Oleh: Dr. Casrameko, M.Pd.I (Dosen STAI Ki Ageng Pekalongan)
Di era globalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu menciptakan kebahagiaan dan kemudahan di segala aspek bagi generasi sekarang, saking mudahnya mereka mengakseskan segala sesuatu yang diinginkan. Hal ini membuat imajinasi liar sering berdatangan dengan berselancar di dunia maya.
Akibat dari imajinasi dan fantasi liar, mereka membuat dunianya sendiri dengan apoes-apoes di sosial media, seperti memposting kegiatan traveling di berbagai daerah, berfoto dengan para artis dan berbelanja di berbagai supermarket, padahal mereka masih stay di rumah. Ironisnya kalangan pemangku kebijakan juga mengunakan sosial media untuk membuat omoen-omoen politik agar masyarakat bisa mendukung kebijakannya dan menghipnotis kalangan remaja yang melihatnya.
Sejalan dengan hal itu, lembaga-lembaga pendidikan telah memfokuskan kepentingannya pada peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ironisnya upaya untuk mewujudkan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi yang maju berdampak kurangnya perhatian dengan pendidikan akhlak dan sosok figur orang tua terlupakan dengan dimanjakan kemajuan teknologi.
Oleh karena itu, kondisi lingkungan sosial ditakutkan menimbulkan pelilaku-perilaku yang menyimpang dari norma-norma Pancasila dan Agama. Setiap hari kita menyaksikan kejadian-kejadian penyimpangan akhlak yang dilakukan oleh pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa, seperti tawuran pelajar di Sleman yang berujung satu nyawa melanyang (detikJogja, Senin, 09 Sep 2024 06:45 WIB), polisi ciduk 5 remaja pelaku teror bersajam di SMK Ma’arif Paguyangan Brebes (detikjateng, Senin, 09 Sep 2024 18:56 WIB), tawuran pelajar bersenjata tajam di Sukabumi (detikJabar, Selasa, 10 Sep 2024 18;28 WIB), tawuran pelajar di Bogor dengan celurit (detikNews, Selasa, 13 Agu 2024 12:31 WIB), dua kelompok pelajar tawuran di bandar Lampung (detikSumbagsel, Sabtu 10 Agu 2024 15:00 WIB) dan masih banyak lagi kejadian yang menyimpang dari norma-norma.
Kemrosotan akhlak sosial dalam kehidupan sekolah atau kehidupan sosial yang asalnya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan kebiasaan yang dianut masyarakat di sebabkan oleh tiga faktor. Pertama, hilangnya jati diri, yakni hilangnya tujuan atau cita-cita masa depan yang akan diraih, sehingga menyebabkan kaburnya niat positif dalam menuntut ilmu atau dalam mengapai kehidupan di Dunia. Hal ini berdampak pada sikap yang diambil tidak berdasarkan pada norma-norma masyarakat atau agama, bahwa berdasarkan keinginan untuk diakui hebat atau punya skill, apalagi di dunia sosmed yang apoes-apoes, setiap orang ingin menunjukkan kehebatannya biar diakui oleh masyarakat, walaupun lewat apoes-apoes di sosial media. Imbasnya mereka akan mudah tersinggung dan emosian bahkan membully orang lain, apabila keberadaannya tidak di akui.
Kedua, hilangnya figur seorang bapak atau guru yang menjadi model panutannya dan menjadi orang yang ditakutinya. Hal ini disebabkan karena orang tua/guru sekarang sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan asyik dengan duniannya sendiri, sehingga kurangnya perhatian pada anaknya dan mereka dengan mudahnya melepaskan anaknya dengan dunia maya, dunia yang penuh dengan apoes-apoes tanpa adanya pengawasan dan kontrol. Hal ini menyebabkan kaburnya figur panutan dan mudah di ombang-ambingkan oleh sosial media yang penuh dengan apoes-apoes.
Ketiga, adanya kesempatan untuk merealisasikan imajinasi dan fantasinya yang liar yang ia dapatkan lewat dunia apoes-apoes di sosial media, apalagi kurangnya pengawasan dari orang tua/guru, tidak adanya sosok figur panutan, figur yang ditakuti atau segani dan tidak adanya jati diri, hal ini menyebabkan mudahnya seorang remaja merealisasikan imajinasi dan fantasinya ketika ada kesempatan tanpa memandang sebab dan akibatnya dalam kehidupannya.
Editor: Kang Anwar





