Oleh: M. Khaqim (Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan)
Ketupat merupakan salah satu makanan khas yang identik dengan perayaan Idulfitri di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Lebih dari sekadar hidangan, ketupat memiliki makna filosofis yang dalam dan berkaitan erat dengan dakwah Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Melalui pendekatan budaya, beliau berhasil menjadikan ketupat sebagai simbol spiritual, sosial, dan religius dalam masyarakat. Sunan Kalijaga sangat terkenal dalam metoda dakwah untuk menyebarluaskan agama Islam di Nusantara ini.
Ketupat sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak lama, tetapi penggunaannya sebagai simbol dalam perayaan Lebaran dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15–16, khususnya pada masa Kesultanan Demak. Tak hanya sekadar makanan pelengkap opor ayam dan sambal goreng ati, ketupat ternyata menyimpan filosofi mendalam yang merepresentasikan nilai-nilai spiritual dan sosial umat Islam dalam merayakan hari kemenangan.
Berbentuk belah ketupat dan dibungkus dengan anyaman janur (daun kelapa muda), makanan ini telah menjadi simbol budaya dan religi yang sarat makna. Di balik bentuk dan cara pembuatannya, ketupat mengandung empat makna utama yang dikenal sebagai “laku papat” atau empat laku, sebagaimana diwariskan oleh Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media dakwah dengan cara mengadaptasi budaya lokal (seperti tradisi slametan) agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi Lebaran Ketupat, yang biasanya dirayakan beberapa hari setelah Idul fitri.
Filosofi Ketupat Perspektif Raden Sunan Kalijaga
Ketupat tidak hanya sekadar makanan, juga tidak sekedar hidangan seremonial dalam agama Islam khususnya jelang Idul Fitri yang disuguhkan didalam masjid maupun rumah-rumah disaat ada tamu bersilaturrahmi , jauh dari itu ketupat juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang dalam. Beberapa makna filosofisnya antara lain:
- Ngaku Lepat (Mengakui Kesalahan)
Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari bahasa Jawa ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Ini sejalan dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran. Dan ini sesuai tuntunan al-qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
- Laku Papat (Empat Tindakan Spiritual)
Sunan Kalijaga mengajarkan empat konsep utama yang disebut laku papat secara singkat sebagai berikut :
- Lebaran: selesai berpuasa, kembali suci
- Luberan: berbagi rezeki kepada sesama
- Leburan: melebur dosa dengan saling memaafkan
- Laburan: menjaga kesucian diri
- Anyaman Janur
Anyaman daun kelapa (janur) yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang kompleks. Setelah dibuka, terlihat nasi putih bersih yang melambangkan hati yang suci setelah memohon ampun, dan ini juga sesuai ajaran Rasulullah SAW.
- Bentuk Segi Empat
Bentuk ketupat yang simetris mencerminkan keseimbangan hidup serta arah kehidupan manusia yang harus tetap berlandaskan nilai-nilai kebaikan. Bukan nilai-nilai kesombongan apalagi nilai-nilai arogansi spiritualitas, karena ketupat dengan bentuk segi empat yang presisi melambangkan kesucian berbanding lurus dengan kebaikan.
- Ketupat sebagai Media Dakwah
Pendekatan Sunan Kalijaga sangat unik karena menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal. Ketupat dijadikan simbol untuk mengajarkan: pentingnya silaturahmi, budaya saling memaafkan, nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Dengan cara ini, Islam dapat diterima secara damai tanpa menghilangkan tradisi masyarakat setempat.
Perkembangan Tradisi Ketupat Negara Indonesia
Hingga saat ini, ketupat tetap menjadi bagian penting dalam perayaan Lebaran di Indonesia. Tradisi seperti: memasak ketupat bersama keluarga, berbagi kepada tetangga, merayakan lebaran ketupat, menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan antar masyarakat. Sangat kental dengan nilai-nilai Keindonesiaan serta nilai-nilai kebersamaan dengan disatukan oleh kekuatan spiritual lahir dan batin. Karena Negara Indonesia sangat terkenal harmonis baik harmonis sesama manusia, alam maupun harmonis dengan tuhannya.





