Beranda Opini JIHAD AGRARIA: Pilar Pangan Umat untuk Kemakmuran dan Keberkahan

JIHAD AGRARIA: Pilar Pangan Umat untuk Kemakmuran dan Keberkahan

0

Oleh: Hendri Hermawan Adinugraha (Dosen FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan)

Saat ini dunia tengah menghadapi krisis pangan yang serius akibat perubahan iklim, eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab, dan ketergantungan pada impor. Sebagian besar negara di dunia, termasuk negara-negara Muslim, berjuang keras untuk mencapai ketahanan pangan. Indonesia, meskipun disebut sebagai negara agraris, masih bergantung pada impor bahan pangan pokok seperti gandum, kedelai, bahkan beras.

Umat ​​Islam harus berkontribusi terhadap kemandirian pangan sebagai bentuk ibadah dan jihad. Pertanian bukan hanya sekadar profesi, tetapi juga bentuk ibadah kepada Allah. Islam mengajarkan untuk memanfaatkan sumber daya dengan bekerja keras dan bertanggung jawab. Nabi Muhammad Saw juga menekankan bahwa bertani adalah ibadah jika tujuannya adalah mencari keridhaan Allah.

“Dari sahabat Jabir ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon kecuali apa yang dimakan bernilai sedekah, apa yang dicuri juga bernilai sedekah. Tiada pula seseorang yang mengurangi buah (dari pohonnya) melainkan akan bernilai sedekah bagi penanamnya sampai hari Kiamat.’” (Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz III, halaman 304).

Hadits ini menunjukkan betapa mulianya pekerjaan bercocok tanam, meskipun hasil panen kita dimakan oleh makhluk lain, tetap saja dianggap sebagai pahala di sisi Allah SWT.

Mengapa bercocok tanam disebut jihad? Karena mengolah tanah, menanam, dan memanen dengan cara yang halal merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah. Jihad agraria membantu menjaga keberlanjutan kehidupan, membangun kemandirian, dan memastikan umat Islam tidak bergantung pada bangsa lain untuk memenuhi kebutuhan pokok. Islam menganjurkan umatnya untuk mandiri, termasuk dalam hal pangan. Jihad tidak selalu berarti berperang. Di sini, jihad agraria adalah menghidupkan kembali tanah yang sangat subur, memanfaatkan sumber daya alam, dan memenuhi kebutuhan pangan umat Islam. Dari Khalih, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang pekerjaan yang paling utama. Beliau menjawab, “perniagaan yang baik dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dalam Al Mu’jam Kabir; Shahih Lighairihi)

Pekerjaan dengan tangan sendiri berarti pekerjaan yang dilakukan tanpa meminta-minta. Contohnya adalah profesi seperti bertani atau beternak, serta pekerjaan lainnya. Bertani membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan ketekunan, meski sering kali harus berhadapan dengan cuaca buruk, gagal panen, atau bahkan serangan hama. Insya Allah setiap usaha yang kita usahakan akan menjadi amal saleh di akhirat.

Makanan tumbuh dari tangan petani. Allah menciptakan rezeki bagi seluruh makhluk di bumi. Kemandirian pangan menjaga kehormatan dan keberlanjutan umat. Kita bertindak dengan mengelola lahan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri tetapi juga untuk membantu orang-orang di sekitar kita agar sejahtera. Islam mengajarkan untuk bersyukur atas makanan yang halal dan baik (thayyib) sebagai nikmat yang terbesar. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah dalam QS. An-Nahl: 114:

Artinya: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

Allah SWT telah menegaskan pentingnya bersyukur atas nikmat kesehatan dan makanan yang diberkahi. Salah satu bentuk rasa syukur adalah menjaga keberlangsungan pangan dengan usaha yang sungguh-sungguh di bidang pertanian. Allah SWT menciptakan bumi dengan sumber daya yang luar biasa, seperti tanah yang subur, air yang melimpah, dan udara yang memberi kehidupan. Semua itu merupakan anugerah yang luar biasa, yang harus kita kelola dengan penuh rasa tanggung jawab, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mulk: 15:

Artinya: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Kemandirian pangan merupakan kekuatan umat Islam. Jika umat mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, maka mereka tidak akan mudah bergantung pada pihak lain. Ketergantungan inilah yang sering menjadi penyebab lemahnya umat. Allah memerintahkan kita untuk memanfaatkan sumber daya yang telah diberikan-Nya kepada kita, tanpa terlalu bergantung pada pihak lain, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Qasas: 77:

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia,”

Ayat ini mengingatkan kita untuk berikhtiar di dunia, termasuk di bidang pertanian, sebagai bekal akhirat. Ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama umat Islam. Kita harus saling mendukung, berkolaborasi, dan bergotong royong untuk mencapai swasembada pangan. Dukunglah petani lokal dan kelola hasil pertanian dengan bijak. QS. Al-Maidah: 2 Allah berfirman:

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran,”

Marilah kita jadikan takwa sebagai dasar segala aktivitas pengelolaan pertanian menuju terwujudnya swasembada pangan dan marilah kita berkomitmen untuk bekerja keras di bidang pertanian sebagai langkah nyata membangun ketahanan pangan untuk kemandirian umat Islam dan kesejahteraan bersama. Insya Allah dengan terlaksananya aktivitas ini kita akan memperoleh keberkahan berupa alhayat at-thayyibah fid daraini. Semoga Allah senantiasa memberkahi Indonesia agar menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allahumma Amin ya Rabbal ‘Alamin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini