Udara sore itu agaknya membuat banyak mulut menggerutu. Ada banyak alasan. Tubuh lengket karena keringat, aroma badan yang tak sedap, tenggorokan terasa kerontang, nggreges, dan sebagainya. Sampai-sampai banyak orang yang memilih tak berada di luar ruangan. Entah di kantor atau tinggal di rumah.

Saya masih di kantor. Tetapi, rasanya jenuh juga terlalu lama di kantor. Seperti ada yang menindih di kepala, walau tak sedang mengerjakan apa-apa. Hanya menunggu waktu pulang.

Di sela-sela kejenuhan itu sebuah pesan singkat via WhatsApp nyangkut di hp. Cukup mengejutkan. Apalagi ketika saya baca nama yang tertera di layar adalah nama seorang kawan yang belum lama bekerja di sebuah perusahaan media.

“Posisi?” begitu bunyi WA-nya. Pikir saya, pertanyaan itu tak sekadar menanyakan keberadaan saya. Akan tetapi, ada sesuatu yang lain. Saya menduga, ia ingin COD-an.

“Di kantor,” balas saya sambil berharap ada pesan lain yang ia susulkan. Benar saja, hanya dalam hitungan detik, ia membalas lagi. Katanya, “Aku lagi di kafenya Joni nih. Sini aja. Nggak ada kerjaan kan?”

Cling! Ajakan itu mengusik insting berburu. Sinyal makan gratis menguat. Tanpa ba-bi-bu saya mengiyakan. Segera saya kirim balasan, “Oke, aku otw.”

Mesin motor Honda Blade Repsol saya hidupkan. Lalu, wush! Menerjang angin dan bermanuver di sela-sela padatnya jalanan pada jam pulang kerja.

Tiba di kafe, saya segera menghampiri kawan saya itu. Ia duduk di salah satu kursi yang dinaungi pohon mangga. Sambil menepuk pundak, saya katakan padanya, “Nggak liputan?”

“Baru aja selesai,” jawabnya. “Ini lagi nulis laporan,” lanjutnya sambil menunjukkan layar Asus Zenbook S 13 Oled. Laptop mahal!

Saya lantas mengambil tempat, duduk di hadapannya. Memandang kesibukannya, saya merasa senang. Apalagi saya tahu betul, bagaimana ia sebelum seperti sekarang.

Gimana? Betah?” tanya saya sekadar menghalau senyap yang mengendap-endap di antara keriuhan yang samar-samar dari ruangan dalam kafe.

“Belum tahu nih,” jawabnya ringkas saja.

Emang belum puas? Nggak bosan bolak-balik lamar kerjaan?” sergah saya.

Seketika, bunyi-bunyi tombol keyboard laptopnya tercekat. Wajahnya sedikit diangkat. Tatapan matanya perlahan beralih ke arah wajah saya. Lalu, ia menyerahkan punggungnya pada sandaran kursi.

Dari saku bajunya, ia pungut bungkus rokok hitam yang ditimpa warna putih dengan membentuk huruf BLCK. Sementara, di antara huruf L dan C sebuah segitiga warna merah menyala. Di atas gambar huruf itu tertera nama merk rokok kesukaannya itu.

Sebatang, kemudian, ia jumput. Bibirnya menyambut. Tokai di tangan kanannya menyala. Didekatkan pada ujung batang rokok. Pipinya sedikit mencekung pada hisapan pertama. Diikuti kepulan asap putih yang berkerubung, hampir menutupi wajahnya. Lalu, dihembusnya asap itu.

Bro, kerja itu butuh enjoy. Dan, itu nggak gampang. Makanya, aku nggak bisa diam di tempat. Aku mesti mencari tempat yang bisa bikin enjoy,” katanya.

Saya tak membantah kata-katanya. Bukan karena benar. Akan tetapi, saya ingin mendengar lebih banyak darinya.

“Sejak aku kerja di sini, aku sepertinya makin merasa asing,” akunya. Lalu, sebentar terdiam. Menghisap rokoknya lagi. “Saban hari kerjaku hanya nguntit pejabat. Di setiap mereka punya kegiatan, aku harus ikut. Lalu, menuliskan laporan tentang kegiatan mereka yang sebenarnya…. Ah, tahu sendiri kan?”

Saya tersenyum mendengar pengakuan itu. “Kamu aneh,” kata saya. “Nggak seperti yang lain, lebih senang kalau ikut acaranya para pejabat.”

“Kalau cuma sesekali tak masalah, bro. Lah ini? Tiap hari aku harus meliput acara-acara formal macam itu. Yang dilaporkan sekadar seremonialnya. Yang aku tulis hanya pidato-pidato yang hambar. Hasil wawancaranya juga normatif. Nyaris nggak ada yang benar-benar baru, nggak segar, dan nggak dalam, bro!” jelasnya.

Oke, oke. Aku paham masalahmu. Terus, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Ini jauh dari ekspektasiku dulu,” katanya.

Sebentar sepi. Kami seperti membiarkan angin sejenak menyela pembicaraan. Mengantarkan suara bising jalan raya yang lamat-lamat terdengar.

Bro, orang sepertimu itu tak banyak. Orang seperti kamu sangat dibutuhkan. Apalagi untuk kelangsungan hidup perusahaan media. Mereka akan sangat membutuhkanmu, bro,” saya membujuk.

“Mereka yang hidup. Aku?” sergahnya.

Saya tak menduga, ia akan mengatakannya. Seketika itu, ingatan saya terlontar jauh ke belakang. Menuju pada titik mula yang mempertemukan kami. Ketika itu, ia masih menjadi seorang pelarian. Menjadi buron atas kesalahan orang lain.

Ia ceritakan, bagaimana segerombolan orang menggeruduk kantornya. Mengacungkan tinju ke mukanya. Lantas, menyumpahi dan meludahi. Ia bagai seorang yang hina, melebihi hinanya seorang laki-laki yang mencuri istri orang. Sementara, orang-orang di kantor tempat ia bekerja hanya berdiri dan memandanginya. Bahkan, pimpinan kantornya memilih diam. Malah, meminta pada pimpinan gerombolan itu agar menyelesaikan masalah di luar kantor.

Betapa, tak berharganya ia waktu itu. Betapa, ia merasa kesepian. Opini yang ia tulis itu seakan-akan membuka celah pintu neraka baginya. Sampai-sampai ia sempat pula menerima telepon ancaman. Katanya, ujung bedil siap menamatkan hitungan umurnya.

Untunglah, ia selamat. Tak tahu, bagaimana ia bisa selamat. Yang jelas, peristiwa itu cukup membuat saya mengerti.

“Ah sudahlah. Ketimbang ngobrol yang nggak ada ujungnya mending makan aja dulu. Kau pesan aja apa yang kamu mau. Aku yang traktir,” ia menukas. Lantas, jari-jarinya kembali membunyikan tombol-tombol pada keyboard.

“Hari ini aku masih menulis hal yang sama. Pidato-pidato yang percuma, bro,” kelakarnya sambil tertawa lepas. “Dunia, dunia! Makin hari makin tak jelas juntrungnya!” serunya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini