Oleh: Zahrotur Rahmania Firliani, S.Ars., M.Ars.
Kampus selama ini dipandang sebagai ruang tumbuh bagi mahasiswa untuk mengejar ilmu, membangun mimpi, dan menyiapkan masa depan. Namun di balik sistem akademik yang dinamis, kampus juga bisa menjadi ruang yang dapat memberi tekanan mental bagi mahasiswa. Tekanan akademik, tuntutan prestasi, lingkungan sosial, hingga kualitas ruang belajar membentuk pengalaman psikologis bagi kehidupan mahasiswa di kampus.
Isu kesehatan mental mahasiswa bukan lagi menjadi isu skala kecil namun saat ini telah menjadi isu global. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa gangguan kecemasan dan depresi menjadi salah satu masalah kesehatan mental paling umum pada kelompok usia remaja hingga dewasa yang didominasi oleh populasi mahasiswa. Di Amerika Serikat, Healthy Minds Study (2022) menemukan data bahwa lebih dari 60 persen mahasiswa mengalami kecemasan signifikan, sementara hampir 40 persen melaporkan gejala depresi dalam satu tahun akademik.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di luar negeri namun juga terjadi di Indonesia. Berbagai macam laporan media dan institusi kesehatan menunjukkan meningkatnya kasus stres berat, burnout, hingga bunuh diri di kalangan mahasiswa. Beberapa kasus yang diberitakan di media nasional kerap dikaitkan dengan tekanan akademik, rasa gagal, masalah ekonomi, serta beban psikologis yang tidak tertangani.
Tekanan Akademik yang Tak Selalu Terlihat
Beban tugas yang menumpuk, deadline yang padat, persaingan nilai, serta ekspektasi tinggi dari keluarga maupun institusi sering kali menciptakan tekanan mental yang kompleks bagi mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa harus selalu tampil unggul, produktif yang berpotensi melahirkan burnout akademik. Tekanan ini tidak hanya mempengaruhi secara emosi, namun juga berdampak besar pada fungsi kognitif. Mahasiswa yang terindikasi stres berkepanjangan cenderung mengalami penurunan konsentrasi, gangguan tidur, kelelahan mental, serta menurunnya motivasi belajar. Sehingga dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengakibatkan penurunan prestasi akademik hingga risiko tidak melanjutkan studinya.
Lingkungan Sosial Kampus dan Rasa Terisolasi
Selain tuntutan akademik, iklim sosial di kampus turut berperan dalam membentuk kesehatan mental mahasiswa. Hubungan pertemanan yang tidak sehat, pengalaman bullying, diskriminasi, hingga minimnya dukungan emosional dapat memperburuk kondisi psikologis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang merasa terisolasi secara sosial memiliki risiko depresi dan kecemasan lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki jejaring sosial suportif. Rasa “tidak cukup baik”, perbandingan sosial di media digital, serta budaya kompetitif yang berlebihan dapat memicu impostor syndrome yaitu perasaan tidak layak meski memiliki prestasi.
Peran Lingkungan Fisik dalam Kesejahteraan Mental
Kondisi fisik kampus seringkali kurang mendapatkan perhatian, padahal hal tersebut memiliki dampak yang nyata terhadap kesehatan mental dan produktivitas mahasiswa. Ruang kelas yang padat, pencahayaan yang buruk, kebisingan tinggi, ventilasi yang kurang, serta minimnya ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kelelahan mental dan menurunkan kenyamanan dalam proses belajar.
Lingkungan belajar yang nyaman, hijau, dan ergonomis berkontribusi pada peningkatan fokus, kreativitas, serta kesejahteraan psikologis. Fasilitas kampus yang menyediakan ruang refleksi dan area relaksasi dinilai lebih mampu mendukung performa akademik mahasiswa secara berkelanjutan. Sehingga hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas mahasiswa dalam proses belajar.
