Oleh: Wanda Triyanti
Ilmu santet dan perdukunan masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat Indonesia, terutama di daerah-daerah tertentu. Praktik ini biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan negatif, seperti membalas dendam atau menjatuhkan lawan dalam persaingan. Orang yang menjalankan santet umumnya adalah dukun atau seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan sepiritual. Ilmu ini memang mulai langka karena jumlah orang yang menguasainya semakin sedikit, Namun, di beberapa wilayah pedesaan, praktik ini masih tetap ada dan dipercayai.
Menurut Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java, santet adalah bagian dari sistem kepercayaan magis dalam tradisi keagamaan “abangan” di Jawa, yaitu bentuk keagamaan rakyat yang bercampur antara unsur Islam, kepercayaan lokal, dan unsur mistis. Dalam konteks ini, santet dipahami sebagai cara seseorang menggunakan kekuatan gaib melalui perantara dukun atau jin untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh. Geertz menekankan bahwa kepercayaan terhadap santet bukan hanya tentang kepercayaan pada kekuatan gaib,
Seperti contoh di tengah persaingan bisnis yang semakin sengit, terutama di pasar tradisional atau usaha kecil, Banyak yang percaya bahwa jika dagangan tiba-tiba sepi, pemilik usaha sakit secara misterius, atau bisnis mendadak bangkrut, hal itu bukan sekadar karena strategi yang salah atau nasib buruk, melainkan akibat serangan gaib dari pesaing. Awalnya, anggapan seperti ini mungkin terdengar seperti mitos belaka.
Dalam Islam, santet atau sihir bukan hal yang dianggap tidak nyata. Al-Qur’an bahkan menyebutkan bahwa sihir bisa memisahkan suami istri dan membahayakan kehidupan manusia (Surah Al-Baqarah: 102). Sebagai seorang muslim percaya bahwa Allah lah yang punya kuasa atas segala sesuatu. Kalau pun ada orang yang benar-benar menggunakan ilmu hitam, maka sebaiknya kita tidak membalas dengan cara yang sama. Agama mengajarkan kita untuk melawan kejahatan dengan kebaikan, dan untuk berlindung kepada Allah melalui doa, zikir, dan amal salih. Santet dalam agama bukan untuk ditakuti secara berlebihan, tapi untuk diwaspadai.
Sementara itu, dari sudut pandang sains, santet belum pernah bisa dibuktikan secara empiris. Tidak ada alat yang mampu mengukur “energi santet” atau membuktikan adanya “serangan gaib” yang bekerja dari jauh. Sains melihat fenomena ini lebih kepada faktor psikologis dan sosial. karena tidak ada bukti fisik, mekanisme ilmiah, atau pengamatan yang menunjukkan bahwa “pengiriman energi negatif” bisa memengaruhi tubuh seseorang dari jarak jauh secara supranatural. Meski begitu, gejala yang dirasakan oleh orang yang mengaku terkena santet bisa nyata secara fisik dan mental.
Sigmund Freud dan tokoh psikologi lainnya menyebut bahwa kecemasan yang ditekan bisa muncul dalam bentuk gangguan fisik, fenomena yang disebut sebagai psikosomatik. Di sisi lain, George Devereux, seorang antropolog dan psikolog, menyebut bahwa apa yang dianggap sebagai “santet” dalam budaya tertentu masuk ke dalam kategori culture-boundsyndrome, yaitu gangguan psikologis yang bentuk dan penyebabnya sangat dipengaruhi oleh budaya lokal
Santet bukan sekadar cerita mistik. Dalam Islam, sihir diakui sebagai hal yang nyata, namun kita dilarang mencarinya atau mempercayai dukun. Nabi SAW justru mengajarkan perlindungan melalui doa, dzikir, dan menjaga hubungan dengan Allah. Namun dari sisi sains, banyak kasus yang dikira santet ternyata bisa dijelaskan secara rasional stres berat, penyakit psikosomatik, atau kegagalan usaha karena strategi yang keliru. Sains mengajak kita berpikir kritis, bukan larut dalam ketakutan. Padahal Islam mengajarkan muhasabah introspeksi dan perbaikan, bukan tuduhan dan kecurigaan.
Editor: K. Anwar





