Oleh: Winda Restalia*
Di era digital yang semakin canggih, media pembelajaran tradisional sering kali terlupakan. Padahal, berbagai media berbasis kearifan lokal dan bahan alam memiliki potensi besar dalam mendukung proses belajar mengajar, khususnya di sekolah dasar. SD Negeri 02 Sokosari di Karanganyar, Pekalongan, telah membuktikan hal ini melalui penggunaan biji jagung sebagai media pembelajaran matematika, khususnya untuk materi penjumlahan di kelas 2. Media ini tidak hanya efektif secara akademis tetapi juga sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakter dan kearifan lokal.
Pembelajaran matematika di kelas awal sering menjadi tantangan besar bagi guru dan siswa. Konsep-konsep abstrak seperti penjumlahan memerlukan media konkret untuk memudahkan pemahaman. Di SD Negeri 02 Sokosari, biji jagung dipilih sebagai solusi atas beberapa masalah pembelajaran. Pertama, sekolah ini terletak di daerah agraris dengan perkebunan jagung yang luas, sehingga biji jagung mudah diperoleh. Kedua, sebagai sekolah dengan sumber daya terbatas, diperlukan media yang murah namun efektif. Ketiga, guru ingin mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran. Biji jagung memiliki beberapa keunggulan sebagai media pembelajaran: bentuk dan ukurannya seragam sehingga mudah dihitung, aman untuk anak-anak, dapat digunakan berulang kali, dan tidak memerlukan biaya besar.
Proses pembelajaran menggunakan biji jagung di SD Negeri 02 Sokosari dilakukan secara sistematis. Tahap persiapan meliputi pengumpulan dan pembersihan biji jagung. Guru menyiapkan sekitar 1000 biji jagung kering yang dibersihkan dan disimpan dalam wadah-wadah kecil. Setiap siswa mendapat sekitar 50 biji untuk digunakan selama pembelajaran. Pada tahap pengenalan konsep, guru menggunakan pendekatan kontekstual dengan menceritakan tentang panen jagung atau jual beli di pasar tradisional. Hal ini membantu siswa memahami aplikasi nyata matematika dalam kehidupan sehari-hari. Demonstrasi penggunaan biji jagung dilakukan dengan contoh konkret. Misalnya, untuk menjelaskan 3 + 2, guru mengambil tiga biji jagung di satu sisi dan dua biji di sisi lain, lalu menggabungkannya untuk menunjukkan hasil penjumlahan. Siswa kemudian mempraktikkan sendiri dengan bimbingan guru, baik secara individu maupun berkelompok.
Variasi Metode Pembelajaran, Untuk menjaga minat belajar siswa, guru mengembangkan berbagai variasi metode. Permainan “Tebak Jumlah” melatih estimasi dan perhitungan, dimana siswa menebak jumlah biji jagung yang disusun temannya. Lomba cepat tepat membuat pembelajaran lebih dinamis, dengan siswa berlomba menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan biji jagung. Pembelajaran berbasis cerita mengaitkan matematika dengan konteks nyata, seperti menghitung hasil panen atau belanja di warung. Pembelajaran kelompok mengembangkan kemampuan kolaborasi, dimana siswa bekerja sama menyelesaikan soal yang lebih kompleks. Evaluasi dilakukan melalui observasi aktivitas, tanya jawab lisan, dan lembar kerja sederhana.
Manfaat Pembelajaran, Penggunaan biji jagung memberikan manfaat multidimensional. Dari aspek kognitif, media ini memudahkan pemahaman konsep dasar penjumlahan melalui visualisasi konkret. Siswa dapat melihat dan merasakan langsung proses penjumlahan melalui manipulasi fisik biji jagung. Aspek psikomotorik terlatih melalui kegiatan memegang, memindahkan, dan mengelompokkan biji jagung yang melatih motorik halus dan koordinasi mata-tangan. Dari segi afektif, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sehingga meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa. Aspek sosial juga berkembang melalui interaksi antar siswa selama kegiatan kelompok dan permainan edukatif.
Tantangan dan Solusi, Implementasi media biji jagung tidak lepas dari tantangan. Masalah kebersihan diatasi dengan mencuci dan mengeringkan biji jagung sebelum digunakan. Untuk menjaga konsentrasi siswa, guru memberikan instruksi jelas dan membatasi waktu penggunaan media. Manajemen kelas diatur dengan pembagian kelompok kecil dan penggunaan alas kerja yang jelas. Daya tahan media dijaga dengan penyimpanan yang tepat dan pembatasan jumlah biji yang digunakan per siswa. Guru juga membuat peraturan bersama dengan siswa tentang penggunaan dan perawatan media pembelajaran ini.
Dampak terhadap Pembelajaran, Setelah tiga bulan implementasi, terlihat dampak positif yang signifikan. Pemahaman konsep penjumlahan meningkat, terlihat dari kemampuan siswa menjelaskan proses penjumlahan dengan bahasa mereka sendiri. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 25%. Sikap siswa terhadap matematika berubah menjadi lebih positif, dengan antusiasme yang tinggi saat pembelajaran menggunakan biji jagung. Guru juga menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran sederhana dari bahan lokal. Orang tua memberikan respon positif karena melihat anak-anak mereka lebih semangat belajar matematika.
Integrasi dengan Kurikulum, Penggunaan biji jagung sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Pembelajaran berbasis konteks mengaitkan materi dengan lingkungan agraris sekitar sekolah. Differentiated instruction memungkinkan penyesuaian kecepatan belajar masing-masing siswa. Penguatan Profil Pelajar Pancasila tercermin dalam pengembangan kreativitas dan kemandirian belajar. Media ini juga mendukung literasi numerasi dasar yang menjadi fokus pembelajaran di kelas awal.
Pengembangan Lebih Lanjut, Berdasarkan keberhasilan ini, sekolah merencanakan pengembangan lebih luas. Untuk matematika, biji jagung akan digunakan untuk materi pengurangan, perkalian dasar, dan pengenalan pecahan sederhana. Integrasi lintas mata pelajaran direncanakan dengan IPA (menghitung biji berkecambah) dan SBdP (membuat pola dari biji jagung). Sekolah juga mengembangkan media serupa menggunakan biji-bijian lain seperti kacang hijau atau beras untuk variasi pembelajaran. Pelatihan bagi guru-guru lain sedang disiapkan untuk menyebarluaskan praktik baik ini.
Kesimpulan, Pengalaman SD Negeri 02 Sokosari membuktikan bahwa media pembelajaran tradisional seperti biji jagung tetap relevan di era modern. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu bergantung pada teknologi canggih, tetapi pada kreativitas guru dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Media sederhana ini tidak hanya efektif untuk pembelajaran akademik tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal dan pendidikan karakter. Implementasi serupa dapat menjadi solusi bagi banyak sekolah dasar di daerah dengan sumber daya terbatas. Yang terpenting adalah komitmen pendidik untuk terus berinovasi menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.
*Penulis merupakan mahasiswa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, UIN gus dur Pekalongan