Lonjakan Kebutuhan Layanan Konseling
Pasca pandemi COVID-19, banyak universitas di dunia melaporkan lonjakan permintaan layanan konseling mental yang signifikan. Laporan dari University of Oxford menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang mengakses layanan konseling meningkat selama dan setelah pandemi. Permintaan di luar masa perkuliahan naik 60 hingga 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, sebuah systematic review yang diterbitkan dalam International Journal of Mental Health Systems menyebutkan bahwa hampir separuh mahasiswa pada universitas secara global menggunakan layanan kesehatan mental, dengan tingkat penggunaan yang meningkat seiring bertambahnya tekanan psikologis dan ketersediaan layanan kesehatan mental di kampus.
Tekanan akademik yang berkelanjutan, isolasi secara sosial, serta ketidakpastian masa depan menjadi faktor utama meningkatnya kebutuhan akan dukungan psikologis bagi mahasiswa. Namun banyak kampus di Indonesia yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental, baik dari segi jumlah tenaga profesional, layanan, maupun literasi mahasiswa tentang kesehatan mental.
Penelitian BMC Medical Education mengkaji layanan kesehatan mental pada universitas di Uganda menegaskan bahwa keterbatasan ketersediaan layanan dan tenaga profesional menjadi hambatan besar bagi mahasiswa untuk memperoleh bantuan tepat waktu. Akibatnya, banyak mahasiswa baru mencari pertolongan profesional ketika kondisi psikologis mereka sudah berada pada tahap serius untuk ditangani dan berpotensi memiliki dampak buruk terhadap produktivitas akademik dan kesejahteraan jangka panjang.
Dampak Nyata pada Produktivitas Mahasiswa
Gangguan kesehatan mental bukan hanya persoalan emosional, tetapi juga dapat berdampak langsung pada produktivitas akademik mahasiswa. Tingkat stres mahasiswa yang tinggi cenderung mengalami hal berikut:
- Penurunan fokus dan daya ingat
- Keterlambatan penyelesaian tugas
- Prokrastinasi
- Menurunnya kualitas karya akademik
- Ketidakhadiran dalam perkuliahan dan agenda kampus
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas lulusan serta daya saing sumber daya manusia di masa depan.
Saatnya Kampus Menjadi Ruang yang Lebih Ramah Mental
Isu kesehatan mental mahasiswa bukanlah persoalan individu semata, melainkan tanggung jawab setiap institusi. Kampus memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan yang sehat baik secara akademik maupun psikologis. Hal tersebut dapat diperbaiki dari segi kebijakan akademik yang realistis, budaya belajar yang produktif sesuai mahasiswa, desain ruang kampus yang nyaman, hingga penyediaan layanan konseling yang mudah diakses.
Sehingga dari pendekatan secara fisik, desain ruang kelas yang ramah mental dapat menjadi solusi terbaik dan berkelanjutan yang dapat memberikan dampak positif jangka panjang, seperti pengaturan pencahayaan alami yang optimal, ventilasi yang baik, pengendalian kebisingan, penggunaan warna yang menenangkan, furniture ergonomis, serta fleksibilitas tata ruang yang mendukung berbagai gaya belajar mahasiswa masa kini. Ruang belajar yang nyaman dan fungsional terbukti mampu mengurangi stres, meningkatkan fokus, serta mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Membangun kampus ramah mental berarti menciptakan ruang di mana mahasiswa tidak hanya berprestasi, namun juga didukung untuk tetap sehat baik secara fisik maupun mental yang seimbang sehingga dapat memberikan makna dalam proses belajar mereka. Kampus yang memperhatikan kualitas ruang belajar tidak hanya berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik, tetapi juga membantu membangun lingkungan yang lebih empatik, inklusif, dan berkelanjutan bagi perkembangan mental mahasiswa. Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai dan gelar, tetapi juga dari kesehatan mental dan kualitas hidup generasi yang dihasilkan.





