Beranda Opini Makna Puasa: Menahan Nafsu Keserakahan

Makna Puasa: Menahan Nafsu Keserakahan

0

Oleh: Abdul Adhim

Minggu-minggu ini masyarakat Indonesia dibuat geram oleh berita koruptor yang membabi buta, belum selesai kasus korupsi tambang 300 T, muncul kasus korupsi Pertamina yang menimbulkan kerugian negara hingga 1 Kuadriliun, yang terbaru muncul lagi korupsi LPEI ratusan Triliun. Nampaknya korupsi ini sudah menjadi budaya bagi para pejabat di Republik ini terjadi menyeluruh dan masif, dari tingkat desa hingga negara. 

Bulan Ramadhan yang mengajarkan kepada umat Islam untuk menjaga nafsu keserakahan, sangatlah diresapi dan dipahami bagi yang menjalankan. Betapa tidak, saat siang bolong banyak orang yang sudah merencanakan untuk membeli makanan ini dan itu, dan sore harinya mereka berburu takjil dengan banyak membeli makanan, namun saat  adzan maghrib berkumandang dengan meminum segelas teh hangat dan sepiring nasi rasanya perut sudah kenyang dan tidak mampu untuk diisi oleh makanan lain. 

Puasa mengajarkan kepada manusia bahwa nafsu keinginan untuk ini dan itu betapa luar biasa, namun kenyataan yang ada mau sekaya apapun orang tersebut kapasitas manusia cukup hanya dengan segelas air dan sepiring nasi. 

Keserakahan nampaknya menjadi sifat dasar manusia,  untuk itu Rasulullah mengingatkan dalam sebuah hadits yang masyhur yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Man Shoma Romdhona Imanan Wahtisaban Ghufira lahu Ma Taqaddama min dzanbih. Yang artinya Barangsiapa yang berpuasa dengan keimanan dan mengharap ridho (pahala) dari Allah SWT, maka dosa masa lalunya akan diampuni. Kata kuncinya adalah Keimanan dan memohon Ridho Allah, kalau saja manusia mampu memiliki 2 hal tersebut maka nafsu keserakahan ini bisa terkontrol karena dia sadar bahwa Allah SWT selalu mengawasinya. 

Perilaku koruptor yang membuat geram masyarakat Indonesia ini, sesuai dengan Hadits Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Sahabat Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 5956).

Itulah sifat dasar manusia yang penuh dengan keserakahan. Puasa hendaknya menjadi media belajar dan waktu yang tepat untuk muhasabah, taqarrub ilallah, tidak ada hal lain yang dituju dalam kehidupan di dunia ini selain mempersiapkan kematian dengan membawa amal sholih, semoga kita semua diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini