Beranda Cerpen Berburu Ijazah Sakti

Berburu Ijazah Sakti

0
Sumber foto: Pexels.com

Oleh: Ribut Achwandi (Pendiri Sogan Institute)

Pagi itu langit agaknya cukup mewakili perasaan saya yang sedang dipenuhi warna bunga. Malam sebelumnya, ada kabar baik yang mendarat di telepon genggam saya. Buku pesanan saya akan tiba hari ini. Artinya, saya akan segera membolak-balik halam buku itu dan menikmatinya. Yang bikin lebih senang lagi, itu buku ditulis kawan saya.

Sambil menunggu paket buku itu tiba, saya duduk-duduk di teras. Membaca koran dan menikmati pagi yang dipenuhi lalu lalang orang di jalan depan rumah. Di antara orang-orang itu ada yang saya kenal. Tentu, tegur sapa pun berselang-seling.

Namun, di sela-sela orang yang berlalu-lalang, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan rumah. Si penunggang motor turun dan menghampiri. Semula saya kira ia pengirim paket yang saya tunggu-tunggu. Ternyata, penunggang motor itu adalah Kang Masno, kawan lama yang sudah lama banget nggak pernah berjumpa.

Sambil melepas helm Kang Masno melemparkan senyuman. Lantas menyapa, “Pagi-pagi kok masih santai di rumah, Kang?”

Saya nyelatuk, “Lha sampeyan, pagi-pagi kok ya sempat-sempatnya keluyuran?”

Ngece apa ngepaske?” seloroh Kang Masno.

Kami terkekeh. Maklum, kami memang jenis manusia yang nggak sibuk di pagi hari. Lain dengan orang-orang yang jam paginya menuntut bergegas bergerak menuju tempat kerja. Sampai-sampai, tak jarang mereka terlibat pertengkaran di tengah perjalanan gara-gara kendaraan mereka serempetan, atau ada orang main selonong nyeberang jalan, dan seabrek kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya.

Saya menyilakan Kang Masno duduk sambil menawarinya minuman. “Kopi, teh, atau air putih?” tanya saya.

“Kopi!” balas Kang Masno.

“Cocok! Kebetulan, beberapa hari lalu saya dapat oleh-oleh dari saudara, kopi Medan. Mau?” kata saya menawarkan.

“Apa sajalah, yang penting kopi.”

Saya terkekeh. Lalu, membalas ucapan Kang Masno, “Iya, seperti hidup. Susah atau senang yang penting bisa menikmati!”

Tawa kami pun meledak seketika. Orang-orang yang melintas di jalan depan rumah menoleh ke arah kami. Mungkin mereka pikir kami orang-orang aneh. Nggak lumrah. Sementara yang lain kerja, kami ongkang-ongkang di rumah. Tapi, ya tetap bisa hepi.

Lepas dari tawa itu, roman muka Kang Masno perlahan melurut. Saya menangkap sesuatu sedang berkecamuk dalam pikirannya. Segera saya pasang ancang-ancang. Pikir saya, ini orang mungkin saja punya maksud lain. Pinjam uang atau sedang bermasalah dengan orang-orang di rumah.

“Kang,” kata Kang Masno.

“Ya.”

“Ngomong soal kerja, saya ada pertanyaan buat sampeyan.”

“Pertanyaan?” balas saya dengan perasaan yang makin was-was.

“Menurut sampeyan, ijazah yang paling sakti agar mudah dapat kerjaan itu apa, Kang?” tanya Kang Masno.

“Maksudnya?”

“Gini loh, sekarang itu kalau nyari kerja itu kan butuh ijazah. Kira-kira ijazah level apa yang bisa bikin kita gampang dapat kerja?”

Saya sebentar memandang wajah Kang Masno. Raut wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda semacam gurauan. Ia sangat berharap jawaban yang baik dan benar.

