Ekalaya

Matari terasa lebih cepat beringsut. Membuat langit di barat tampak lebih cepat berkerut. Walau begitu, gerbang istana belum juga tampak. Padahal, kereta kuda itu ia lajukan lebih cepat dari biasanya. Dalam hening, ksatria yang menggendong anjing itu lantas merapal mantra. Memohon, kepada dewa Surya dan dewa Indra, agar tak lekas-lekas menudungi langit dengan kegelapan.

“Wahai, batara Indra, penjaga langit yang perkasa. Wahai, batara Surya, yang memelihara matahari dengan keagungan. Aku mohon, tundalah datangnya kegelapan untuk beberapa saat. Tunggulah, sampai benar-benar aku tiba di Hastina. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada maharesi Drona, guru bagi seluruh wangsa Bharata. Sesuatu yang bagiku tak wajar. Dan, wahai Dewa Antaboga, aku mohon pertolonganmu. Bukalah jalan bagi kereta kudaku agar lekas-lekas sampai di Hastina,” gumamnya.

Setelah rapalan mantra diucap, langit bergemuruh. Gugusan awan berputar-putar. Langit berkilatan. Hembusan angin mengguncang dahan-dahan pohon. Bagai hujan, guguran daun memenuhi udara.

Dalam huru-hara itu, wajah ksatria pemanah yang ia temui di hutan lekat betul pada benak. Teramat jelas. Sampai-sampai nyaris tak bisa dibedakan apakah wajah itu sekadar bayang-bayang ataukah ia nyata hadir di hadapannya.

Yang makin membuat hatinya guncang, adalah tujuh anak panah yang menyumpal mulut anjing di gendongannya tanpa membuat anjing itu mati. Pikirnya, kalau benar ksatria itu yang melakukannya, maka betapa hebatnya ia. Dan, bagaimana ia dapat menguasai ajian itu? Apalagi, ia tahu, satu-satunya orang di muka bumi yang menguasai ajian danuweda adalah gurunya, Resi Drona.

“Tidak mungkin ada orang lain yang menguasainya. Tidak mungkin!” wajahnya bergetar saat mengucapkan kata-kata itu.

Betapa keguncangan itu tak sekadar dirasakan hatinya. Langit dan bumi turut merasakan yang serupa. Bahkan, jagat Mayapada—tempat semayam para dewa—pun ikut terguncang. Pintu Kahyangan bergetar. Taman sari Astana Suralaya pun mendadak cekam. Membuat para dewa kebingungan. Gemparlah seisi jagat Mayapada!

Tak ingin kegemparan itu berlarut-larut, Batara Guru segera mengumpulkan seluruh dewa-dewi di Astana Suralaya. Sidang para dewa pun digelar. Di atas singgasana, ia tampak duduk tenang memimpin sidang. Sementara, dewa-dewa lain, mengambil tempat sebagaimana diatur dalam tata laksana jagat kedewaan. Batara Guru memulai pembicaraan.

“Kegemparan kali ini sungguh di luar dugaan. Aku dapat merasakan, ada sesuatu yang tak biasa pada putra Pandu itu. Katakan, wahai Batara Surya dan kau Batara Indra, apa gerangan yang telah ia minta darimu?” tanya Batara Guru.

“Ampun beribu ampun, Sang Hyang Manikmaya, Batara Guru yang kami muliakan, apa yang telah ia minta sungguh di luar batas kewajaran dan mengusik keseimbangan semesta. Akan tetapi, hamba tak sanggup menolak permohonan itu, Bapa. Sebagaimana kita semua tahu, putra Pandu yang satu ini begitu patuh pada darmanya. Boleh dibilang, ia adalah ksatria yang berwatak brahmana,” ucap Batara Surya.

“Ampun, Bapa. Yang dikatakan Kakanda Surya benar adanya. Begitu mantra itu keluar dari mulutnya, seisi langit gempar. Seluruh wadyabala bergegas menyambut permintaan itu. Mereka merasa gembira untuk memenuhi permintaan itu, Bapa,” sambung Batara Indra.

