Beranda Opini DULU DAN KINI: Menulis, Antara Cinta dan Tuntutan

DULU DAN KINI: Menulis, Antara Cinta dan Tuntutan

0

Oleh: M. Nasrudin Rahmat (Ketua PC ISNU Kab. Pekalongan)

Dulu, menulis buku adalah sebuah panggilan jiwa. Para ilmuwan dan agamawan masa lalu mencurahkan segenap hati dan pikiran ke dalam setiap kata yang mereka tulis. Dorongan semata-mata adalah kecintaan mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan kebenaran. Demi mengejar pemahaman yang lebih mendalam, mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kehidupan pribadi. Hasilnya? Karya-karya monumental yang menginspirasi dan memandu peradaban manusia selama berabad-abad.

Kontras dengan masa lalu, motivasi menulis saat ini seringkali didorong oleh tuntutan administratif. Para akademisi, khususnya mereka yang berkarir di perguruan tinggi, dituntut untuk mempublikasikan karya ilmiah secara berkala sebagai salah satu syarat kenaikan jabatan atau kelulusan program studi. Akibatnya, semangat untuk menghasilkan karya berkualitas tinggi seringkali terkikis oleh tekanan untuk memenuhi target publikasi. Banyak penelitian yang dilakukan hanya sekedar untuk memenuhi kuota, tanpa adanya dorongan yang kuat untuk menghasilkan temuan-temuan baru yang bermakna.

Konsekuensi dari perubahan motivasi menulis ini sangat terasa. Karya-karya ilmiah yang dihasilkan saat ini seringkali bersifat repetitif, kurang orisinal, dan tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Padahal, proses penelitian dan penulisan karya ilmiah membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber daya yang tidak sedikit. Anggaran yang besar dialokasikan untuk penelitian, namun hasilnya seringkali kurang memuaskan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat mengembalikan semangat menulis yang tulus dan berorientasi pada pencarian kebenaran? Salah satu caranya adalah dengan menciptakan lingkungan akademik yang lebih kondusif bagi tumbuhnya kreativitas dan inovasi. Peneliti harus diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide baru tanpa harus terbebani oleh target publikasi yang terlalu ketat.

Selain itu, sistem evaluasi kinerja akademik juga perlu diperbaiki agar lebih menekankan pada kualitas daripada kuantitas karya yang dihasilkan. Dengan demikian, kita dapat berharap akan lahir kembali karya-karya monumental yang mampu menginspirasi generasi mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini