Guyuran deras hujan yang membenturi atap berbahan logam Gedung Olah Raga Unikal malam itu seolah menjadi tetabuhan. Gemuruh suaranya memenuhi seisi ruangan, menenggelamkan segenap suara. Tak terkecuali, suara para aktor yang tengah mementaskan sebuah naskah teater bertajuk “Lintang Kemukus” karya Dini Ulfiana.

Selama lebih kurang satu jam pentas teater itu nyaris menjadi pementasan tanpa percakapan. Yang tampak hanya gerak-gerik para aktor di atas panggung. Sayang, gerakan para aktor tak cukup diperkuat dengan ekspresi maupun gestur yang dimainkan. Membuat penonton tak cukup mampu menangkap peristiwa yang sedang dihadirkan dalam setiap adegan.

Memang, suara gemuruh yang begitu nyaring itu sangat mengganggu. Tak hanya bagi pendengaran penonton, suara itu juga membuat konsentrasi penonton di dalam menikmati sajian panggung turut terganggu. Sebab, pentas yang dimainkan cenderung mengambil bentuk teater realis.

Cara aktor memainkan peran juga masih menggunakan gerakan dan ekspresi keseharian. Yaitu, gerakan dan ekspresi yang biasa mereka lakukan dalam keseharian mereka, tanpa memberikan penekanan yang intens atas gerakan dan ekspresi mereka. Tentu, hal itu cukup menyulitkan penonton di dalam menangkap maksud dari setiap gerakan dan ekspresi para aktor.

Begitu pula cara aktor mengucapkan dialog-dialog. Mereka masih menggunakan teknik pengucapan yang biasa. Tempo, dinamik, penjedaan, intonasi, maupun artikulasi kurang dimainkan dengan intens.

Tak ayal, kalau di salah satu deret penonton yang duduk melantai di atas alas lembar-lembar MMT muncul celatukan, “Nggak kedengeran suaranya. Nggak ngerti ceritanya. Terus apa nih yang kita tonton?”

Celatukan itu tak bisa dianggap sepele. Apalagi untuk mendapatkan kesempatan menonton pentas teater ini setiap penonton mesti membayarkan sejumlah uang demi selembar tiket. Artinya, penonton memiliki hak untuk benar-benar dapat menikmati pementasan itu sampai puas.

Sebagai konsekuensi, penyelenggara maupun penampil mesti menyadari kebutuhan penonton. Bahwa penonton ingin dipuaskan dan mendapatkan kesan mendalam dari apa yang telah mereka keluarkan dari dompet. Bahkan, kalau ditinjau dari bisnis, biaya yang dikeluarkan seorang penonton tak hanya sejumlah uang tiket. Akan tetapi, juga luang waktu, tenaga, pikiran, dan juga hal-hal lain. Uang bensin agar sampai di lokasi pertunjukan, misalnya.

Tentu, apabila semua hal itu turut diperhitungkan dan menjadi pertimbangan, baik penyelenggara maupun penampil akan membuat pementasan itu sebagai persembahan yang dilandasi kesadaran etik dan estetik. Kesadaran etik menjadi dasar semua pihak untuk saling menghargai dan menghormati hak masing-masing. Kesadaran eststik adalah dasar bagi upaya serius untuk menjadikan pementasan itu sebagai persembahan yang tujuannya menyampaikan pesan-pesan dibalut keindahan, sehingga memberikan sebuah pengalaman yang mengesankan serta bermakna bagi semua pihak yang terlibat.

Sebagai gambaran, saat hendak memilih warung makan, seseorang tak sekadar ingin membuat perut kenyang. Akan tetapi, ia juga akan mempertimbangkan menu, cita rasa, pelayanan, keramahan, kemudahan akses, fasilitas pendukung, kebersihan, harga, dan semua hal yang akan memuaskan selera. Apabila dirasa masuk ke sebuah warung yang tak cocok, maka kesan buruklah yang ia terima. Berbeda ketika ia memilih warung yang cocok, pastinya kesan yang baiklah yang ia dapatkan.

Di kemudian hari, kesan baik itu akan membekas dalam ingatannya. Bahkan, menjadi preferensi baginya. Ia akan merekomendasikan warung yang membuatnya terkesan itu. Tentu, dengan pertimbangan-pertimbangan pula.

Oh, teater beda! Tidak bisa disamakan dengan warung makan. Betul, teater memang tidak sama dengan warung makan. Akan tetapi, mari kita pelajari secara saksama.

Proses penggarapan sebuah pentas teater itu kompleks, baik dari sisi konsep, waktu latihan, dan segala kelengkapan yang harus disediakan. Semua harus disiapkan secara matang. Diolah sedemikian rupa, agar pesan-pesan tersampaikan dengan baik syukur memberi kesan mendalam bagi penonton.

