Pau Cubarsi tampil luar biasa di Piala Dunia 2026 kali ini. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa salah satu bek muda terbaik dunia itu pernah menginjak rumput Stadion Manahan, Solo. Jauh sebelum namanya dielu-elukan di Camp Nou dan menjadi benteng pertahanan tim nasional Spanyol, Cubarsí hanyalah seorang remaja akademi Barcelona yang datang ke Kota Kelahiran Jokowi untuk mengikuti ajang kelompok umur. Kini, perjalanan itu terasa seperti sebuah pertanda. Dari Solo, langkahnya terus melesat hingga mengantar Spanyol melaju ke final Piala Dunia 2026, usai menaklukkan Prancis 2-0.
Lahir di Estanyol, Girona, pada 22 Januari 2007, Pau Cubarsí tumbuh sebagai produk murni akademi La Masia. Berbeda dengan citra bek tengah pada umumnya yang mengandalkan fisik semata, Cubarsí justru dikenal karena ketenangan, kecerdasan membaca permainan, serta kemampuan membangun serangan dari lini belakang. Ia seolah mewarisi filosofi sepak bola Barcelona: bertahan dengan otak sebelum mengandalkan tenaga.
Indonesia menjadi salah satu saksi awal perkembangan bakatnya. Pada ajang Piala Dunia U-17 2023, Cubarsí tampil membela Spanyol di berbagai kota di Indonesia, salah satunya di Stadion Manahan Solo. Kehadiran pemain muda Barcelona itu saat itu belum banyak mendapat sorotan. Publik lebih terpukau oleh para penyerang muda yang gemar mencetak gol. Namun bagi para pencari bakat dan pengamat sepak bola, Cubarsí telah memperlihatkan kualitas langka: bermain tenang tanpa panik, bahkan ketika menghadapi tekanan tinggi.
Sepulang dari Indonesia, kariernya berkembang sangat cepat. Pada awal 2024, ia melakoni debut bersama tim utama Barcelona di usia yang bahkan belum genap 17 tahun. Pelatih Xavi Hernández langsung memberikan kepercayaan besar kepadanya karena kematangan yang jauh melampaui usianya. Banyak pengamat bahkan membandingkan ketenangannya dengan bek-bek senior yang telah bermain ratusan pertandingan di level elite.
Tak butuh waktu lama, pintu tim nasional senior Spanyol pun terbuka. Debut internasionalnya pada 22 Maret 2024, saat La Furia Roja melawan Kolombia, menjadi awal perjalanan yang luar biasa. Cubarsí berkembang menjadi pilihan utama di jantung pertahanan La Roja. Meski masih sangat muda, ia menunjukkan kualitas sebagai pemimpin lini belakang, mampu mengatur organisasi pertahanan sekaligus memulai serangan dengan umpan-umpan akurat dari belakang.
Perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian berikutnya. Bersama generasi emas baru yang dipenuhi talenta muda, Cubarsí menjadi salah satu fondasi utama pertahanan. Spanyol berhasil melewati babak gugur dengan mengalahkan Portugal, Belgia, hingga menundukkan Prancis di semifinal untuk memastikan tiket menuju partai puncak. Penampilan Cubarsí kembali menuai pujian karena konsistensinya menjaga lini belakang tetap solid sepanjang turnamen.
Kisah Cubarsí menyimpan pelajaran penting bagi sepak bola Indonesia. Kehadiran turnamen internasional ternyata bukan sekadar perayaan olahraga, tetapi juga kesempatan menyaksikan lahirnya bintang-bintang masa depan. Ketika masyarakat Solo menikmati atmosfer Piala Dunia U-17 beberapa tahun lalu, mungkin tidak ada yang membayangkan bahwa salah seorang remaja yang berlari di lapangan, dan berlatih di lapangan seperti di Colomadu, kelak menjadi bek andalan Barcelona sekaligus membawa negaranya mencapai final Piala Dunia.
Bagi warga Solo, Manahan bukan hanya stadion bersejarah bagi sepak bola nasional, melainkan juga bagian kecil dari perjalanan seorang pemain kelas dunia. Rumput yang pernah diinjak Cubarsí menjadi pengingat bahwa sepak bola selalu menyimpan cerita-cerita indah yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian.
Perjalanan Pau Cubarsí membuktikan bahwa kesuksesan besar tidak lahir secara instan. Ia ditempa oleh proses panjang, disiplin, serta keberanian untuk terus belajar. Dari sebuah stadion di Solo hingga panggung terbesar sepak bola dunia, kisahnya menjadi inspirasi bahwa setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perjalanan yang luar biasa. Sebab, bagi pemain hebat, setiap lapangan adalah ruang untuk menulis sejarah.





