Beranda Berita Kisah Pilu Azzam, Datang ke Dinas Perpustakaan untuk Jual Koleksi Bukunya Demi...

Kisah Pilu Azzam, Datang ke Dinas Perpustakaan untuk Jual Koleksi Bukunya Demi Bayar UKT

0

Pekalongan – Setiap awal semester, mahasiswa UIN Gus Dur dihadapkan pada tantangan rutin, membayar UKT. Bagi sebagian orang, ini mungkin hal biasa. Tapi bagi sebagian yang lain, ini adalah ujian berat bak seorang ayah yang harus banting tulang pagi sampai pagi lagi demi menghidupi anak-anaknya.

Azzam Mahasiswa UIN Gus Dur Jurusan PBA datang ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pekalongan, Selasa (15/7/2025), bukan untuk meminjam buku. Melainkan menjual koleksi bukunya. Dari rumah ia membawa tumpukan novel karya Tere Liye dari rak pribadinya. Buku itu ia tawarkan kepada pegawai di Dinas Arpusda, dengan harapan ia bisa pulang membawa uang untuk bertahan.

Mahasiswa UIN Gus Dur asal Landungsari itu sedang berjuang melunasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang akan jatuh tempo pada 20 Juli 2025. Total kebutuhan yang harus ia bayar: satu juta rupiah. Ia menawarkan tiap buku seharga Rp 65 ribu.

“Kantor tidak bisa membeli, katanya tidak ada anggaran,” ujar Diah, pustakawan Arpusda Kabupaten Pekalongan, yang menjadi saksi pertemuan itu. Ia lantas membeli beberapa buku dengan uang pribadi. Tapi jumlahnya belum cukup.

Kisah Azzam memantulkan realitas getir yang dihadapi sebagian mahasiswa di awal semester. Beasiswa memang ada, tapi tak selalu cukup. Tak semua terjangkau.

Kisah Azzam ini lantas sampai terdengar ke telinga pengurus Ikatan Alumni UIN Gus Dur (ILUIN). Dengan gerakan kolektif, para alumni UIN Gus Dur diajak untuk bahu membahu membantu Azzam, dan tentu saja mahasiswa lain yang berkekurangan.

“Beasiswa memang tersedia, namun belum mampu menjangkau semua. Di tengah keterbatasan inilah, ILUIN menginisiasi sebuah gerakan hati: Gerakan Alumni Bantu Mahasiswa,” ujar Abdul Adhim, Ketua ILUIN.

Situasi ini menjadi salah satu pemantik Gerakan Alumni Bantu Mahasiswa, sebuah inisiatif yang digulirkan Ikatan Alumni UIN Gus Dur (ILUIN). Gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif para alumni, bahwa mereka pernah berada di posisi yang sama. Berjuang diam-diam di tengah keterbatasan.

Gerakan ini lahir dari semangat kebersamaan dan ingatan masa lalu. Para alumni tentu pernah berada di posisi sulit yang sama saat masih menjadi mahasiswa. Kini, ketika para alumni telah mengabdi di berbagai bidang dan menjalani peran dalam profesi masing-masing, inilah saatnya untuk kembali menengok ke belakang dan mengulurkan tangan ke depan—kepada adik-adik mahasiswa yang tengah berjuang.

“Ini bukan sekadar gerakan sosial, ini gerakan hati,” kata Barok salah satu Pengurus ILUIN.

“Alumni tergerak bukan karena diminta, tapi karena ingat pernah merasakan pahitnya kehidupan di masa dulu.” Imbuhnya.

Bagi Azzam harapannya sederhana, tetap bisa kuliah sampai lulus. Ia tak meminta belas kasihan, hanya menawarkan apa yang ia punya, yaitu buku-buku yang dulu menemaninya berpikir, kini dijual demi menjaga langkahnya di bangku pendidikan.

Gerakan ini mungkin tak mampu menyelesaikan semua persoalan, tetapi ia menyalakan nyala kecil: bahwa kepedulian tak selalu datang dalam bentuk besar, dan bahwa masa depan bisa dijaga bersama, bahkan dari tangan-tangan yang pernah hampir menyerah.

Penulis: Slamet Nur Chamid dan Sahrul Mubarok
Editor: K. Anwar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini