Pekalongan – Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pekalongan bekerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI mengadakan kegiatan Seminar Nasional Ideologi Pancasila dengan tema “Aktualisasi Nilai Ketuhanan dalam Kebangsaan: Menjaga Moderasi Beragama di Indonesia”.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber yaitu Prof. Dr. H. Moh. Agus Najib, S.Ag., M.Ag. (Direktur Sosialisasi & Komunikasi BPIP RI); Dr. H. Fakhruddin Aziz, Lc., M.Si. (Ketua PW ISNU Jawa Tengah); Sri Lestari, S.Ip. (Plt. Kepala Badan Kesbangpol Pekalongan); dan Prof. Dr. Shinta Dewi Rismawati, S.H., M.H. (Wakil Rektor III UIN Gus Dur Pekalongan).
Narasumber pertama, Dr. Fahrudin Aziz, menjelaskan salah satunya tentang identitas Bangsa Indonesia, identitas primordial dan identitas nasional. Menurutnya, identitas primordial sebagai identitas mandiri (etnik) pembentuk bangsa seperti Sriwijaya, Jawa, Ternate, Dayak, dan seterusnya.
“Sedangkan, identitas nasional bernama Indonesia; kata yang tidak berasal dari perbendaharaan kata etnis manapun. Ini yang perlu kita ketahui bersama sahabat sekalian,”terangnya.
Sementara, Prof. Shinta menyampaikan tentang urgensi Moderasi Beragama di Indonesia. Pertama, sikap seimbang, yaitu bahwa moderasi beragama adalah sikap tidak ekstrem. Ini penting untuk kerukunan. Kedua, yakni tantangan digital.
“Urgensi ini penting. Sebab, polarisasi dan radikalisasi menyebar di ruang digital. Lingkungan akademik harus bersih dari hal-hal seperti itu,”ujarnya.
Urgensi ketiga lanjutnya, indeks moderat. Indeks Moderasi Beragama Nasional 2022 mencapai 6.08, kategori moderat. Namun, perlu peningkatan.
“Jadi, penting untuk kita ketahui bersama bahwa moderasi beragama sangat urgen untuk mencegah penyebaran ideologi intoleran. Terutama di lingkungan akademik yang rentan terhadap pengaruh negatif dari polarisasi dan radikalisasi agama,”imbuhnya.
Sebagai narasumber perwakilan dari Kesbangpol, Sri Lestari menyampaikan, aktualisasi Nilai Ketuhanan dalam Kebangsaan dapat diartikan sebagai pengamalan dan pengintegrasian nilai-nilai spiritual dan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Nilai Ketuhanan menjadi landasan bagi pembentukan karakter dan kepribadian bangsa yang religius dan berakhlak mulia,”tuturnya.
Terakhir, Prof. Agus Najib. Ia menyampaikan tentang problem di indonesia terkait pancasila adalah implementasinya. Meskipun Pancasila dirumuskan sebagai dasar negara dan ideologi, kenyataannya masih banyak terjadi penyimpangan dan ketidaksesuaian antara nilai-nilai Pancasila dengan perilaku dan kebijakan yang ada. Kita perlu meneladani sejarah awal mula lahirnya Pancasila.
“Sejarah Pancasila perlu diteladani karena mengandung nilai-nilai luhur yang relevan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam proses perumusan Pancasila, termasuk semangat musyawarah, menghargai pendapat, rela berkorban, dan mengutamakan persatuan,”jelasnya.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Student Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid, Rabu (18/6/2025), dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, dan seminar dimoderatori oleh Dahrul Muhtadin, M.H.I.