Sebelum menjawab, saya menghela napas sebentar. Lalu, saya katakan, “Ijazah SD, Kang,” tukas saya.

Raut wajah Kang Masno mendadak berubah. Tak percaya dengan jawaban saya. “Jangan guyon, Kang. Saya ini serius nanya loh!” seloroh Kang Masno.

“Loh, ini serius loh!” tukas saya.

Kang Masno tercekat dengan balasan saya. “Mmm… SD ya?” gumamnya.

“Ya,” balas saya tegas.

“Apa buktinya, Kang?” tanya Kang Masno menyelidik.

“Sampeyan tahu kan Yu Yariyah?”

Kang Masno mengangguk.

“Nah, dia itu ijazahnya cuma SD lho! Tapi, dia sudah sampai ke luar negeri!” kata saya.

“Lho! Tapi kan di sana kerjanya sebagai pembantu rumah tangga, Kang. Bukan kerja di perusahaan besar atau di kantor-kantor pemerintahan!” sergah Kang Masno.

“Itulah istimewanya! Pembantu rumah tangga bisa sampai ke luar negeri dengan modal ijazah SD!” celatuk saya.

Kang Masno masih terdiam.

Saya melanjutkan, “Kang, tidak semua orang seberani Yu Yariyah. Berani ambil risiko yang tidak kecil. Tidak gengsi untuk diremehkan. Bahkan, tidak merasa dunia ini sempit. Orang seperti Yu Yariyah itu bagi saya orang yang patut dihormati. Karena rela banting-bantingan tulang sampai remuk demi masa depan keluarga. Kita?”

Kang Masno rupanya masih belum terima penjelasan saya. Lantas, ia membalas, “Tapi kan orang-orang model Yariyah ini kerap jadi masalah, Kang. Bahkan, mereka ini yang bikin martabat bangsa kita terinjak-injak!”

“Kalau bukan keadaan yang memaksa, mungkin Yu Yariyah tak akan melakukan itu, Kang,” balas saya.

“Bukankah keadaan bisa diubah, Kang? Maka, nggak pas juga kalau sampeyan menyoalkan keadaan,” sergah Kang Masno.

“Betul. Keadaan bisa diubah. Tapi, siapa yang bisa mengubahnya?”

“Kita dong!”

“Bagaimana?”

Kang Masno terdiam kembali.

“Terlalu kompleks, Kang, untuk mengubah keadaan. Yang paling mungkin bisa kita lakukan hanya menemukan cara untuk menyelamatkan diri dan keluarga kita agar tak terjebak keadaan. Seperti kata sampeyan, orang-orang macam Yuriyah mungkin saja dianggap beban mental negara. Tetapi, jangan salah Kang, orang-orang seperti sampeyan dan juga saya, yang katanya berijazah lebih tinggi, bisa saja melakukan tindakan yang menista bangsa sendiri, Kang. Korupsi, misalnya. Atau, tindakan-tindakan lain yang memalukan diri sendiri,” terang saya.

 Kang Masno terperanjat. Ia seperti baru bangun dari mimpinya yang selama ini terlalu berharap untuk menjadi orang. Apalagi, ia telah lama mengantongi ijazah S1. Ijazah itu nyaris luntur oleh waktu.

“Sudahlah, Kang, kita lakukan saja yang kita bisa. Dan, soal ijazah itu, saya yakinkan lagi pada sampeyan, bahwa ijazah paling sakti itu memang ijazah SD, Kang. Sebab, kalau nggak punya ijazah SD mana mungkin sampeyan bisa sampai bergelar sarjana. Ya kan?” kelakar saya sekadar mencairkan suasana agar kopi yang tersaji di atas meja masih bisa dinikmati. Sebab, di dunia ini sesungguhnya tak ada yang benar-benar serius. Segalanya sangat mungkin untuk dipermainkan. Tidak terkecuali, nasib kita. Ah, yuk mari ngopi sebelum dingin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini