Beranda Opini Peran Pesantren dalam Mencetak Generasi Moderat dan Toleran

Peran Pesantren dalam Mencetak Generasi Moderat dan Toleran

0

Oleh: Said Kosim*

Di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi digital, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya sikap intoleransi, polarisasi sosial, hingga potensi radikalisme. Fenomena ini tidak hanya mengancam kerukunan umat beragama, tetapi juga berpotensi merusak sendi-sendi persatuan bangsa. Radikalisme kerap menyasar generasi muda yang sedang mencari jati diri, dengan memanfaatkan media sosial dan narasi keagamaan yang dipelintir. Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan yang mampu menanamkan nilai kebersamaan, sikap toleran, dan moderasi beragama menjadi sangat penting.

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, hadir bukan sekadar mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Tradisi pesantren yang berakar pada Ahlussunnah wal Jama’ah menjadikannya benteng dalam menjaga keseimbangan antara agama dan kehidupan sosial. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tetapi juga pusat pembentukan karakter, tempat mengasah kemandirian, dan ladang pengabdian sosial. Oleh karena itu, membahas peran pesantren dalam mencetak generasi moderat dan toleran menjadi relevan untuk menegaskan kontribusi pesantren terhadap masa depan bangsa Indonesia.

Sejak awal berdirinya, pesantren menempatkan pendidikan akhlak dan pembentukan karakter sebagai inti dari proses pembelajaran. Berbeda dengan sekolah formal yang lebih menekankan aspek kognitif, pesantren menghadirkan keseimbangan antara ilmu, adab, dan pengamalan nilai kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya diajarkan membaca kitab kuning dan memahami ilmu agama, tetapi juga dilatih untuk hidup sederhana, disiplin, dan mandiri.

Kehidupan di pesantren membiasakan santri dengan rutinitas penuh tanggung jawab. Mereka bangun dini hari untuk beribadah, mengikuti jadwal ngaji kitab, berpartisipasi dalam kegiatan kebersihan, hingga melayani kiai dengan penuh hormat. Tradisi seperti ngaji sorogan, bandongan, ro’an (gotong royong), dan khidmah (pengabdian) membentuk karakter santri menjadi pribadi yang rendah hati, sabar, tekun, dan peduli pada sesama.

Nilai-nilai yang ditanamkan melalui pola pendidikan seperti ini sangat relevan dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Dengan bekal karakter kuat, santri tumbuh sebagai pribadi yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas, sekaligus menjadi agen toleransi di masyarakat. Selain fokus pada pendidikan karakter, pesantren juga berperan sebagai pusat penanaman nilai moderasi beragama.

Konsep tawassuth (jalan tengah), tasamuh (toleransi), dan i’tidal (keadilan) diajarkan melalui kajian kitab klasik yang berlandaskan pada pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Melalui pendalaman ilmu fikih, akhlak, dan tasawuf, santri diarahkan untuk memahami Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin), bukan sebagai ideologi yang sempit dan kaku.

Moderasi ini tampak nyata dalam praktik kehidupan santri sehari-hari. Mereka dibiasakan hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang budaya dan daerah, bahkan terkadang lintas tradisi. Perbedaan cara berpikir dan kebiasaan justru dijadikan sarana pembelajaran untuk saling menghargai. Pesantren juga menekankan sikap hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman), sehingga nilai toleransi yang dibangun tidak hanya terbatas pada relasi antaragama, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk loyalitas terhadap bangsa dan negara.

Dengan pendekatan seperti ini, pesantren berfungsi sebagai benteng penting dalam menangkal paham radikal yang kerap menyesatkan generasi muda. Santri dididik agar tidak terjebak dalam sikap ekstrem, baik kanan maupun kiri, tetapi justru tumbuh sebagai generasi moderat yang mampu menjaga harmoni dalam masyarakat majemuk. Sejarah mencatat bahwa pesantren memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Pada masa penjajahan, banyak ulama dan kiai pesantren yang terjun langsung memimpin perlawanan, menanamkan semangat jihad fi sabilillah yang dimaknai sebagai perjuangan mempertahankan tanah air. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digagas KH. Hasyim Asy’ari, misalnya, menjadi bukti nyata kontribusi pesantren dalam menjaga kedaulatan bangsa. Di era modern, peran pesantren tidak berhenti pada perjuangan fisik.

Pesantren kini berkontribusi dalam bidang pendidikan formal, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan masyarakat sipil. Banyak pesantren mengembangkan unit usaha, koperasi, bahkan perguruan tinggi yang memperluas dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pesantren menjadi agen pemberdayaan masyarakat dengan mengajarkan kemandirian, kreativitas, dan kebersamaan.

Selain itu, pesantren juga aktif dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural Indonesia. Melalui pengajian, dakwah, dan kegiatan sosial, pesantren mendorong lahirnya masyarakat yang saling menghargai perbedaan. Dengan demikian, pesantren berfungsi ganda: sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus motor penggerak sosial kebangsaan. Meski memiliki kontribusi besar, pesantren tidak lepas dari berbagai tantangan. Stigma kuno masih melekat di sebagian kalangan, seolah pesantren hanya fokus pada kajian agama tanpa memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu, munculnya isu radikalisme yang sesekali dikaitkan dengan dunia pesantren turut menjadi tantangan serius dalam menjaga citra lembaga ini. Tidak sedikit pesantren yang juga menghadapi keterbatasan sarana, prasarana, dan akses teknologi. Namun demikian, peluang dan harapan bagi pesantren tetap terbuka lebar. Pesantren dapat terus berkembang dengan melakukan inovasi kurikulum, mengintegrasikan teknologi digital, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak. Program modernisasi tanpa meninggalkan nilai tradisi akan menjadikan pesantren semakin relevan di tengah perkembangan zaman. Pesantren di masa depan diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat lahirnya inovasi sosial, kewirausahaan, dan ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, pesantren akan terus memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga moderat, toleran, dan berdaya saing tinggi. Pesantren adalah salah satu pilar penting dalam pendidikan Indonesia. Melalui pendidikan karakter, penanaman nilai moderasi, serta kontribusi sosial kebangsaan, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai benteng moral sekaligus penjaga persatuan bangsa.

Meski menghadapi berbagai tantangan, pesantren memiliki potensi besar untuk terus berkembang dengan beradaptasi pada perkembangan zaman. Meneguhkan kembali nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkuat cinta tanah air, serta membuka diri terhadap inovasi adalah kunci agar pesantren tetap relevan dan kokoh. Dengan demikian, pesantren akan terus mencetak generasi moderat dan toleran yang mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih damai, adil, dan beradab.

*Penulis merupakan mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini