Dunia kerja kadangkala tidak sejalan dengan apa yang kita kehendaki. Beberapa hari lalu, saya dicurhati seorang teman, ia mengatakan gagal diterima kerja di kampus idamannya. Alasannya klasik, ada desas desus pegawai yang direkrut adalah masih kerabat atau teman dekat dari pimpinan perguruan tinggi tersebut.
Apa yang menimpa teman saya, juga saya yakin pernah dialami pula oleh siapa saja, yang merasa memiliki kompetensi dan sudah berjuang sekuat tenaga, namun pada akhirnya kandas disebabkan karena tidak mempunyai jalur Orang Dalam. Saya kira, begitulah problem yang entah sampai kapan akan berakhir, dalam menghadapi dunia kerja saat ini.
Paradoks di Dunia Kerja
Di tengah melesatnya perkembangan dunia kerja, profesionalisme sering kali dihadapkan pada berbagai paradoks. Di satu sisi, organisasi modern mengusung nilai meritokrasi, integritas, dan kompetensi sebagai fondasi pengelolaan sumber daya manusia. Namun di sisi lain, praktik-praktik seperti nepotisme, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, hingga budaya mencari keuntungan pribadi masih kerap dijumpai di berbagai sektor.
Tidak sedikit orang yang merasa bahwa kedekatan dengan pemegang kekuasaan lebih menentukan daripada kapasitas, sementara pencapaian material sering kali lebih dihargai daripada kejujuran dan pengabdian. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan dunia kerja dewasa ini bukan semata-mata persoalan sistem, melainkan juga krisis nilai yang menggerus makna bekerja sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Dalam konteks itulah buku Spirituality in The Workplace (Tuhan Temani Aku Bekerja) karya Prof. Dr. Susminingsih, M.Ag. dan Prof. Dr. Musa Asy’arie menjadi sangat relevan. Buku ini mengingatkan bahwa akar persoalan di dunia kerja bukan hanya lemahnya regulasi atau pengawasan, tetapi juga pudarnya dimensi spiritual dalam diri manusia.
Ketika pekerjaan hanya dipandang sebagai sarana memperoleh jabatan, kekuasaan, atau keuntungan ekonomi, maka integritas menjadi mudah dikompromikan. Dalam situasi seperti ini, berbagai penyimpangan dapat menemukan pembenarannya, mulai dari nepotisme misalnya, penyalahgunaan wewenang, hingga praktik korupsi yang masih mengakar kuat di Indonesia. Korupsi tidak lagi sekadar dipahami sebagai pelanggaran hukum, melainkan cerminan dari krisis moral dan spiritual, ketika amanah publik dikorbankan demi kepentingan pribadi, kelompok maupun keluarga.
Sebaliknya, ketika pekerjaan dipahami sebagai amanah dan bagian dari pengabdian kepada Tuhan, profesionalisme tidak lagi berhenti pada pencapaian target, melainkan juga diwujudkan dalam kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Tidak sedikit orang berhasil secara profesional, tetapi mengalami kelelahan batin, kehilangan makna, bahkan mengalami krisis integritas. Pada titik inilah buku ini menawarkan perspektif yang menarik: bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga perjalanan spiritual.
Sejak halaman-halaman awal, penulis mengajak pembaca memahami bahwa spiritualitas bukan sesuatu yang hanya hadir di ruang ibadah. Bukan saja ketika kita sholat, puasa atau haji. Spiritualitas justru menemukan relevansinya ketika manusia berhadapan dengan berbagai dinamika kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan.
Buku ini menegaskan bahwa tempat kerja bukan sekadar arena mencari nafkah, tetapi juga ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ketuhanan melalui kejujuran, tanggung jawab, pelayanan, dan pengabdian. Pandangan tersebut menjadi landasan utama yang membedakan buku ini dari berbagai buku motivasi kerja yang lebih menitikberatkan pada peningkatan performa individu.
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberhasilannya menghubungkan filsafat, agama, dan praktik organisasi dalam satu kerangka berpikir yang utuh. Penulis tidak memandang spiritualitas sebagai pelengkap kehidupan profesional, melainkan sebagai fondasi yang menentukan kualitas seluruh aktivitas manusia. Bahkan, dalam pengantar buku dijelaskan bahwa ekspresi spiritual memiliki hubungan positif dengan perkembangan organisasi, peningkatan komunikasi, penguatan kerja sama tim, hingga pembentukan modal sosial yang sehat. Spiritualitas juga dipandang sebagai benteng moral yang mampu mencegah praktik-praktik destruktif seperti korupsi, penyalahgunaan jabatan, maupun manipulasi dalam bisnis.
Pandangan tersebut terasa relevan dengan berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia. Berbagai kasus korupsi, rendahnya etika birokrasi, hingga praktik bisnis yang hanya mengejar keuntungan, misalnya, menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukan semata kurangnya regulasi, tetapi lemahnya kesadaran moral.
Buku ini menawarkan pendekatan yang berbeda: perubahan sistem harus dimulai dari perubahan kesadaran spiritual individu. Dengan kata lain, integritas tidak cukup dibangun melalui pengawasan eksternal, tetapi juga melalui kesadaran batin bahwa setiap pekerjaan merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan.
Hal lain yang menarik adalah cara penulis mendefinisikan spiritualitas. Spiritualitas dipahami sebagai daya kerohanian yang mampu memberi makna terhadap kehidupan manusia. Makna tersebut tidak berhenti pada hubungan manusia dengan dirinya sendiri, tetapi juga mencakup hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta. Bekerja diposisikan sebagai aktivitas yang memiliki dimensi logika, etika, dan estetika sekaligus. Logika memastikan pekerjaan dilakukan secara benar, etika mengarahkan pekerjaan menuju kebaikan, sedangkan estetika menghadirkan keindahan dalam proses maupun hasil kerja. Ketiga dimensi tersebut menjadi satu kesatuan yang membentuk kualitas spiritual seseorang.
Menariknya lagi, buku ini tidak berhenti pada pembahasan konseptual. Struktur pembahasannya disusun secara sistematis mulai dari hakikat spiritualitas manusia, spiritualitas dalam birokrasi pemerintahan, dunia bisnis, industri, hingga kewirausahaan. Susunan tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas tidak dibatasi oleh profesi tertentu. Seorang birokrat, pengusaha, advokat, dosen, guru, pegawai kantor, bahkan seorang wirausahawan memiliki peluang yang sama untuk menjadikan pekerjaannya sebagai bentuk ibadah.
Kritik Terhadap Paradigma Modern
Jika ditelaah lebih jauh, buku ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang “spiritualitas di tempat kerja”, tetapi juga menawarkan kritik terhadap paradigma modern yang cenderung memisahkan agama dari aktivitas profesional. Dalam banyak organisasi, lembaga, hingga institusi, keberhasilan sering diukur melalui angka-angka: laba perusahaan, pertumbuhan aset, indeks kinerja, atau peningkatan produktivitas.
Buku ini mengingatkan bahwa ukuran-ukuran tersebut memang penting, tetapi tidak cukup untuk menilai kualitas sebuah pekerjaan. Keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu mempertanggungjawabkan pekerjaannya secara profesional sekaligus moral. Bekerja, dengan demikian, tidak lagi sekadar menghasilkan profit, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan dan keberkahan bagi banyak orang.
Bab-bab yang membahas spiritualitas dalam birokrasi menjadi salah satu bagian paling kontekstual. Penulis menempatkan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai sarana memperoleh privilese. Dari sudut pandang ini, korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga bentuk “anti-spiritualitas” karena mengkhianati amanah publik dan merusak hubungan manusia dengan Tuhan.
Perspektif tersebut memberikan dimensi etik yang lebih dalam dibandingkan sekadar pendekatan hukum positif. Demikian pula dalam pembahasan bisnis dan kewirausahaan, penulis menekankan bahwa kepercayaan, kejujuran, kualitas produk, serta keberkahan keuntungan merupakan fondasi yang menentukan keberlanjutan sebuah usaha.
Meskipun demikian, buku ini bukan tanpa kelemahan. Gaya penulisannya cenderung akademik dan filosofis sehingga membutuhkan konsentrasi lebih bagi pembaca umum. Pembahasan mengenai ontologi, metafisika, hakikat realitas, maupun teori-teori filsafat kadang terasa cukup berat, terutama bagi pembaca yang mengharapkan buku motivasi praktis.
Banyaknya kutipan dari literatur filsafat, tasawuf, psikologi, dan ilmu sosial memperkaya argumentasi, tetapi sekaligus membuat ritme membaca menjadi lebih lambat. Bagi kalangan akademisi, hal tersebut merupakan nilai tambah karena menunjukkan kedalaman kajian. Namun, bagi pembaca populer, penyajian yang lebih ringkas disertai contoh-contoh empiris mungkin akan membuat pesan buku lebih mudah dipahami.
Relevansinya dengan Era Modern
Terlepas dari beberapa catatan tersebut, relevansi buku ini justru semakin terasa pada era modern. Ketika isu kesehatan mental, burnout, krisis integritas, hingga hilangnya makna kerja menjadi perhatian global, gagasan tentang spiritualitas di tempat kerja memperoleh momentum yang kuat. Banyak organisasi mulai menyadari bahwa kesejahteraan karyawan tidak hanya ditentukan oleh besarnya gaji atau fasilitas kerja, tetapi juga oleh hadirnya lingkungan yang menghargai nilai, tujuan hidup, serta hubungan antarmanusia yang sehat. Nah, buku ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk membangun organisasi yang tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Jika kita hayati lebih jauh lagi, buku ini memiliki relevansi yang luas bagi dunia pendidikan tinggi, birokrasi, lembaga keagamaan, maupun sektor bisnis. Para dosen dapat menjadikannya sebagai referensi dalam pembelajaran etika profesi dan kepemimpinan. Para birokrat dapat mengambil inspirasi tentang pentingnya amanah dalam pelayanan publik. Sementara itu, para pelaku usaha akan menemukan bahwa keberhasilan bisnis tidak semata ditentukan oleh strategi pemasaran, melainkan juga oleh kualitas karakter pelakunya. Spiritualitas, dalam pandangan penulis, bukanlah penghambat profesionalisme, tetapi justru energi yang memperkuat profesionalisme itu sendiri.
Pada akhirnya, buku ini menyampaikan satu pesan sederhana tetapi sangat mendalam: Tuhan tidak hanya hadir di rumah ibadah, melainkan juga menemani manusia di ruang kerja, ruang rapat, meja pelayanan, ruang kelas, hingga lantai produksi. Setiap pekerjaan memiliki nilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar, cara yang benar, tujuan yang benar serta memanusiakan sesame manusia. Pesan tersebut terasa relevan di tengah kecenderungan masyarakat modern yang sering memisahkan antara keberhasilan duniawi dan tanggung jawab spiritual.
Sebagai sebuah karya akademik yang dikemas dalam bahasa reflektif, Tuhan Temani Aku Bekerja berhasil menawarkan paradigma baru tentang makna bekerja. Buku ini mengingatkan bahwa pekerjaan terbaik bukan hanya yang menghasilkan keuntungan terbesar, tetapi juga yang melahirkan kejujuran, kebermanfaatan, dan keberkahan.
Di era dunia yang semakin kompetitif, pesan seperti inilah yang justru kita butuhkan. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah digenggamnya, dan kekayaan yang berhasil dikumpulkannya, tetapi juga karena nilai-nilai yang ia tanamkan melalui setiap pekerjaan yang dijalankannya.
Identitas Buku
Judul: Spirituality in The Workplace (Tuhan Temani Aku Bekerja)
Penulis: Dr. Susminingsih, M.Ag. & Prof. Dr. Musa Asy’arie
Penerbit: Kurnia Kalam Semesta
Cetakan: Cetakan I, Agustus 2018
Kota Terbit: Yogyakarta
ISBN: 978-602-278-082-3
Jumlah Halaman: 250 halaman (termasuk halaman awal/pendahuluan)





