa takut dihakimi. Guru berperan bukan sebagai pengatur hidup anak, tetapi sebagai pendamping yang peka. Mereka memfasilitasi, bukan mendikte. Mereka mengarahkan, bukan memaksa. Ketika anak ingin mencoba hal baru, mereka diberi kesempatan. Ketika anak kesulitan, mereka diberi dukungan, bukan kritik yang membuat mereka mengecil.

Pendidikan yang memberi ruang juga memperhatikan keberagaman cara belajar.

Ada anak yang cepat memahami matematika, ada yang lambat tetapi sangat kreatif. Ada yang berani berbicara, ada yang justru lebih nyaman mengekspresikan diri lewat tulisan atau gambar. Sekolah yang menumbuhkan keaslian memberi tempat bagi semua gaya belajar ini, bukan hanya yang cocok dengan kurikulum formal.

Selain itu, ruang untuk anak menjadi diri sendiri terlihat dari bagaimana sekolah memberi peluang pada minat pribadi. Misalnya, anak yang suka menggambar diberi akses untuk berkarya tanpa dianggap membuang waktu. Anak yang suka bicara diberi ruang untuk presentasi. Anak yang kritis diberi ruang berdiskusi. Dari sinilah tumbuh rasa percaya diri: ketika anak tahu bahwa apa yang ia sukai dan miliki itu dihargai, bukan dianggap gangguan.

Tekanan dalam pendidikan seharusnya diubah menjadi tantangan yang sehat.

Anak memang perlu belajar disiplin dan kerja keras, tetapi bukan dengan cara membuat mereka takut gagal. Tantangan yang baik justru mendorong anak mencoba lagi, bukan membuat mereka putus asa. Misalnya, alih-alih memarahi anak ketika nilainya jelek, guru mengajak mereka evaluasi dan menemukan cara belajar yang lebih sesuai dengan dirinya. Dengan begitu, anak merasa dihargai sebagai individu yang bertumbuh.

Lingkungan sekolah yang ramah juga menjadi dasar penting dalam menumbuhkan keaslian. Sekolah harus menjadi tempat di mana anak merasa diterima, bukan dihakimi; didukung, bukan dibandingkan. Budaya membandingkan murid satu dengan lainnya harus diakhiri. Setiap anak punya waktu dan jalannya masing-masing. Ketika lingkungan mendukung, anak lebih berani mengekspresikan pendapat, mencoba hal baru, dan menunjukkan warna dirinya.

Pada akhirnya, pendidikan tidak boleh hanya mengejar output, tetapi memanusiakan proses. Anak bukan kertas kosong yang harus diisi penuh, melainkan benih yang harus dirawat agar tumbuh sesuai bentuk alaminya. Sekolah harus menjadi taman, bukan pabrik. Ruang kelas harus menjadi tempat di mana anak tidak kehilangan dirinya, tetapi justru menemukannya.

Jika sekolah mampu memberi ruang, bukan tekanan, maka kita bukan hanya mencetak generasi yang pintar, tetapi generasi yang utuh—anak-anak yang tumbuh dengan percaya diri, mandiri, dan berani menjadi diri mereka sendiri. Dan inilah pendidikan yang sesungguhnya: membesarkan manusia, bukan mengubah mereka menjadi versi yang diinginkan orang lain.

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa inggris Universitas Nurul Huda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini