Beranda Opini Antara Elektabilitas dan Pembunuhan Karakter

Antara Elektabilitas dan Pembunuhan Karakter

1

Oleh: Dr. Moh. Nasrudin Rahmat, M.Pd.I
(Sekretaris Jenderal IKA UIN Gus Dur Pekalongan)

Lanskap politik Indonesia, baik di tataran makro maupun mikro, alih-alih menjadi panggung adu gagasan dan visi, kerap kali diwarnai oleh praktik yang sungguh disayangkan: pembunuhan karakter. Fenomena ini mencuat terutama ketika seorang tokoh mulai menunjukkan geliat elektabilitas yang signifikan. Alih-alih menyambut persaingan sehat melalui presentasi program dan rekam jejak yang mumpuni, yang muncul justru orkestrasi pembukaan aib, penyebaran fitnah, dan serangan personal yang bertujuan mereduksi kepercayaan publik terhadap sosok tersebut. Inilah ironi demokrasi kita, di mana potensi pemimpin justru dihantam gelombang disinformasi sebelum sempat membuktikan kapasitasnya.

Mengapa praktik tercela ini terus berulang? Akar masalahnya kompleks. Pertama, persaingan politik yang seringkali dipandang sebagai pertarungan hidup mati, bukan sebagai kontestasi ide untuk kemajuan bangsa. Pihak-pihak berkepentingan, yang merasa terancam oleh popularitas seorang kandidat, memilih jalan pintas yang destruktif. Mereka memanfaatkan segala cara, termasuk informasi privat yang belum terverifikasi kebenarannya, untuk menciptakan narasi negatif yang merusak citra lawan politik.

Kedua, ekosistem informasi kita yang rentan. Era digital, dengan segala kemudahannya, juga membawa tantangan besar. Informasi, baik fakta maupun hoaks, menyebar dengan kecepatan eksponensial melalui media sosial dan platform daring lainnya. Masyarakat yang belum sepenuhnya memiliki literasi digital yang mumpuni seringkali menjadi korban disinformasi. Emosi lebih mudah terpantik daripada nalar kritis, dan berita sensasional cenderung lebih cepat viral daripada klarifikasi yang berimbang.

Dampak dari praktik pembunuhan karakter ini sangat merugikan. Bukan hanya bagi individu yang menjadi sasaran, tetapi juga bagi kualitas demokrasi secara keseluruhan. Masyarakat menjadi sulit membedakan antara kritik konstruktif terhadap kebijakan dengan serangan personal yang tidak relevan dengan kapasitas kepemimpinan. Diskusi publik terdistorsi, fokus bergeser dari substansi ke sensasi, dan pada akhirnya, pemilih kesulitan membuat keputusan yang rasional berdasarkan rekam jejak dan visi calon pemimpin.

Lebih jauh lagi, budaya politik yang toksik ini berpotensi menghambat munculnya pemimpin-pemimpin berkualitas. Sosok-sosok yang memiliki integritas dan kompetensi tinggi bisa jadi enggan terjun ke dunia politik karena khawatir menjadi korban praktik keji ini. Akibatnya, ruang publik diisi oleh mereka yang lebih tahan terhadap serangan atau bahkan mahir dalam memainkan taktik serupa.

Maka, menjadi imperatif bagi masyarakat untuk mengambil sikap yang lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi arus informasi. Gerakan “saring sebelum sharing” bukan lagi sekadar imbauan, melainkan kebutuhan mendasar. Kita harus belajar untuk tidak mudah terpancing oleh narasi-narasi bombastis yang bertujuan mendiskreditkan seseorang tanpa bukti yang kuat. Verifikasi informasi dari berbagai sumber kredibel, menahan diri dari menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, dan fokus pada isu-isu substantif yang berkaitan dengan kepentingan publik adalah langkah-langkah penting menuju kedewasaan berdemokrasi.

Selain itu, peran media massa yang kredibel dan independen menjadi semakin krusial. Media memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mendalam, serta menjadi garda terdepan dalam melawan disinformasi. Pendidikan politik bagi masyarakat juga perlu ditingkatkan agar pemilih memiliki kemampuan untuk menganalisis informasi secara kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh kampanye hitam.

Membangun demokrasi yang sehat dan berkualitas adalah tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa lagi menjadi penonton pasif dalam drama politik yang penuh intrik dan fitnah. Dengan kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menerima dan menyebarkan informasi, kita dapat memutus rantai praktik pembunuhan karakter dan menciptakan ruang politik yang lebih kondusif bagi lahirnya pemimpin-pemimpin yang benar-benar berintegritas dan berkompeten, yang mampu membawa bangsa ini menuju kemajuan yang sesungguhnya. Inilah saatnya bagi demokrasi kita untuk bertransformasi menjadi arena adu gagasan yang cerdas dan bermartabat, bukan lagi medan pertempuran karakter yang penuh luka.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini