Mau sehebat apa pun kita sebagai aktivis, mau sekeren apa pun pencapaian karir kita, kalau ngadepin masa depan aja kita gagap buat apa? Lebih-lebih, ketika berhadapan dengan calon mertua yang ketus. Kalau sampai kita mlipir, ah apa gunanya kehebatan dan kekerenan kita?
Yuhu! Yang namanya menikah itu bukan pilihan. Itu sudah menjadi kebutuhan. Bahkan, bisa juga jadi keharusan. Kalau sampai saat ini kamu masih berpikir belum siap, maka sebenarnya tidak ada seorang pun yang siap menikah. Mengapa? Karena kita nggak pernah tahu, akan seperti apa perjalanan pernikahan kita kelak.
Nah, kali ini saya sekadar ingin berkisah, sekelumit mengenai perjalanan pernikahan saya dan istri. Boleh kan? Kalau boleh, silakan dilanjut bacanya sampai kelar.
Saat berpacaran, ketika saya apel ke pacar, calon mertua saya sempat memandang saya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Tak hanya sekali, malah berkali-kali. Kala itu saya tetap bersikap santun kepada calon mertua. Menanyakan putrinya apakah ada di rumah.
“Kamu siapa? Anak mana?” balas calon mertua saat ini.
Saya jelaskan dengan bahasa Jawa krama (bahasa Jawa yang khusus diucapkan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati) untuk menunjukkan rasa santun saya kepada beliau. Saya sebut nama, asal saya, dan aktivitas saya kala itu sebagai mahasiswa.
Setelah menjelaskan, calon mertua saya memanggil putrinya. Tapi, saya belum dipersilakan masuk. Barulah setelah pacar saya muncul, saya dipersilakan masuk ruang tamu.
Hanya, saat itu pacar saya tak langsung menemui saya. Malahan, bapaknya yang bersemangat menemui saya di ruang tamu. Saya dipersilakan duduk. Beliau mengambil tempat duduk di hadapan saya.
Lagi-lagi, bapak pacar saya memandang saya dengan tatapan yang kurang mengenakkan. Ia memandang saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Maklum, waktu itu rambut saya gondrong (sampai sekarang masih gondrong juga sih!), juga celana yang saya kenakan sobek-sobek, jaket juga sobek, dan dalamnya hanya kaos oblong. Tak hanya itu, alas kaki yang saya kenakan juga sendal jepit bulukan.
Oh iya, saya datang ke rumah pacar juga tak mengendarai apa-apa alias jalan kaki. Jadi, agaknya hal itu menjadi sebuah kepantasan bagi saya untuk dipandang seremeh itu oleh calon mertua.
“Kamu masih kuliah?” tanya sang bapak.
Saya mengiyakan.
“Jurusan apa?” tanya bapak pacara saya lagi.
“Sastra, Pak,” jawab saya.
“Sastra Inggris? Sastra Jawa? Atau sastra apa?”
“Sastra Indonesia, Pak,” jawab saya singkat.
Tahukah Anda, bagaimana reaksi sang bapak? Raut wajahnya tiba-tiba seperti mencibir. Seolah-olah saya bukan anak muda yang diinginkan sebagai menantu.
“Wah, kalau sastra Indonesia agaknya susah ya jadi PNS? Mesti banyak berkarya supaya jadi sastrawan atau seniman,” katanya mencibir.
Balasan sang bapak itu kontan menohok. Saya merasa terpukul dan tersudut. Tetapi, saya berusaha menguasai diri. Tetap berusaha tenang dan memberi kesan bahwa saya bukan seorang anak muda yang ia bayangkan.
Uniknya, setelah mengatakan itu, sang bapak langsung beringsut dan meninggalkan saya sendiri di ruang tamu. Saya lega. Walau sebenarnya tetap saja ada rasa dongkol.
Tak selang lama, pacar saya muncul dari pintu kamarnya. Tampak wajahnya sedikit murung. Mungkin ia tak enak hati dengan perlakuan bapaknya pada saya. Tetapi, saya berusaha tetap tenang dan tak terganggu oleh ucapan itu.
“Maafkan, Bapak ya, mas,” katanya lirih.
Saya tak menjawab. Hanya memberi kode. Menempelkan jari telunjuk saya ke bibir saya. Setidaknya, agar ia tak menganggap kejadian itu sebagai masalah.
Singkat cerita, usai ngapel, saat perjalanan pulang, saya membatin, “Dunia saat ini memang sedang ada di tangan Bapak. Tetapi, aku bisa saja membalik dunia. Semua ada waktunya.”
Saya tidak menyanggah perkataan calon mertua. Saya anggap, pernyataan itu ada benarnya. Tetapi, perkataan itu yang kemudian menjadi penyemangat.
Pada hari pernikahan, perlakuan itu sejatinya masih ada. Pandangan minir mengenai keberadaan saya di dalam keluarga besar mertua saya yang rata-rata adalah ASN terus saja meruncing. Tetapi, saya cuwek aja.
Saya yang kala itu hanya seorang karyawan swasta tak merasa kecil hati. Walau berkali-kali berhadapan dengan perlakuan yang kurang sedap dari beberapa saudara istri. Justru, di situlah yang membuat saya makin terpacu untuk menunjukkan bahwa pandangan mereka keliru.
Saat saya memulai pekerjaan baru di sebuah kampus, pandangan itu perlahan berubah. Tetapi, sejatinya saya tak menginginkan itu terjadi. Sebaliknya, saya ingin pandangan itu tetap ada dan bertahan. Sekurang-kurangnya, agar saya tak menjadi jumawa karena pekerjaan baru.
Maka, sekalipun pekerjaan di kampus itu cukup bergengsi di mata mereka, saya tetap dengan karakter saya yang dulu. Penampilan selengekan, gaya hidup seadanya. Sebab, selain karena tidak ingin mengubah cara, juga dikarenakan pekerjaan itu tak menjamin saya menjadi kaya.
Benar saja. Rupanya sikap dan perlakuan yang kurang mengenakkan itu masih ada. Terutama, dari sejumlah saudara istri. Entah dengan bapak mertua.
Yang jelas, saya benar-benar mendapatkan pelajaran berharga dari perlakuan-perlakuan itu. Saya punya kesempatan untuk membaca lebih jernih bagaimana sesungguhnya yang terjadi. Puncaknya, ketika Bapak meninggal, tampaklah wujud asli karakter saudara-saudara istri saya.
Segera saya selamatkan istri saya dari sengkarut keluarga. Saya ajak ia menyingkir dari segala bentuk kekacauan itu. Lantas, saya hanya meminta agar ia menyelamatkan satu saja barang warisan milik Bapak mertua, yaitu sebuah buku lawas. Buku karangan Bung Karno yang diberi judul Di Bawah Bendera Revolusi. Lainnya, tak saya sarankan untuk ikut berembug.
Sempat saya katakan padanya, “Kita tak butuh itu semua. Kita hanya butuh memiliki rasa untuk saling percaya. Seperti saat aku pinang dirimu, kutanyakan padamu, apakah kamu siap hidup susah bersamaku? Dan kau jawab, siap. Sekarang saatnya, kita buktikan ucapan itu. Bukan ikut berebut warisan yang tak seberapa itu.”
Istri saya manut. Tanpa menawar, apalagi mengajukan usul. Sekarang, setelah Bapak tiada, semuanya makin jelas. Bahwa, ketegasan Bapak sesungguhnya bukan untuk membatasi, melainkan untuk memberi pelajaran di awal tentang hakikat hidup bersama.





