PEKALONGAN – Kontingen Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan berhasil menempati peringkat kelima dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II yang berlangsung di UIN Gus Dur Pekalongan, Rabu-Ahad (9-13/9/2026).
Sebagai tuan rumah, UIN Gus Dur Pekalongan berhasil mengoleksi 4 medali emas, 5 medali perak, dan 8 medali perunggu, dengan total 17 medali. Capaian tersebut menempatkan UIN Gus Dur dalam jajaran lima besar klasemen akhir PORSI JAWARA II yang diikuti 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura.
Berdasarkan klasemen akhir, posisi juara umum diraih UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan perolehan 10 emas, 5 perak, dan 7 perunggu atau total 22 medali. Posisi kedua ditempati UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan 7 emas, 8 perak, dan 4 perunggu.
Selanjutnya, UIN Sunan Ampel Surabaya berada di posisi ketiga dengan torehan 5 emas, 4 perak, dan 5 perunggu. Sementara posisi keempat ditempati UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan 5 emas, 3 perak, dan 6 perunggu.
Capaian peringkat kelima menjadi hasil yang membanggakan bagi kontingen UIN Gus Dur Pekalongan. Terlebih, kampus yang berada di Pekalongan tersebut tidak hanya berstatus sebagai peserta, tetapi juga dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PORSI JAWARA II.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Gus Dur Pekalongan mampu bersaing dengan mahasiswa dari berbagai PTKIN di Jawa dan Madura. Perolehan medali juga menjadi gambaran atas potensi mahasiswa yang tidak hanya berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga olahraga, seni, dan berbagai cabang kompetisi lainnya.
Bagi UIN Gus Dur, PORSI JAWARA II tidak semata-mata tentang perolehan medali dan posisi klasemen. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan bakat, mengasah kemampuan, membangun sportivitas, memperluas pengalaman, sekaligus mempererat silaturahmi antarmahasiswa PTKIN.
Hal tersebut juga ditegaskan Rektor UIN Gus Dur Pekalongan, Prof. Zaenal Mustakim, dalam sambutan penutupan PORSI JAWARA II di Ballroom Gedung Rektorat, Sabtu (12/9/2026).
“Medali adalah simbol kemenangan, tetapi hakikat pemenang sebenarnya adalah di karakter,” ujar Rektor UIN Gus Dur Pekalongan di hadapan para kontingen dan tamu undangan.
Menurutnya, nilai utama dari sebuah kompetisi tidak berhenti pada siapa yang menjadi juara dan berapa banyak medali yang berhasil dikumpulkan. Lebih dari itu, kompetisi menjadi proses pembelajaran dan pembentukan karakter mahasiswa melalui pengalaman bertanding, menerima kemenangan maupun kekalahan, serta menjunjung tinggi sportivitas.
Rektor juga menyampaikan rasa bahagia dan bangga atas suksesnya penyelenggaraan PORSI JAWARA II. Terkait capaian kontingen tuan rumah, ia mengungkapkan bahwa sejak awal pihaknya tidak memberikan beban target juara umum kepada para atlet. “Perolehan prestasi sepenuhnya diserahkan kepada perjuangan dan kemampuan para mahasiswa yang bertanding.” tandasnya.
Meski demikian, ia bersyukur karena harapan awal untuk membawa kontingen UIN Gus Dur Pekalongan masuk dalam jajaran atas klasemen berhasil diwujudkan. Torehan 17 medali dan posisi kelima menjadi hasil dari perjuangan mahasiswa dalam menghadapi persaingan dengan 17 PTKIN lainnya.
Ketua Kontingen UIN Gus Dur Pekalongan, Dr. Luthfi Maulana, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah berjuang dalam ajang tersebut. Menurutnya, meskipun masih terdapat sejumlah hasil yang belum sesuai dengan ekspektasi, seluruh anggota kontingen telah memberikan kemampuan terbaiknya.
“Alhamdulillah teman-teman sudah melakukan yang terbaik. Meskipun beberapa masih belum sesuai dengan ekspektasi kami, ini merupakan sejarah dalam pergelaran PORSI JAWARA karena untuk pertama kalinya UIN Gus Dur menempati peringkat kelima,” ujar Luthfi.
Ia menilai capaian tersebut bukan sekadar hasil akhir sebuah kompetisi, tetapi menjadi pijakan penting bagi UIN Gus Dur Pekalongan untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing mahasiswa.
“Tentu ini akan menjadi langkah awal kami sebagai kampus yang sedang bertransformasi menjadi world-class university,” lanjutnya.
Bagi UIN Gus Dur Pekalongan, posisi kelima dan 17 medali menjadi bukti bahwa menjadi tuan rumah bukan sekadar tentang menyukseskan penyelenggaraan, tetapi juga tentang menunjukkan bahwa mahasiswa tuan rumah mampu berdiri sejajar dan bersaing dengan PTKIN terbaik di Jawa dan Madura. Lebih jauh, capaian tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam perjalanan transformasi UIN Gus Dur menuju kampus yang semakin berdaya saing di tingkat nasional maupun global.





