Oleh: Fia Birta Atsabit*)
Di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, mahasiswa dihadapkan pada tuntutan untuk menguasai berbagai keterampilan akademik maupun profesional agar mampu bersaing di dunia kerja yang kompetitif. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang lebih fokus pada pencapaian akademik dan kurang memberi perhatian pada pemahaman nilai keagamaan, sehingga muncul pertanyaan: sejauh mana pemahaman keagamaan masih mendapat tempat di lingkungan perguruan tinggi?
Dalam konteks ini, keberadaan Islamic Studies menjadi penting untuk dikaji, terutama dalam membentuk keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan nilai-nilai moral atau akhlak mulia, sehingga lulusan tidak hanya pintar, tapi juga berbudi pekerti luhur.
Pendidikan Islam di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian materi keagamaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa Islamic Studies tidak hanya bersifat teoritis, melainkan juga memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa kajian yang menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat menjadi landasan kuat untuk membentuk sikap dan perilaku yang lebih baik di tengah kehidupan modern.
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga harus dibekali dengan landasan moral dan akhlak yang kokoh. Tanpa nilai-nilai tersebut, ilmu pengetahuan bisa kehilangan arah, berpotensi disalahgunakan, dan tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi individu maupun masyarakat.
Hal ini sejalan dengan ungkapan dari ulama Abu Zakaria al-Anbari yang menyatakan bahwa “ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar” yang artinya ilmu tidak memberi keberkahan dan tidak bertahan lama. Oleh karena itu, pendidikan yang seimbang antara ilmu dan akhlak menjadi kunci untuk menciptakan generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga bertanggung jawab dan bermanfaat.
Di era digital saat ini, informasi keagamaan bisa dengan sangat mudah diakses kapan saja melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, atau YouTube. Namun, tidak semua informasi tersebut bisa dipastikan kebenarannya. Tidak sedikit mahasiswa yang menerima, bahkan ikut menyebarkan informasi atau ajaran keagamaan tersebut tanpa verifikasi terlebih dahulu, yang berisiko menimbulkan kesalahpahaman tentang ajaran Islam. Akibatnya, pemahaman agama bisa jadi salah kaprah dan menyesatkan.
Oleh karena itu, Islamic Studies di perguruan tinggi memiliki peran pentng sebagai landasan dalam memahami ajaran Islam secara komprehensif, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh hoaks yang beredar di dunia maya. Dengan begitu, mahasiswa bisa menjadi generasi yang kritis, bertanggung jawab, dan tidak mudah terpengauh oleh pemahaman yang keliru.
Pembelajaran Islamic Studies di perguruan tinggi memiliki peran besar dalam membantu mahasiswa memahami ajaran Islam secara lebih tepat, mendalam, komprehensif, dan tidak sempit. Hal ini penting supaya mahasiswa tidak mudah terpengaruh atau terjebak oleh pemahaman yang keliru, atau hoaks yang sering kali disebarkan melalui media sosial dan sumber tidak terpercaya. Dengan bekal pemahaman yang baik, mahasiswa diharapkan bisa bersikap lebih bijak, toleran, serta inklusif dalam menghadapi dan menyikapi berbagai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka tidak hanya menjadi individu yang pintar secara intelektual, tetapi juga berkontribusi aktif membangun masyarakat yang harmonis, damai, dan saling menghormati antarwarga.
Dari pembahasan di atas, jelas bahwa Islamic Studies di perguruan tinggi memiliki peran yang sangat penting dan tidak tergantikan dalam membentuk mahasiswa yang seimbang. Secara ringkas, studi ini tidak hanya memperkaya kecerdasan intelektual melalui pemahaman ajaran Islam yang tepat dan komprehensif, tetapi juga memperkuat nilai-nilai moral serta akhlak mulia—seperti yang digambarkan ungkapan “ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar”—serta sangat relevan di era digital saat ini untuk melindungi mahasiswa dari hoaks keagamaan, membentuk karakter bijak, toleran, dan siap bersaing di dunia modern. Oleh karena itu, marilah kita semua—mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan—semakin mengoptimalkan Islamic Studies agar melahirkan generasi unggul yang pintar, berakhlak, dan bermanfaat bagi bangsa serta agama.
*)Mahasiswa Universitas Islam Cordoba Banyuwangi





