Oleh: Moh. Heru Sunarko
Kota Santri ya Kabupaten Pekalongan! Semua sudah mafhum julukan itu. Akan tetapi, gimana awalnya kok sampai kabupaten dengan luas 836,1 kilometer persegi itu dijuluki Kota Santri? Mungkinkah karena semua warganya adalah santri? Atau mungkinkah karena di setiap desa di kabupaten ini ada pesantrennya?
Yang jelas, julukan yang disematkan untuk sebuah daerah pasti punya kaitan dengan kekhasan daerah itu. Juga, berkorelasi dengan sejarahnya. Bisa juga berkenaan dengan cita-cita yang disepakati para pendahulu. Seperti julukan untuk Kabupaten Pekalongan, Kota Santri.
Patut diduga, julukan itu dimaksudkan agar masyarakat Kabupaten Pekalongan berperilaku ala santri. Peradaban yang dibangun pun berakar pada nilai-nilai santri. Yaitu, menjunjung tinggi etika, ilmu, dan tentunya berakhlak mulia. Mulia betul cita-cita itu kan?
Lalu, apa yang melatari pemberian julukan itu? Seperti yang pernah ditulis para pakar sejarah, pemberian julukan Kota Santri lekat dengan peristiwa Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, yang berlangsung antara 1825-1830. Kala itu banyak tokoh kiai yang dilibatkan dalam perang itu. Mereka berasal dari berbagai daerah, tidak terkecuali dari Pekalongan.
Tentu, tokoh-tokoh kiai ini tak sendirian. Mereka juga mengajak para santrinya untuk bergabung. Khususnya, mereka yang memiliki kemampuan bela diri.
Eksodus pun terjadi. Banyak di antara kiai dan santri itu yang lantas berpindah. Termasuk, sejumlah kiai asal Pekalongan, juga para sayid. Mereka berpindah ke beberapa daerah seperti Wonosobo, Bawang, Banjarnegara, dan mungkin juga ke daerah-daerah lain.
Walau begitu, agar proses pendalaman pemahaman ajaran Islam kepada masyarakat tetap berlangsung, sejumlah kiai lainnya ada yang masih bertahan di Pekalongan. Mereka terus menjalankan peran sebagai guru di pesantren-pesantren yang mereka dirikan di desa-desa. Menguatkan dan membesarkan hati masyarakat kala itu yang tengah didera penjajahan.
Sementara, sumber lain yang berasal dari kalangan ulama Pekalongan, diambil dari buku Sejarah Pekalongan yang diterbitkan Yayasan Peduli Sejarah Indonesia menyebutkan, bahwa maraknya kegiatan keagamaan di Pekalongan dapat ditelusur melalui keberadaan makam-makam ulama yang hidup pasca Perang Diponegoro. Makam Ki Buyut Marina di Desa Godean, Wonopringgo, salah satunya. Makam itu dipercaya sebagai makam tertua. Konon, makam itu sudah ada sejak pra-kolonial.
Keberadaan makam tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas para santri di Pekalongan sudah berlangsung sejak lama. Jauh sebelum pecah Perang Jawa yang dahsyat itu. Bahkan, ada kemungkinan pula, sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Agung. Atau malah jauh sebelum itu. Kemungkinan-kemungkinan ini masih perlu ditelusur lagi.
Seiring perjalanan waktu, kelahiran organisasi-organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah rupanya membawa arah perubahan besar aktivisme para santri. Belajar dari pengalaman Perang Jawa dan berbagai peristiwa bersejarah lainnya, aktivisme santri menemukan gelombang baru yang lebih terorganisasir dan tersistem. Tak hanya itu, aktivisme santri bahkan lebih masif dan sporadis.
Berbagai kegiatan pengajian dikembangkan. Pondok-pondok pesantren tumbuh subur. Madrasah-madrasah diniyah juga bermunculan. Para kiai maupun para sayid ikut pula aktif membesarkan majelis-majelis pengajian. Melalui corong pengajian itu, lahir pula tokoh-tokoh pejuang yang kemudian turut merebut kembali kemerdekaan. Sebab, hakikat setiap bangsa adalah merdeka.
Selain mendidik masyarakat, para kiai dan sayid di Pekalongan rupanya juga ikut memerjuangkan hak ekonomi masyarakat. Mereka mengelola jaringan dagang dari hulu sampai hilir. Mengelola bagaimana sistem produksi pertanian dan peternakan, serta sistem distribusinya. Selain itu, turut pula menata sistem kerja sama antarsaudagar. Bahkan, sampai lintas daerah.
