Beranda Berita Bencana di Petungkriyono Masih Butuh Penanganan Serius

Bencana di Petungkriyono Masih Butuh Penanganan Serius

0

Pekalongan – Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni (PP IKA) UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam di Kecamatan Petungkriyono, pada Rabu (5/2/2025).

Petungkriyono adalah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan tropis yang masih sangat alami, hal tersebut menjadikan Petungkriyono adalah jantungnya Jawa Tengah khususnya wilayah Pekalongan Raya selain menyalurkan oksigen juga sebagai penopang utama keanekaragaman hayati. 

Kejadian bencana pada Senin, 20 Januari 2025, yang disebabkan oleh intensitas hujan super lebat menjadikan ratusan titik longsor di Kecamatan dengan 9 Desa, hanya satu desa saja yang tidak terdampak yaitu desa Simego, sedang desa yang lain tidak luput dari dampak ratusan titik longsor. 

Dampak paling signifikan dengan menelan korban jiwa ada di Desa Kasimpar yang menjadikan 25 korban meninggal dunia, 1 korban hilang sampai berita ini dimuat belum diketemukan, puluhan korban luka-luka serta ratusan rumah terdampak juga beberapa akses penting jalan dan jembatan utama penghubung desa dan penghubung dusun mengalami kerusakan dan keterputusan akses. 

Bencana itu ditetapkan tanggap darurat selama 14 hari, namun sampai hari ini masih banyak hal yang perlu sentuhan serius. Beberapa hal catatan sebagaimana berikut :

* Tidak adanya kolaborasi dalam penanganan, jumlah kerugian, korban terdampak, serta bantuan yang turun dari pemerintah maupun masyarakat tidak ada satu data. Hal ini menyulitkan untuk menganalisa pemulihan wilayah petungkriyono. 

* Birokrasi tingkat kecamatan hingga desa tidak bergerak maksimal. Sampai berita ini diturunkan banyak korban terdampak yang belum mendapatkan sentuhan dan perhatian, tentu ini merupakan problem serius, andai saja kolaborasi semua elemen dengan di koordinir oleh instansi kecamatan turun ke kepala desa mampu bekerja bersama dengan relawan yang ada tentu akan lebih maksimal dalam penanganan. 

* Semenjak ditutupnya posko relawan baik yang di koordinir oleh pemerintah kecamatan maupun oleh relawan salah satunya dari posko relawan  NU, maka menjadikan para donatur dari elemen masyarakat sulit untuk mendistribusikan penyaluran bantuan.

* Trauma yang mendalam benar-benar dirasakan oleh masyarakat Petungkriyono, setiap kali hujan lebat turun hampir semua masyarakat waspada akan longsor susulan, bahkan dampak trauma ini menjadikan  beberapa akses wisata akan ditutup karena pertimbangan banyak hal ketraumaan. 

* Dampak signifikan terhadap perekonomian warga benar-benar dirasakan selain efek lahan yang terkena longsor, karena tertutupnya akses menjadikan kebutuhan pokok mahal juga karena curah hujan tinggi menjadikan hasil panen buruk dan penjualan hasil pertanian menjadi sangat murah. 

Dari catatan diatas kiranya butuh keseriusan dari pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk mampu mendudukkan bersama pemerintah kecamatan dengan sebagian elemen masyarakat (relawan), serta butuh keterbukaan informasi maksimal untuk menjadikan pemulihan Petungkriyono pasca bencana memiliki target waktu dan menjadikan optimisme bagi warga masyarakat.

Pengirim: Abdul Adhim
Editor: K. Anwar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini