Beranda Opini Membaca Ulang Kebijakan MBG di Bulan Ramadhan

Membaca Ulang Kebijakan MBG di Bulan Ramadhan

0

Oleh: Sugmalia Irs

Ramadhan selalu memiliki makna khusus bagi masyarakat Pekalongan. Kota yang dikenal religius ini menjadikan bulan suci bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi ruang pendidikan moral dan spiritual, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Pada momentum inilah pembentukan karakter seperti kesabaran, disiplin, dan empati diasah secara nyata.

Dalam praktiknya, pelaksanaan MBG selama Ramadhan menghadirkan ruang diskusi yang patut diperhatikan. Memang terdapat penyesuaian bentuk makanan menjadi makanan kering, tetapi pembagian tetap dilakukan saat jam sekolah berlangsung. Fakta tersebut bukan satu-satunya. Sejumlah orang tua dan pendidik juga menyampaikan kegelisahan terkait pelaksanaan MBG selama Ramadhan. Mereka menilai pembagian makanan pada jam sekolah menghadirkan dilema bagi anak-anak yang sedang belajar berpuasa.

Secara administratif, program berjalan. Secara tujuan, niatnya baik untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi. Namun kebijakan publik tidak hanya dinilai dari niat dan prosedur. Kebijakan juga diukur dari sensitivitas terhadap konteks sosial dan spiritual masyarakat.

Anak-anak SMP berada dalam fase belajar berpuasa secara penuh. Mereka tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga sedang belajar menahan diri. Ketika makanan dibagikan di tengah jam pelajaran, dalam kondisi tubuh yang lelah dan lapar, godaan menjadi nyata. Tidak semua anak memiliki ketahanan yang sama. Sebagian mungkin tetap kuat, namun sebagian lain bisa saja memilih membatalkan puasa.

Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: apakah kebijakan tersebut telah mempertimbangkan situasi psikologis dan religius peserta didik selama Ramadhan?

Tulisan ini bukan penolakan terhadap program pemenuhan gizi. Program tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kehadiran negara. Akan tetapi, kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mampu beradaptasi. Ramadhan bukan bulan biasa. Bulan ini memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Pekalongan.

Alih-alih dibagikan saat jam sekolah, program tersebut dapat disesuaikan. Makanan bisa diberikan untuk dibawa pulang sebagai bekal berbuka puasa. Dalam konteks bulan Ramadhan, sudah semestinya ada evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah penyesuaian jadwal distribusi, termasuk kemungkinan penghentian sementara apabila dinilai lebih maslahat.

Apabila dinilai tidak maslahat dan program tetap dijalankan, maka distribusi dapat dilakukan secara berkala, misalnya satu kali dalam sepekan, dalam bentuk paket bahan pangan bergizi yang layak dan tahan simpan. Dengan skema demikian, hak peserta didik tetap terpenuhi, sekaligus tidak mengganggu proses pembelajaran puasa yang sedang mereka jalani.

Langkah tersebut bukan bentuk penolakan terhadap program, melainkan upaya menjaga keselarasan antara kebijakan publik dan nilai keagamaan yang sedang dijalankan mayoritas peserta didik. Kebijakan yang baik bukan hanya konsisten dalam pelaksanaan, tetapi juga bijaksana dalam membaca momentum.

Kekhawatiran masyarakat bukan berarti menuduh negara mendukung anak-anak untuk tidak berpuasa. Namun kebijakan yang kurang peka dapat melahirkan persepsi semacam itu. Dalam ruang publik, persepsi sering kali membentuk opini yang meluas dan sulit dikendalikan.

Sekolah adalah ruang pendidikan nilai, bukan sekadar ruang administratif. Karena itu, kebijakan yang masuk ke dalamnya perlu mempertimbangkan bukan hanya aspek teknis, tetapi juga aspek etis dan kultural.

 Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang dibagikan, tetapi dari seberapa dalam kebijakan tersebut memahami nilai yang hidup di tengah masyarakat. Sekolah bukan sekadar ruang administratif tempat program dijalankan, melainkan ruang pembentukan karakter. Setiap kebijakan yang masuk ke dalamnya membawa pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ramadhan adalah bulan latihan menahan diri, membangun kesadaran, dan memperkuat integritas. Momentum ini semestinya menjadi ruang refleksi bersama, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memperbaiki. Kebijakan yang bijak bukan hanya yang berjalan seragam di setiap waktu, tetapi yang mampu membaca waktu dengan kepekaan.

Jika Ramadhan mengajarkan tentang kepekaan terhadap sesama, maka kebijakan publik pun selayaknya lahir dari kepekaan yang sama. Dan mungkin, di situlah ukuran sejati keberpihakan diuji.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini