Jaringan GUSDURian bersama kampus Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Abdurrahman Wahid atau UIN Gusdur Pekalongan gelar ‘Gus Dur Memorial Lecture (GML) dalam rangka Studium Generale dengan tema “Demokrasi, Mahasiswa, dan Kepemimpinan Global” pada Senin (26/08/2024).
Mohamad Syafi’ Alielha, seorang murid Gus Dur sekaligus tokoh senior Advisor Jaringan Gusdurian, yang dalam hal ini menjadi narasumber mengawali pembicaraanya dengan mengucapkan selamat kepada para mahasiswa baru, karena para mahasiswa ini kuliah di sebuah kampus yang menyandang nama salah satu figur terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
Menurut pria yang biasa disapa dengan Savic Ali itu, Abdurrahman Wahid atau yang dikenal sebagai Gus Dur, mungkin dalam lima puluh tahun terakhir, adalah satu di antara sedikit nama yang dikenal oleh masyarakat Indonesia, satu diantara sedikit orang yang hadir di hidup banyak sekali orang Indonesia. Satu dari sedikit orang yang mampu bertahan dan mengorbit, serta mengabdi pada rakyat Indonesia.
“Jadi nama UIN Abdurrahman Wahid itu luar biasa, jadi ini satu-satunya UIN, atau (mungkin) gak ada IAIN lain yang menyandang nama itu. Dan Gus Dur sepanjang hidup itu mempengaruhi orang Indonesia. Tentu sebagai mahasiswa di UIN Abdurrahman Wahid, mestinya teman-teman mengenali siapa Abdurrahman Wahid,” ucap Savic.

Koordinator Sekretariat Nasional (SekNas) Jaringan Gusdurian, Jay Akhmad, menyampaikan bahwa Gus Dur Memorial Lecture ini adalah upaya kita bersama di Jaringan Gusdurian dengan melibatkan banyak stakeholder, terutama di kampus-kampus yang ada di Indonesia untuk terus menggali nilai, pemikiran, dan keteladanan Gus Dur, tetapi bukan untuk menyanjung-nyanjung gus dur, justru kita bisa membedah, bahkan kelemahan-kelemahan sepak terjang Gus Dur, sehingga itu kita bisa lanjutkan.
“Gus Dur Memorial Lecture kali ini sangat istimewa, karena diselenggarakan di UIN yang bernama KH. Abdurrahman Wahid. Saya berharap Gus Dur Memorial Lecture ini bisa menjadi agenda tahunan, karena nama KH. Abdurrahman Wahid di Pekalongan ini tidak hanya sekedar nama, tetapi nama itu disematkan, bagian dari kita bisa mengambil inspirasi dari nilai, pemikiran dan keteladanan gus dur, sehingga mahasiswa UIN Gus Dur adalah (menjadi) gus dur-gus dur muda ke depan,”ujarnya.
Disampaikan, KH. Abdurrahman Wahid itu tidak hanya seorang kiai atau ulama, tetapi juga beliau seorang presiden, dan bukan hanya seorang presiden, tetapi juga beliau seorang intelektual.
“Bayangkan kawan-kawan, Gus Dur itu tidak lepas dari membaca buku, Gus Dur itu tidak lepas dari diskusi, Gus Dur tidak lepas dari bertemu orang untuk mengkonsolidasikan diri. Kenapa itu penting, karena Gus Dur percaya bahwa untuk menjadikan dirinya lebih baik, belajar itu tidak pernah berhenti,”imbuhnya.
Yang kemudian kita perlu ketahui bahwa gus dur itu sosok yang dimensinya banyak, tidak tunggal.
“Gus Dur itu juga aktivis, sekaligus juga politisi, nah dari situ, warisan pemikiran Gus Dur itu banyak, yang kemudian salah upaya untuk menggali warisan Gus Dur adalah Gus Dur memorial lecture,”pungkasnya.
Acara yang bertempat di Gedung Student Center Kampus II UIN Gus Dur Pekalongan ini dihadiri oleh 2635 mahasiswa baru UIN Gus Dur dan pelbagai kalangan organisasi serta tokoh lintas iman yang berada di Pekalongan. Para pejabat di lingkungan civitas akademika kampus UIN Gus Dur juga menghadiri acara ini.
Pengirim: Fajri Muarrikh
Editor: Kang Anwar