Batara Guru menghela napas. Sebentar termenung. Lalu, ia melanjutkan pembicaraan. Kali ini, ia memandang ke arah Antaboga.

“Aku kira, begitu pula yang terjadi padamu, wahai Antaboga?” tanya Batara Guru.

“Ampun Hyang Guru, tidak ada kekecualian pada diri putra Pandu itu. Setiap permintaannya selalu kami sambut dengan gembira,” jawab Antaboga.

“Tetapi, apa kira-kira yang membuatnya melakukan itu?” Batara Guru kembali bertanya.

“Ampun, Bapa, yang hamba dengar, ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepada gurunya, Resi Drona. Tetapi, hamba tidak tahu apa yang ingin ia sampaikan,” jawab Antaboga.

“Begitu rupanya,” ucap Batara Guru sambil menerawang. Lantas, perlahan ia alihkan pandangan matanya pada Batara Narada. “Kanda, apa pendapatmu?” tanya Batara Guru.

Batara Narada sigap menanggapi. Ia lantas bangkit dari tempat duduk. Lalu, berkata, “Dimas Batara Guru, aku yakin ia tengah menghadapi masalah besar. Kita tahu, putra pandu yang satu ini begitu alim dan santun. Alangkah aneh kalau sampai ia mengucapkan japa matra itu. Apalagi, dalam keadaan tidak sedang bertapa, melainkan di tengah perjalanan dengan kereta kudanya. Alangkah naif rasanya apabila seorang alim seperti dia sampai merasakan hatinya terguncang. Pasti ada yang tidak beres pada dirinya, Dimas.”

“Pendapat Kanda sungguh jeli. Tetapi, kita juga butuh lebih banyak lagi keterangan yang lengkap. Agar kita tahu duduk perkara yang sesungguhnya. Maka, aku minta kesediaan Kanda Narada turun ke bumi untuk menyelidiki masalah ini. Bila perlu bantuan, Kanda bisa memintanya pada Batara Ismaya. Sementara, Batara Indra, Batara Surya, dan Antaboga, aku minta pada kalian untuk menenangkan kembali keadaan yang kadung guncang ini. Jangan sampai ketidakimbangan ini membuat manusia di muka bumi berprasangka buruk atas tata semesta yang kita jaga,” pungkas Batara Guru mengakhiri sidang para dewa.

Setelah menerima perintah, Batara Narada bersiap-siap turun ke bumi. Sementara, dewa-dewa lainnya kembali ke istana masing-masing. Hanya, Batara Surya dan Indra yang masih bertahan untuk beberapa saat. Batara Narada meminta waktu sebentar.

Nakmas Surya, Dimas Indra, aku minta pada kalian tenangkan dulu jagat langit. Sebelum benar-benar tenang, aku susah turun ke bumi. Khawatir kalau ujug-ujug ada petir nyamber bisa cilaka aku. Ya, kalau nggak sampai jantungan, masih mendingan. Lha kalau ujug-ujug aku jantungan? Wah, bisa-bisa pendaratanku gagal total,” kata Batara Narada.

Ocehan Batara Narada membuat kedua batara itu tertawa geli. Bagi mereka, apa yang dikhawatirkan Batara Narada mustahil terjadi.

“Dewa kok takut kesamber petir? Paman ini ada-ada saja,” seloroh Batara Surya.

“Ini namanya antisipasi, Nakmas!” balas Batara Narada.

“Wuih, Paman Narada memang visioner rupanya! Di era kadewatan sudah bicara dengan istilah antisipasi. Dewa modern ini!” gurau Batara Indra.

“Lha, Nakmas Indra juga. Pakai istilah visioner,” balas Narada.

Aksi berbalas seloroh itu membuat ketiganya tertawa. Menertawai kelucuan mereka. Batara Narada sampai terbatuk-batuk. Indra dan Surya tak kuasa menahan perutnya yang kaku oleh tawa.

(Bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini