Beranda Opini Adakah Ruang Budaya di Daerah?

Adakah Ruang Budaya di Daerah?

0
Afrizal Malna tengah memberi keterangan pers untuk gelaran Pidato Kebudayaan DKJ 2025 (sumber: dkj.or.id)

Salah satu program Dewan Kesenian Jakarta yang paling saya tunggu-tunggu adalah Pidato Kebudayaan. Program rutin tahunan yang mulai digelar sejak tahun 1969. Biasanya, program ini digelar tiap 10 November sekaligus memperingati hari ulang tahun Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Pada masa awal, penyelenggaraan Pidato Kebudayaan tak serutin sekarang. Sempat vakum beberapa tahun. Baru setelah tahun 1989, Pidato Kebudayaan menjadi agenda rutin yang lebih tertata.

Ada beberapa hal yang menurut saya menarik dari agenda tersebut. Pertama, topik-topik yang disajikan para penyaji. Topik-topik itu selalu kekinian dan menyoroti problematika kebudayaan yang menjangkau ke ranah-ranah publik yang kompleks. Isu-isu populer turut pula disajikan sebagai latar belakang, sedang kajian yang disampaikan biasanya cukup mendalam. Tak hanya berkecipak di permukaan, melainkan menyelami sampai kedalaman masalah yang hadir di tengah-tengah pergaulan masyarakat.

Menariknya lagi, penyajian topik-topik itu juga diperkaya dengan pengetahuan. Tak sekadar ungkapan para penyaji, topik-topik itu diantarkan pula lewat khazanah keilmuan yang multi, dikaji secara filosofis, dan disampaikan dalam bahasa komunikasi yang cerdas. Tak pelak, Pidato Kebudayaan menjadi sebuah sajian yang mencerdaskan.

Kedua, penyajinya. Seluruh penyaji yang pernah tampil di atas podium Pidato Kebudayaan merupakan orang-orang cerdas. Nurcholis Madjid, Mochtar Lubis, Umar Kayam, Emil Salim, BJ. Habibie, Mochtar Kusumaatmadja, Fuad Hasan, Ginandjar Kartasasmita, WS. Rendra, Amien Rais, Ali Sadikin, Todung Mulya Lubis, Azyumardi Azra, Sri Sultan Hamengkubuwana X, Hidayat Nur Wahid, Taufik Ismail, Herry Priyono, Zawawi Imron, I Gusti Agung Ayu Ratih, Ignas Kleden, Rocky Gerung, Busyro Muqqodas, Mahfud MD, Karlina Supelli, Hilmar Farid, Nirwan A. Asuka, Lukman Hakim Sarifuddin, Premana W. Premadi, Roby Muhammad, Seno Gumira Ajidarma, Saras Dewi, Merlyna Lim, Melani Budianta, Ade Darmawan, William Wongso, Garin Nugroho, dan Afrizal Malna.

Nama-nama tersebut tak cukup asing bagi saya. Mungkin, bagi pembaca yang budiman pula. Kalaupun ada sejumlah nama yang terasa asing, ada baiknya Anda mencari tahu mengenai mereka.

Lantas, mengapa tokoh-tokoh yang didapuk sebagai penyaji menarik bagi saya? Tidak lain karena latar belakang mereka yang beragam. Ada cendekiawan, pejabat negara, budayawan, kosmolog, pegiat literasi, sastrawan, seniman, akademisi, jurnalis, pengusaha, sosiolog, dan sebagainya. Jadi, tidak melulu yang dihadirkan di atas podium adalah seniman.

Tetapi, yang lebih menarik bagi saya adalah apa yang disajikan para tokoh tersebut. Mereka menyajikan gagasan yang cukup membuka cakrawala pikiran saya. Selain itu, ketika saya renungkan kembali gagasan-gagasan itu, saya terkadang menemukan pemahaman baru yang membawa saya pada usaha untuk menghayati soal-soal yang dikemukakan dalam sajian mereka. Saya benar-benar menikmati.

Lain dari itu, saya juga dibuat kagum oleh sajian mereka. Terstruktur, akan tetapi mampu melingkupi bidang-bidang yang beragam. Dijalin dalam cara pandang yang elegan dan elok. Bahkan, menawarkan wacana-wacana baru yang dimaksudkan sebagai gagasan untuk membangun masa depan.

Sebagai orang daerah, sajian Pidato Kebudayaan sungguh membuat saya terpukau. Suara-suara lantang para penyaji tak sekadar menggema sebagai kritik kebudayaan, melainkan pula sebagai cara pandang yang memperkaya khazanah pemikiran tentang kebudayaan. Andai saja di daerah-daerah hal semacam ini juga digelar tentu akan sangat menarik. Apalagi dengan menghadirkan penyaji-penyaji yang mumpuni.

Lewat gagasan para penyaji, bukan tidak mungkin daerah-daerah akan mulai memiliki bahan yang dapat digunakan sebagai tilikan bagi penyusunan strategi budaya. Sehingga, kebudayaan tak sekadar dipertontonkan lewat ingar-bingar yang kadang justru kehilangan makna esensialnya. Pembicaraan tentang kebudayaan pun saya kira akan jauh lebih terarah.

Di lain hal, panggung budaya semacam ini juga menjadi ruang temu gagasan yang elegan. Sebab, akan mempertemukan beragam gagasan dari berbagai latar belakang. Dewan kesenian, dengan begitu, juga memiliki peran yang jauh lebih strategis dan terukur.

Ruang temu gagasan macam Pidato Kebudayaan yang dikelola Dewan Kesenian Jakarta bisa menjadi sebuah sarana membangun diplomasi budaya pula. Menjangkau lebih luas lagi khalayak untuk bersama-sama menemukan pemahaman dan penghayatan tentang kebudayaan yang tidak kaku dan stagnan. Serta, mengajak publik untuk terlibat dalam dialog yang benar-benar peduli yang ditumbuhkan lewat rasa memiliki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini