Beranda Opini Menata Ulang Pendidikan Indonesia untuk Generasi Unggul

Menata Ulang Pendidikan Indonesia untuk Generasi Unggul

0

Oleh: Sari Agustin

Di era modern, perubahan terjadi begitu cepat termasuk serba-serbi yang berkaitan dengan pendidikan. Pendidikan tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai proses membentuk manusia seutuhnya untuk memiliki daya saing global, moral yang kuat, dan kepekaan sosial. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Mulai dari ketimpangan akses, rendahnya kualitas tenaga pendidik, hingga lemahnya karakter peserta didik.

Hingga detik ini, kita hidup di masa teknologi menjadi pusat dari segala aktivitas manusia. Dunia pendidikan pun dituntut untuk beradaptasi, bukan sekadar mengikuti arus, tetapi mampu menciptakan generasi yang tangguh dan unggul menghadapi tantangan zaman. Kita perlu menyadari permasalahan pendidikan dengan berupaya mencari alternatif. Dengan bagaimana proses pendidikan dapat mencapai harapan baik untuk mengembangkan sumberdaya manusia yang adaptif terhadap tantangan dan perubahan serta moral yang beradab.

Kualitas Pendidikan Penentu Pondasi Peradaban

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya menyiapkan generasi untuk mampu bekerja, tetapi juga untuk berpikir kritis dan memiliki empati terhadap sesama. Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brazil, menyebut pendidikan sebagai alat pembebasan. Artinya, pendidikan harus mampu membebaskan manusia dari kebodohan, ketidakadilan, dan ketertinggalan.

Namun realitanya, banyak lembaga pendidikan yang masih berorientasi pada hasil akademik semata tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Akibatnya, muncul generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin karakter. Padahal, kualitas pendidikan yang sesungguhnya diukur bukan dari nilai ujian, melainkan dari sejauh mana pendidikan mampu membentuk manusia yang berintegritas dan beretika.

Perkembangan teknologi digital pada akhuirnya membawa dua sisi bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi membuka peluang luas untuk belajar tanpa batas — informasi mudah diakses kapan pun dan di mana pun. Namun di sisi lain, teknologi juga membawa tantangan besar berupa distraksi, ketergantungan pada gawai, dan lunturnya interaksi sosial. Selain itu, masih banyak sekolah di pelosok daerah yang belum mendapatkan fasilitas memadai.

Ketimpangan kualitas antara sekolah di kota dan di desa menjadi salah satu hambatan terbesar untuk mencapai pemerataan pendidikan. Guru sebagai ujung tombak pendidikan pun tidak jarang menghadapi keterbatasan dalam pelatihan dan kesejahteraan, yang berdampak pada rendahnya motivasi dan inovasi dalam proses belajar mengajar.

Kritik untuk Berbenah

Jika melihat kondisi pendidikan kita hari ini, sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibenahi secara serius. Sistem pendidikan sering kali berjalan seperti rutinitas yang mengejar target administratif, bukan pembelajaran yang bermakna. Guru dibebani berbagai laporan dan tuntutan sistem, sehingga waktu mereka untuk benar-benar mendampingi siswa semakin berkurang. Kurikulum juga sering berubah, tetapi tidak selalu diikuti dengan kesiapan lapangan yang memadai, sehingga guru dan siswa harus berjuang sendiri untuk beradaptasi.

Belum lagi persoalan ketimpangan pendidikan. Sementara sekolah-sekolah di kota mulai melangkah maju dengan teknologi dan fasilitas lengkap, anak-anak di pelosok harus belajar dengan sarana terbatas. Ketidakmerataan ini membuat kesempatan belajar menjadi tidak adil, dan berpotensi menciptakan jurang kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kita juga masih melihat pola pembelajaran yang terlalu fokus pada hafalan dan nilai, bukan pada kemampuan berpikir kritis, kreativitas, atau pemecahan masalah.

Padahal generasi yang diharapkan pada 2045 adalah generasi yang mampu berinovasi, bukan hanya mengikuti instruksi. Siswa pun sering tidak diberi ruang untuk menemukan diri mereka sendiri, karena sistem lebih banyak mengatur daripada memfasilitasi perkembangan mereka.

Kritik ini bukan untuk menyalahkan, tetapi sebagai pengingat bahwa mimpi besar tentang Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika sistem pendidikannya tidak benar-benar diperbaiki dari akarnya. Semangat menuju Generasi Emas yang digadang-gadang harus dimulai dengan pendidikan yang jujur melihat kekurangannya dan berani melakukan perubahan.

Nilai-nilai moral dan spiritual juga menjadi salah satu permasalahan yang di sisi lain menjadi hal terpenting. Padahal, kecerdasan intelektual tanpa dilandasi moral yang baik dapat melahirkan krisis kemanusiaan. Pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam membangun generasi unggul.

Pendidikan sejatinya menanamkan nilai-nilai karakter yang baik Seperti disiplin, tanggung jawab, empati, dan kerja sama. Bukan hanya dihafalkan, tetapi dipraktikkan dalam keseharian. Melalui pendidikan karakter yang kuat, peserta didik akan mampu menghadapi tantangan hidup dengan mental yang tangguh dan hati yang bijaksana.

Kolaborasi Peran Antar Pihak

Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan inspirator. Dalam konteks ini, guru idealnya menjadi teladan yang mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras. Lembaga pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan menghargai keberagaman. Selain itu, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga sangat penting.

Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan kepada sekolah. Pendidikan sejatinya dimulai dari rumah — di mana anak pertama kali belajar tentang nilai, etika, dan empati. Bila keluarga, sekolah, dan masyarakat bekerja sama, maka lahirlah generasi unggul yang tidak hanya pandai, tetapi juga berkarakter kuat.

Seiring dengan itu, pemerintah juga menargetkan Indonesia memiliki generasi emas pada tahun 2045, yakni generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan berkarakter kebangsaan. Untuk mencapainya, dibutuhkan kerja nyata semua pihak — pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat. Peningkatan kualitas guru, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta fasilitas pendidikan yang merata harus menjadi prioritas utama.

Generasi emas bukan hanya soal kemampuan intelektual, tetapi juga karakter, kreativitas, dan kemampuan berkolaborasi, dan memimpin. Oleh karena itu, pendidikan hari ini harus benar-benar disiapkan agar anak-anak Indonesia mampu menghadapi tantangan global dengan percaya diri dan kompeten. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini.

Membangun generasi unggul tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Diperlukan proses panjang yang konsisten, sistem yang kuat, dan komitmen dari semua pihak. Pendidikan bukan sekadar tugas sekolah atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama untuk menciptakan peradaban yang bermartabat.

Dengan pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan, karakter, dan pengetahuan, kita dapat melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berjiwa luhur — generasi yang siap memimpin dan membangun Indonesia menuju masa depan yang gemilang.

*Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Nurul Huda, Sumatra Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini