
Apa yang Anda pikirkan saat memulai usaha? Modal? Keuntungan? Atau apa?
Ternyata, memulai suatu usaha itu nggak harus kepala kita pusing gara-gara mikir modal. Juga nggak harus dibikin paranoid gara-gara takut nggak dapat untung. Tetapi, yang mesti kita pikirkan adalah bagaimana usaha itu berumur panjang.
Apa syaratnya? Sederhana, yaitu komitmen.
Seperti kisah Ade Damar pemilik Kedai Kopi Kawan yang dituturkan kepada saya saat ngobrol di studio Radio Kota Batik. Kisahnya unik, mengesankan, dan bermakna. Sampai-sampai, saya dibikin haru biru.
Bagaimana tidak? Kisah Damar buka usaha kedai kopi diawali dari kisah cintanya. Pemuda asal Pekalongan ini menikahi seorang gadis Melayu-Riau. Kawan satu almamaternya dulu di Malang, Jawa Timur.
Usai upacara pernikahan yang meriah itu, lulusan sarjana akuntansi ini mulai berpikir tentang tanggung jawab dan kelangsungan hidup keluarga. Seperti umumnya para suami, ia lantas berpikir untuk melamar kerja.
Tentu, nggak sembarang perusahaan dong yang ia lamar. Apalagi dia seorang akuntan yang kalau dari cara bicaranya tampak kecerdasannya. Teramat sayang kalau ia memilih perusahaan asal-asalan sebagai tempat untuk aktualisasi diri dan berkarier.
Singkat cerita, setelah mendapatkan pekerjaan yang didambakan dan menjalani dengan penuh semangat, rupanya ia merasakan sesuatu yang berbeda. Baginya, bekerja pada orang itu lebih banyak nggak enaknya. Kok bisa?
“Waktu saya habis di kantor untuk mengerjakan tugas-tugas tambahan dari atasan. Jam kerja saya jadi nggak sesuai dengan aturan main yang perusahaan bikin sendiri. Alhasil, waktu yang mestinya saya gunakan untuk mendampingi istri dan anak yang masih usia tiga tahun tersita oleh kerjaan,” tutur Damar.
“Tapi kan, setidaknya kita punya pendapatan yang pasti tiap bulannya? Sehingga, kita bisa menggunakannya dengan sebijak-bijaknya. Syukur, kalau kita nggak punya banyak tagihan,” sergah saya.
Damar membalas, bahwa kebutuhan di keluarga itu nggak cuma soal duit. Ada lebih banyak yang nggak bisa dipenuhi hanya dengan duit. Yaitu, waktu dan perhatian.
Ups! Ucapan Damar bikin saya speechless.
“Coba kita hitung deh, berapa jam kita di kantor? Delapan jam kan? Dari jam berapa sampai jam berapa? Dengan durasi dan pembagian waktu yang begitu, mungkin nggak kita punya cukup waktu buat ngasih perhatian pada keluarga? Belum lagi, pas kita pulang pasti sudah penginnya rebahan gara-gara kecapaian. So, mana waktu kita buat keluarga?” kata Damar.
Masuk akal. Saya juga mengalami itu. Tak hanya sesekali, tugas-tugas tambahan yang akhirnya membuat saya harus bertahan lebih lama di kantor pun membuat waktu saya terkuras habis di luar rumah. Pulang-pulang tinggal lelahnya.
“Selama saya kerja, berangkat ketika anak masih tidur. Di kantor, selalu saja ada tugas tambahan. Begitu pulang, waktu sudah larut. Anak istri sudah pulas tertidur. Saya sendiri juga kehabisan tenaga. Bos, mana mau tahu?!” kata Damar.
Benar juga sih. Para bos sudah enak hidupnya. Mereka boleh-boleh saja nggak ngantor. Cuma sesekali ngantor buat ngecek kerjaan anak buah. Sisa waktunya lebih banyak buat urusan-urusan lain. Boleh jadi, para bos lebih punya banyak waktu buat keluarga.
Kalaupun tidak, mereka bisa saja bayar orang buat ngurusin keluarga. Meskipun hal itu bisa saja berdampak kurang baik bagi keharmonisan keluarga. Lebih-lebih, bagi tumbuh kembang anak. Tapi, dia kan punya duit yang mungkin saja ia pikir bisa menyelesaikan segala urusan.
Karena itu pula, Damar merasa nggak betah kerja. Tentu, keputusannya adalah resign. Kerennya lagi, dia memutuskan keluar dari perusahaan tepat satu tahun ia kerja.
“Saya nggak mau memperpanjang waktu yang terkorbankan buat keluarga,” tukas Damar.
Padahal, perusahaan tempat Damar bekerja cukup bonafit loh! Jenjang kariernya lumayan bagus. Tetapi, dia sama sekali nggak peduli soal itu semua. Malahan, dia sempat mengatakan, bahwa jenjang karier itu seperti kita nunggu antrean berangkat haji ke tanah suci.
“Lho, perusahaan itu kan punya ribuan anak buah. Semuanya juga butuh jenjang karier. Tapi, untuk mendapatkan giliran perlu ngantre. Lama! Maka, begitu dapat kesempatan, emang njamin kalau kondisi ekonomi dan kondisi fisik kita masih serba fit? Nggak kan? Sementara, kita juga perlu bikin kalkulasi soal kebutuhan keluarga yang makin hari makin kompleks. So, jenjang karier itu kayak mimpi ketemu hantu saja!” seloroh Damar.
Bagi Damar, jenjang karier itu seperti Dewa Hades yang jadi penunggu dunia bawah. Seram dan menakutkan. Nggak heran kalau kemudian para pekerja itu dibikin tunduk, suruh ngantre satu-satu. Begitu dapat promosi, ternyata realita kehidupan yang dihadapi tak seindah saat ia merayakan promosi jabatannya yang hanya berlangsung satu atau dua jam.
“Gajinya nambah. Tapi, kebutuhan dia juga nambah. Bahkan, mungkin malah bisa tekor gara-gara kudu memenuhi kebutuhan gengsi jabatan! Horor nggak tuh?” tutur Damar.
Idih, bener lagi! Rasanya, apa yang dibilang Damar langsung nonjok. Saya bahkan merasa tertampar dan membuat sadar. Bahwa, setinggi-tingginya karier yang dicapai seseorang—selama ia pekerja—tetap saja statusnya sebagai pekerja. Nggak bakal mengubah status sebagai bos alias pemilik perusahaan.
Walau begitu, saya masih punya pertanyaan buat Damar. Setelah ia keluar dan menyandang gelar sebagai pemuda penganggur, apa yang dia lakukan?
Dia jawab, dia gunakan akalnya semaksimal mungkin. Sebab, pilihannya hanya ada dua. Menyerahkan diri lagi ke perusahaan atau bikin usaha. Dia pilih bikin usaha. Dia nggak mau lagi jadi kacung perusahaan.
Tapi, saat menentukan pilihan itu, rupanya ia dihadapkan dengan lebih banyak lagi pilihan. Jadi kreator konten, youtuber, buka toko kelontong, dan seabrek pilihan lainnya yang berderet. Kali ini, ia merasa sangat membutuhkan dukungan istri. Maka, hampir tiap hari selama masa libur panjang yang tanpa pasti akhirnya itu, ia gunakan waktunya lebih banyak untuk diskusi bersama istri.
Fix! Mereka akhirnya memutuskan bikin usaha kedai. Sampai di sini, rupanya masalah baru menyusul. Kedai macam apa yang kudu dibangun?
“Kalau sekadar kedai kopi, sudah banyak di Pekalongan. Pilihannya ya itu-itu saja. Mboseni!” kata Damar.
Kata “mboseni” itu jadi kata kunci selanjutnya yang memaksa Damar mesti berpikir keras tentang konsep kedai yang ingin dia buka. Singkat kata, Damar terkenang pada masa ia tinggal di tanah kelahiran sang istri, di Riau. Selama di sana, lidahnya sudah menjelajah cita rasa makanan dan minuman ala Melayu.
Nah, dari penjelajahan cita rasa itulah tercetus ide, dia mau buka kedai kopi yang nggak hanya menyajikan kopi seperti pada umumnya. Dia tertarik untuk menghadirkan sajian makanan dan minuman khas Melayu di kedainya.
“Menurut saya, rasanya masih bisa diakrabi sama lidah orang Jawa. Lebih-lebih, lidah orang Pekalongan. Rata-rata, masakan Melayu itu nggak terlalu manis dan nggak terlalu asin,” tuturnya.
Sejak itu, ia membulatkan tekad, membuka kedai kopi yang menyajikan seranai makanan dan minuman khas Melayu. Inspirasinya, dari istri yang orang Melayu-Riau.
Wow! Sungguh, ini beneran romantis. Ide Damar tentang kedai kopi dengan sajian khas Melayunya itu menunjukkan betapa ia seorang yang sangat menghargai istri. Apalagi ide itu diawali dari rasa gelisahnya saat bekerja di perusahaan yang membuat ia tak punya cukup waktu untuk mendampingi istri dan merawat anaknya.
Ditambah lagi, istrinya seorang Melayu-Riau. Sedang, tempat ia membuka kedai berada di tanah kelahirannya, yaitu Pekalongan, Jawa Tengah. Bahkan, sempat pula ia bikin tagline buat kedai kopinya, dari negeri Jiran ke Kertijayan.
Bagi saya, ini bukan sekadar ide atau konsep kedai. Akan tetapi, konsep kedai kopi yang Damar bangun ini seperti sebuah doa agar keluarga yang mereka bina itu utuh untuk selama-lamanya. Dan, di balik doa itu terselip pula pesan tentang komitmen.
Ya, Damar sepertinya tak sekadar membangun sebuah bisnis. Akan tetapi, juga mengejawantahkan nilai-nilai keluarga yang diwujudkan dalam rupa bisnis. Caranya menghormati istri begitu indah. Apalagi, kata Damar, kedai kopi yang ia bangun itu tak sekadar menyajikan makanan dan minuman ala Melayu. Akan tetapi, juga membawa dan menghadirkan budaya Melayu.
Ada display khusus yang menampilkan kekayaan budaya Melayu dipajang di Kedai Kopi Kawan. Begitu juga soal penamaan kedai yang ia ambil dari bahasa Melayu, “Kawan”. Sebab, kata “kawan” terbiasa diucapkan lidah Melayu.
Rencananya, ia juga bakal menghadirkan berbagai event yang khas budaya Melayu pula. Setidaknya, untuk mengenalkan dan membuka mata orang Pekalongan, bahwa sesungguhnya hubungan orang Pekalongan dengan budaya Melayu sudah berjalan sangat lama. Punya sejarah panjang yang sangat mengakar. Seperti ia dan istri yang kini tengah merajut dan merenda kehidupan keluarga untuk menuju pada kelanggengan.
Sungguh, saya mesti menaruh rasa hormat pada Damar. Keren banget ide dan cara dia mengeksekusi ide, sehingga istilah komitmen—baik dalam urusan bisnis dan membina rumah tangga—dapat dipadukan dengan sangat ciamik! Salut, bro! Saya sepakat, bahwa menikah itu bukan sekadar menjalani hidup bersama pasangan, akan tetapi menyatukan rasa batin yang memiliki asal-usul budaya beragam. Lalu, menjadikannya sebagai inspirasi bagi kelangsungan hidup di kemudian.