Kepiawaian para kiai dan sayid dalam mengelola sistem perdagangan lintas daerah ini membuat mereka dikenal sebagai ulama pedagang. Tak sebatas itu, tata kelola perdagangan ini dijadikan pula sebagai prasarana untuk mendukung pengembangan pondok pesantren. Tak heran, jika pada kurun 1940an pertumbuhan pondok pesantren di Pekalongan menemukan masa keemasannya. Sejumlah kiai dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat (Cirebon), sampai Sumatera banyak yang mendirikan pesantren di Pekalongan.
Geliat aktivisme kaum santri di Pekalongan, apabila ditelusur, dapat kita temukan fakta-fakta menarik. Satu dekade pasca Perang Jawa berakhir, sebuah pesantren didirikan di Desa Simbang Kulon. Pendirian pesantren itu diinisiasi Kiai Amir. Begitu pula di Desa Kanayagan (kini masuk dalam wilayah Kelurahan Bendan Kregon) Kota Pekalongan. Oleh sosok kiai asal Kendal, Kiai Agus, didirikanlah pesantren di sana. Demikian pula, di Buaran, Kiai Syafi’i turut pula mendirikan pesantren. Sosok Kiai yang satu ini juga terlibat dalam peristiwa 3 Oktober 1945.
Sementara, tahun 1848, Kiai Anwar juga turut menyemarakkan aktivisme santri di Desa Kwagean Wonopringgo dengan mendirikan pesantren. Seratus tahun berikutnya, 1948, K.H Mudzakir juga mendirikan pesantren di Banyu Urip. Ada juga K.H Syarif dari Cirebon yang membangun pesantren di Wonopringgo pada 1939. Di Desa Pait (Sepait), K.H Adam memimpin pesantren lainnya. Penyebaran pesantren dan makam ulama seperti Syekh Nurul Anom juga menunjukkan fakta jika aktivisme kaum santri di Pekalongan berkembang hampir ke seluruh wilayah. Meski begitu, agaknya pertumbuhan akivisme kaum santri di Pekalongan agaknya belum cukup nampak populer di luar daerah. Hanya, secara kultural, masyarakat di luar daerah mengenal Pekalongan sebagai kawasan yang kental dengan tradisi santrinya.
Wajar, jika Kabupaten Pekalongan kemudian berjuluk sebagai Kota Santri. Sebab, wilayah ini ditumbuhi aktivisme kaum santri. Kemunculan pondok pesantren yang tersebar di wilayah Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu buktinya. Lain dari itu, peran para ulama dan santri dalam membangun peradaban juga telah mewarnai kekhasan Pekalongan. Jadi, julukan Kota Santri bukan cuma label, melainkan cerminan sejarah dan semangat keislaman yang terus dihidupkan di tengah masyarakat.
Bahkan, data BPS Provinsi Jateng tahun 2024 menyebutkan, jumlah santri di Pekalongan tembus 17.580 orang. Itu belum termasuk yang nyantri di luar kota. Selain itu, juga terdapat data menarik mengenai keberadaan kiai dan ustaz. Jumlahnya sampai 2.024 orang. Mereka tersebar di 107 pondok pesantren di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan.
Tapi, ada sumber lain yang juga perlu dibaca. Terutama, untuk menelusuri jejak mengapa Kabupaten Pekalongan dijuluki Kota Santri. Yaitu, buku Babad Kabupaten Pekalongan (2017) yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
Disebutkan di sana, julukan Kota Santri merupakan slogan. Kabupaten Pekalongan yang penduduknya sekitar 925.649 orang, resmi pindah ibu kota ke Kajen 25 Agustus 2001. Awalnya, pusat pemerintahan ada di wilayah Kota Pekalongan. Perpindahan ibukota ini dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1986. Tanggal 25 Agustus 2001 dipilih sebagai hari perpindahan ibukota karena bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Pekalongan. Momen ini jadi semacam titik awal untuk membangun Kabupaten Pekalongan di era reformasi, dengan semangat baru yang dibungkus dalam slogan SANTRI (Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapih, dan Indah).
Begitulah kira-kira mengapa Kabupaten Pekalongan dijuluki Kota Santri. Tapi, menurut bayangan kalian, Kota Santri yang sudah dikenal banyak orang untuk Kabupaten Pekalongan itu yang mana? versi sejarah perkembangan pendidikan Islamnya atau yang menjadi slogannya?
Editor: Ribut Achwandi





