Oleh: Arlinda Ayu Diah Arfani
Tentu kita sudah tak asing lagi mendengar istilah PAUD bukan? Ya, kini pendidikan yang satu ini sudah menjadi kebutuhan penting sebelum memasukkan seorang anak ke jenjang sekolah dasar.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu pendidikan yang mana diselenggarakan dengan tujuan memfasilitasi pertumbuhan juga perkembangan anak serta menekankan pada pengembangan aspek kepribadian anak (Suyadi dan Maulidya Ulfah, 2013:17). Sementara menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 28 ayat 1 bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai 6 tahun dan bukan merupakan persyaratan mengikuti pendidikan dasar”.
Sebagian orang mungkin sudah tahu alasan mengapa anaknya perlu dimasukkan ke PAUD, namun sebagian yang lain belum mengetahui hakikat PAUD untuk anak usia dini. Hal ini lantaran tidak sedikit orangtua yang beranggapan bahwa sekolah PAUD hanyalah sebatas tepuk-tepuk, bernyanyi, menggambar dan mewarnai. Bahkan tidak sedikit juga orangtua yang tidak mau memasukkan ke suatu lembaga PAUD jika dalam outputnya tidak bisa calistung.
Lantas seberapa pentingkah PAUD untuk Anak Usia Dini (AUD) khususnya dalam kajian neurosains.
Apa itu neurosains? Kajian yang satu ini mungkin belum banyak dikaji mengingat pendidikan tidaklah membidangi neurosains. Neurosains ini sederhananya bisa dimaknai ilmu otak. Menurut David.A. Sousa (2012:13) meskipun pendidikan tidak membidangi neurosains, namun pendidikan adalah bagian dari suatu lembaga profesi yang mana pekerjaannya tiap hari mengubah otak manusia.
Neurosains adalah ilmu neural yang mana mempelajari sistem saraf. Tujuan neurosains ini berkaitan erat dengan bagaimana mempelajari dasar biologis dari tiap perilaku. Maksudnya ilmu ini menjelaskan perilaku manusia dari sudut aktivitas yang terjadi dalam otak (Suyadi, 2015:8).
Sistem pada otak memiliki peranan urgent dalam pengaturan psikomotorik, afeksi juga kognisi (Termasuk SQ, EQ, IQ). Menurut Suyadi bahwa bukti ilmiah tersebut rupanya memberikan suatu inspirasi bahwa pendidikan karakter sama halnya mengembangkan potensi otak. Seluruh sistem pada otak bekerja guna membangun perilaku dan sikap manusia.
Lantas apa hubungannya neurosains dengan PAUD dan seberapa pentingnya PAUD dalam kajian neurosains?
Menurut Suyadi, dalam bukunya yang berjudul “Teori Pembelajaran AUD dalam Kajian Neurosains” mengungkapkan bahwa sejak dipublikasikannya temuan bidang neurosains, terlebih fakta terkait otak anak rupanya pertumbuhan PAUD berkembang pesat di Indonesia. Apalagi temuan para ahli psikologi menyimpulkan bahwa masa AUD adalah masa golden age dan untuk menciptakan generasi yang berkualitas haruslah dimulai sejak dini pendidikannya yakni melalui PAUD.
Temuan neurosains mengemukakan bahwa otak anak saat lahir sel-sel otaknya mencapai 100 miliar, namun hanya sedikit sekali yang saling berhubungan (Yakni hanya sel otak yang mana mengendalikan detak jantung). Saat anak berusia 3 tahun sel otak membentuk 1000 triliun jaringan sinapsis. Sinapsis tersebut akan mati jika jarang digunakan/dirangsang dan sebaliknya, akan semakin kuat dan permanen jika seringkali dirangsang.
Tiap rangsangan yang diterima oleh anak nantinya akan melahirkan sambungan baru atau bahkan memperkuat yang sudah ada. Setidaknya terdapat perbedaan anak yang diberi rangsangan melalui PAUD dengan yang tidak, dimana anak yang diberi rangsangan melalui PAUD pada usia 3 tahun perkembangan jaringan otaknya mencapai 80%, di usia 4-6 tahun mencapai 85% dan di usia 7-10 tahun mencapai 90%.
Temuan ini tentunya membuktikan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini sangatlah penting untuk pemberian rangsangan otak anak. Kemudian, PAUD tentunya akan membuat berbagai neuron berfungsi optimal hingga sangat berguna untuk perkembangan sensorinya dan berujung memicu aspek perkembangan yang lain seperti bahasa, kognitif, sosial emosional, kreativitas ataupun yang lainnya.
Setidaknya ada 3 perbedaan antara anak yang diberi rangsangan melalui PAUD dengan yang tidak
1. Riset Piaget, bahwa “Anak dengan perkembangan sosial dan akademik yang baik akan berperilaku serta bertindak baik pula.
2. Seorang ahli bernama Bloom mengemukakan bahwa “Kecerdasan IQ anak bisa dipacu saat masa usia dini”.
3. Seorang ahli bernama Hunt mengemukakan bahwa “Pada usia 0-6 Tahun akan memberikan efek belajar lebih lama”. Rupanya hasil penelitian ini senada dengan pepatah berikut ini “Belajar di usia belia bagaikan mengukir di atas batu, Belajar Di usia tua bagai mengukir di atas air” (Suyadi, 215: 31-32).
Nah, sekarang sobat udah tahu kan perbedaannya antara anak yang diberi rangsangan melalui PAUD dengan yang tidak? Jadi sudah jelas ya sobat bahwa PAUD sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.
*Penulis merupakan Mahasiswa Magister PAI Pascasarjana UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan





