Beranda Opini Bensin Subsidi, Otak Irit: Mahasiswa PTN yang Jauh-Jauh Cuma Ngejar Absensi

Bensin Subsidi, Otak Irit: Mahasiswa PTN yang Jauh-Jauh Cuma Ngejar Absensi

0

Di tengah meroketnya harga BBM dan pemberlakuan subsidi yang hanya berlaku untuk mereka yang benar-benar membutuhkan, miris melihat mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang rela melintasi kota, gunung, bahkan lembah, hanya demi memenuhi presensi tanpa sedikit pun memanfaatkan waktu di kelas secara maksimal. Memang, hadir fisik itu penting. Tapi lebih penting lagi esensi kehadiran itu sendiri: apakah duduk di bangku kelas hanya untuk mengejar absensi, atau seharusnya demi memperluas cakrawala pengetahuan? Minimal, kalau presentasi ya jangan lihat HP gitu dong!.

Lucunya, banyak mahasiswa PTN yang begitu ngirit dalam berpikir, sekadar datang lalu pulang, tak ada ambisi untuk berdiskusi atau berkontribusi dalam kelas. Ketika dosen mengatakan “apakah ada yang mau bertanya?” mereka secara kompak diam dan berlagak mendengarkan tanpa mengacungkan tangan. Namun, ketika ditanya “apakah ada yang belum diabsen?” mahasiswa yang datang terlambat langsung dengan PD-nya ngomong “Saya Pak”. Padahal, subsidi BBM yang mereka nikmati itu dibayar oleh pajak yang dikumpulkan dari seluruh rakyat. Ironis, bukan? Dengan fasilitas kuliah bersubsidi, pendidikan murah, hingga BBM yang diringankan, mahasiswa seperti ini hanya memanfaatkan semua fasilitas itu untuk sekadar mencentang daftar hadir. Otak irit, kalau tidak mau dibilang sekalian kosong (maklum, yang begini agak sensitif).

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan jika kita melihat mahasiswa ini adalah calon pemimpin bangsa. Dengan mentalitas “asal hadir,” apakah mereka nanti akan membawa negara ini menuju perbaikan? Haruskah pemerintah mulai mempertimbangkan untuk mencabut subsidi jika hasilnya cuma menghasilkan generasi yang tak peka terhadap nilai-nilai pendidikan dan tanggung jawab sosial? Mungkin , mahasiswa perlu diingatkan lagi tentang esensi subsidi: bukan untuk malas-malasan dan hanya ngejar absen, tapi sebagai wujud tanggung jawab untuk belajar yang benar-benar berharga.

Sipaling Rakyat, Melebihi Merakyatnya DPR

Mahasiswa, terutama yang di PTN, selalu jadi sipaling kalau urusan demo soal harga BBM. Begitu ada pengumuman BBM naik, langsung mereka turun ke jalan. Teriak-teriak “atas nama rakyat,” menggebu-gebu, bawa spanduk dan orasi panjang, pokoknya semangat menggelegar. Mereka ingin dilihat lebih merakyat daripada rakyat itu sendiri, bahkan mungkin melebihi para wakil rakyat di DPR yang sesekali suka hilang di saat-saat penting.

Tapi, begini… ketika tujuannya tercapai, BBM disubsidi kembali atau tidak jadi naik, mahasiswa ini mendadak anteng, seperti jagoan yang selesai nonton pertunjukan. Tapi, perhatikan deh: kok dampaknya untuk diri sendiri kadang nggak seberapa? Tetap saja, absensi dikejar tapi semangat belajar entah ke mana.

Sebenarnya, kalau memang murni ingin jadi pembela rakyat, ya harusnya di kelas itu semangatnya juga membela akal. Ngapain demo harga BBM kalau dalam kelas masih datang cuma buat numpang tanda tangan, tanpa peduli prosesnya? Kalau begini, bukankah lebih baik mahasiswa ini nggak usah bawa-bawa rakyat sebagai alasan? Karena rakyat pun mikir, mereka nggak mau diwakili sama yang “otaknya irit,” yang pikirannya malas berkembang.

Katanya, “Menuju Indonesia Emas 2045”

Ada cita-cita mulia yang dicanangkan bangsa kita, yaitu Indonesia Emas 2045. Tapi, ironisnya, kalau kita lihat kondisi mahasiswa sekarang, cita-cita itu bisa berubah jadi “Indonesia Cemas 2045.” Bayangkan, mahasiswa yang katanya calon penerus bangsa malah sibuk mengejar absensi daripada mengasah pemikiran kritis dan berkontribusi di kelas. Seolah-olah tujuan pendidikan hanya untuk sekadar tanda tangan, bukan untuk mencetak generasi yang siap bersaing dan berinovasi.

Indonesia punya Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) sebagai fondasi menuju 2045 yang kuat. Tapi apa jadinya kalau generasi yang seharusnya mewujudkan rencana ini malah lebih peduli soal datang-pulang daripada aktif belajar? Jangan-jangan, daripada jadi “Emas 2045,” kita malah sibuk berdebar-debar menuju “Cemas 2045.” Bukannya membangun bangsa, justru kita menyiapkan ladang masalah yang lebih besar di masa depan.

Pada Akhirnya, Masa Depan Tidak Akan Menunggu Kita yang Cuma Numpang Absen

Subsidi BBM diberikan untuk meringankan beban mereka yang benar-benar membutuhkan, mahasiswa PTN seharusnya bisa menjadi salah satu kelompok yang memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dengan serius, bukan sekadar datang ke kampus untuk menandatangani absen. Tapi kenyataannya, banyak yang lebih sibuk mengejar tanda hadir daripada memperkaya diri dengan pengetahuan yang seharusnya menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan masa depan.

Jika terus begini, kita hanya akan menghasilkan generasi yang hadir fisik di ruang kelas, namun kosong secara intelektual. Padahal, Indonesia Emas 2045 tidak akan terbentuk dari mereka yang malas berpikir dan berusaha. Masa depan bangsa ini tidak akan menunggu mahasiswa yang datang hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa menggali kesempatan untuk berkembang.

Coba bayangkan, kalau para mahasiswa lebih memilih untuk sekadar memenuhi absen daripada memanfaatkan waktu di kelas untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif, apa yang akan terjadi pada bangsa ini di masa depan? Pembangunan bangsa memerlukan lebih dari sekadar kehadiran fisik; kita butuh pemikiran, inovasi, dan kontribusi nyata.

Jadi, jika kita ingin benar-benar mencapai Indonesia Emas 2045, saatnya mahasiswa berhenti hanya numpang absen. Jangan biarkan masa depan yang penuh harapan itu menunggu kita yang hanya ingin berada di sana tanpa tujuan. Kita harus mulai berpikir, bertindak, dan belajar dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar hadir.

Penulis: Hadi Subhan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini