Pekalongan – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kota dan Kabupaten Pekalongan menggelar sarasehan bertema “Dari Ideologi ke Teknologi: Kiprah PMII dalam Menghadapi Era Artificial Intelligence” pada Senin (3/11/2025) malam di Gedung Aswaja, Kota Pekalongan.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Imam Machali, S.Pd.I., M.Pd., Direktur Omah PMII Yogyakarta sekaligus pengurus ADP PB PMII. Dalam diskusi tersebut, PMII membahas bagaimana mentransformasi perjuangan klasik melawan penindasan politik menjadi advokasi yang relevan di tengah dominasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan masyarakat digital.
Arah Kapal di Tengah Gelombang Besar
Diskusi yang dipadati aktivis dan akademisi ini dibuka oleh moderator Farizul Haq, yang segera meletakkan kerangka berpikir kritis bagi peserta.
“Jika AI adalah gelombang besar yang tak terhindarkan, maka tantangan fundamental kita adalah: bagaimana PMII tidak hanya ‘berselancar’ mengikuti arus tren, tetapi juga ‘menjaga arah kapal’ ideologi kita. Kita harus memastikan kapal pergerakan tidak karam dan tidak kehilangan tujuan hakiki hanya karena tergiur kecepatan teknologi,” ujar Farizul Haq, menyoroti urgensi mempertahankan komitmen ideologis di era disrupsi.
Latar belakang pergeseran ini adalah transformasi “lawan” atau fokus perjuangan. Jika di masa lalu PMII melawan penindasan yang bersifat kasat mata dan politis, kini perjuangan berhadapan dengan entitas yang lebih abstrak: algoritma yang bias dan monopoli data oleh segelintir korporasi teknologi global.
Kapitalisme Data: Bentuk Baru Eksploitasi
Pembahasan mendalam menyoroti lahirnya Kapitalisme Data, di mana eksploitasi bergeser dari alat produksi fisik menuju ekstraksi informasi dan perilaku digital. Konteks ini diperkuat dengan analogi kritik terhadap korporasi besar—seperti halnya perusahaan yang sukses dalam konteks pasar (mengacu pada kritik terhadap sistem ‘Sido Realty’ dalam notulensi)—di mana profit dan nilai pasar menjadi tolok ukur utama tanpa mempertimbangkan dampak sosial.
Penindasan kini mengambil bentuk pengawasan massal dan otomasi diskriminatif dalam sistem rekrutmen atau perbankan, yang merugikan kelompok rentan.
Prof. Imam Mahali menekankan bahwa respons PMII harus dimulai dari basis intelektual yang kuat.
“Pergeseran dari ideologi ke teknologi tidak boleh ditanggapi secara dangkal, melainkan menuntut kita untuk mengaktifkan kembali nalar intelektual dan daya kritis kita. PMII harus mampu menganalisis secara fundamental bagaimana Kapitalisme Data ini bekerja, dan bagaimana kita melawan penindasan yang kini bersifat algoritmik, sehingga pemikiran kita tidak tertinggal dari laju zaman,” jelas Prof. Mahali, menyoroti bahwa relevansi pergerakan kini diukur dari kualitas pemikiran yang dihasilkan.
Ancaman Hiperrealitas Terhadap Gerakan
Ancaman strategis lainnya adalah fenomena Hiperrealitas, kondisi di mana citra dan simulasi di media digital terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. PMII berisiko besar terjebak dalam “aktivisme simulakra”: aksi yang hanya ramai di permukaan digital, berburu trending topic, tetapi gagal menghasilkan perubahan struktural di akar rumput.
“Jika kita tidak hati-hati, nilai-nilai ideologis PMII, seperti persaudaraan dan keadilan, hanya akan menjadi tanda atau branding digital tanpa kedalaman makna, karena fokus kita terdistraksi oleh validasi digital,” jelasnya.
Jalan ke Depan: Politik Pengetahuan dan Kapasitas Kader
Untuk mengatasi tantangan ganda ini, PMII didesak untuk bertransformasi menjadi gerakan yang berfokus pada politik pengetahuan dan literasi digital. Agenda strategis PMII yang harus di jalankan. Re-autentikasi Ideologi: Menjadikan nilai-nilai dasar sebagai kompas moral untuk mengarahkan penggunaan teknologi, bukan sebagai beban yang harus ditinggalkan.
Di akhir diskusi, Sahabat Saiful Amri memberikan penekanan yang kuat pada tindak lanjut. Ia menggarisbawahi bahwa wacana harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata.
“Ruang diskusi seperti ini lah yang menarik, tetapi kita tidak boleh berhenti di wacana. Harus ada langkah selanjutnya untuk bisa membentuk kader-kader yang mempunyai kapasitas yang nyata dalam bidang AI, etika digital, dan teknologi. Ini adalah satu-satunya cara agar ideologi kita tidak hanya menjadi artefak sejarah, melainkan mampu memandu peradaban baru,” tutup Saiful Amri, menyerukan agar organisasi segera memprioritaskan peningkatan skill dan kapasitas intelektual kader di bidang teknologi.
Kesimpulan dari diskusi ini jelas: keberlanjutan PMII di era AI ditentukan oleh kemampuannya untuk menguasai teknologi tanpa tergilas oleh kepentingannya, menjadikan ideologi sebagai jangkar yang kokoh di tengah badai disrupsi.
Kontributor: Farizul Haq
Editor: K. Anwar