Demikian pula dalam membuat menu makanan di sebuah warung makan. Butuh konsep, memperhitungkan lamanya memasak, bahan-bahan, peralatan, tenaga, teknik penyajian, dan aneka macam kebutuhan. Semua juga mesti dilakukan dengan cermat. Seorang juru masak atau pula pramusaji mesti menguasai berbagai macam teknik memasak. Bahkan, ketika ia salah sedikit dalam menggunakan alat-alat memasak, bisa jadi celaka. Bukan hanya rasanya yang tak enak, bisa saja jarinya terluka, tangannya terbakar, atau bahkan dapurnya yang terbakar. Akibatnya, ia bisa saja kehilangan pekerjaan atau bahkan nyawanya melayang.

Tetapi, ada yang lebih penting dari itu semua. Yaitu, kesungguhan yang dilahirkan dari rasa cinta. Seorang aktor, sutradara, penata artistik, penata musik, dan segenap kelengkapan lainnya adalah orang-orang yang memiliki rasa cinta pada dunia panggung yang mereka geluti. Dari rasa cinta itu, mereka selalu ingin membuat setiap pementasan yang digarap bukan hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri. Akan tetapi, karena rasa cintanya pada teater, ia akan membuat pementasan itu bisa dinikmati penonton. Mengapa? Karena ia tak ingin membuat dunia teater yang ia cintai ternoda gara-gara ulahnya.

Hal serupa juga terjadi pada seorang juru masak atau pramusaji. Ia akan memasak dengan sungguh-sungguh agar masakan itu benar-benar mampu memanjakan selera lidah pelanggannya. Bukan hanya enak di lidahnya sendiri, tapi tak cukup membuat pelanggan berselera. Akan fatal akibatnya, kalau ia hanya mempertimbangkan selera lidahnya sendiri dan mengabaikan selera lidah orang lain. Ia tidak hanya akan mencoreng nama baik warung makan tempat ia bekerja, melainkan pula mencoreng namanya sendiri dan bisa saja membuat dunia masak-memasak terganggu.

Jadi, kalau berkaca pada dua hal itu, dapat ditarik benang merah, bahwa teater, warung makan, maupun dunia-dunia kecil lainnya hanyalah sebuah sarana aktualisasi diri setiap pribadi. Tujuan utamanya tiada lain adalah membuat sebuah persembahan bagi dunia yang dicintai demi menciptakan pengalaman-pengalaman estetis yang disarati pesan dan kesan. Teater, warung makan, juga dunia kecil lainnya merupakan panggung bagi tiap orang untuk memainkan peran bagi kehidupan.

Kembali pada pementasan “Lintang Kemukus” yang oleh penulis naskahnya terilhami tradisi ritus di Gunung Kemukus. Pentas yang dihelat Selasa malam, 20 Januari 2026 itu cukup memberi kesan. Setidaknya, terlihat dari bagaimana penonton yang begitu tenang dan bersabar menonton permainan. Mereka tak memedulikan suara gemuruh atap yang mengganggu.

Para aktor juga berusaha keras mengalahkan suara yang mengganggu itu. Lebih melantangkan suara mereka agar sampai pada penonton paling belakang. Sayang, usaha itu tak cukup mampu mengubah keadaan.

Namun, upaya itu tak berhenti sampai di situ. Di tengah-tengah pentas, seorang petugas menempatkan mikrofon ke tengah panggung. Kali ini upaya itu sedikit membantu. Hanya, suara pelantang tak cukup mampu mengatasi masalah gema. Maklum, gedung mewah itu tak dilengkapi peredam suara. Tak ayal, jika suara vokal pemain hanya lamat-lamat terdengar, ditimpa suara gemuruh atap yang memang tak bisa diatasi.

Tampaknya, gedung mewah itu tak dirancang untuk pertunjukan. Tak hanya masalah suara, gedung itu juga tak menyediakan panggung yang lebih tinggi. Para pemain hanya memanfaatkan lantai yang sama tinggi dengan tempat penonton duduk lesehan. Sehingga, saat adegan pemain duduk melantai aksi pemain hanya bisa disaksikan penonton paling depan. Selebihnya, akan terhalang punggung penonton lainnya.

Tak nampak juga rangka besi yang difungsikan untuk menempatkan lampu atau perangkat dukung lainnya. Malah, penyelenggara hanya mengandalkan rangka besi yang biasanya digunakan untuk kebutuhan hajatan. Meski dapat mengatasi masalah peralatan yang dibutuhkan pentas, secara estetika, keberadaan rangka besi itu agak mengganggu estetika panggung.

Ah, sepertinya memang sudah menjadi kebutuhan, ruangan dengan kapasitas yang cukup besar untuk pementasan seni pertunjukan yang representatif. Sehingga, masalah suara maupun masalah teknis lainnya dapat diatasi dengan lebih baik. Agar, penonton benar-benar dapat menikmati sajian permainan. Mendapatkan pesan cerita sekaligus pengalaman yang mendalam dan bermakna. Sayang, malam itu pesan dan kesan yang diharapkan agaknya tak cukup mampu ditangkap. Walau begitu, besar harapan agar peristiwa malam itu tak membuat geliat teater di kampus menjadi surut dan kehilangan penonton. Semoga, akan ada penyempurnaan di hari mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini