Cinta itu menyehatkan. Bukan karena ia menjauhkan dari penyakit, melainkan oleh sebab ia menenteramkan batin. Lain dari itu, menganggali beban pikiran. Plong!

Anda boleh saja meragukan pernyataan itu. Boleh juga membantah. Sangat mungkin pernyataan itu lemah lantaran tak ada bukti konkret. Atau, mungkin saja Anda punya pengalaman pahit tentang cinta.

Ada banyak contoh pengalaman pahit yang bisa Anda sebutkan. Misal, penolakan cinta, diputus pacar, sampai perceraian. Mungkin juga kehadiran orang ketiga dalam sebuah hubungan asmara.

Pun dalam hubungan lainnya. Seorang anak yang tidak diakui orang tuanya, misalnya. Sahabat yang dikhianati atau pula kawan seperjuangan yang dilupakan. Semua itu contoh-contoh kecil yang memampang sebuah lukisan cinta yang dilukai.

Akan tetapi, benarkah demikian? Mari kita renungkan kembali. Kita temukan mana yang sesungguhnya terlukai? Cintakah atau perasaan kita yang terluka?

Sambil merenung, saya ingin mengajak Anda melawat masa lalu. Berkendara kapsul waktu, kita akan menuju ratusan abad lampau. Kira-kira, 1500 tahun silam.

Silakan gunakan sabuk pengaman Anda. Duduk dengan tenang. Atur napas, agar bisa rilaks. Lalu, sejenak pejamkan mata. Tinggalkan sebentar hal-ihwal yang membebani pikiran.

Sekali lagi, atur napas. Hirup udara pelan-pelan. Rasakan udara itu melewati lubang hidung. Nikmati perjalanan udara itu melintasi tenggorokan, hingga memenuhi rongga-rongga organ dalam kita. Mulai perut, diafragma, hingga dada.

Setelah seluruh rongga penuh terisi udara, pelan-pelan kita hembuskan lewat hidung. Rasakan lembutnya udara menyentuh dinding lubang hidung kita. Rasakan betul bagaimana udara itu menggetarkan isi kepala kita. Nikmati betul sentuhan-sentuhan itu. Sambil pertajam inderawi kita.

Ulangi barang sekali-dua kali, atau sampai kita benar-benar rilaks. Sangat rilaks. Dan tubuh kita merasakan hawa yang adem, karena pori-pori kulit kita mengembang, mengantarkan kesejukan udara. Rasakan saja. Rasakan.

Nah, setelah benar-benar rilaks. Benar-benar tenteram. Mari kita mulai perjalanan ini. Wuuuusssh! Kapsul waktu kita telah meluncur menuju titik ordinat yang telah ditentukan.

Di balik tabung kapsul transparan yang kita kendarai, bisa kita saksikan kilatan-kilatan cahaya. Berkelebat di semua sisi. Beraneka rupa dan warna.

Kita saksikan pula debu-debu kosmik yang ditembus kapsul waktu. Debu-debu itu sesekali memercikkan api. Tetapi, tenanglah. Percikan itu tidak akan membakar. Sebab, dengan cepat pula percikan itu lesap ditimpa awan.

Kini, kapsul waktu yang kita kendarai terlontar dari galaksi. Menjauh dari orbit waktu semesta. Kita berada di ruang antara. Ruang yang nyaris tak punya hitungan waktu. Lalu, pelan-pelan kapsul waktu ini akan membawa kita memasuki dimensi waktu yang lain. Bersiaplah untuk menyaksikan pemandangan yang dahsyat! Sreset! Wuuuush!

Lihatlah, di hadapan kita ada lubang waktu lain menganga. Bersiap menyambut kedatangan kita. Siapkan diri Anda. Kita segera memasuki gerbang waktu yang lain itu. Ia akan menuntun kita mencapai waktu yang kita tuju.

Ah, kita telah sampai! Kita sampai! Persis seperti yang kita kehendaki. Mari, pelan-pelan kita turun dan melihat-lihat panorama yang disajikan alam pada 1500 tahun lalu.

Anda lihat, kita berada di antara bukit-bukit cadas, di tengah padang pasir. Ya, inilah lokasi yang kita tuju. Syukurlah, hitungan yang saya gunakan tepat.

Mari, ikuti saya. Akan saya tunjukkan sesuatu pada Anda. Sebuah rumah kecil yang berdiri di punggung bukit kecil. Rumah yang sangat sederhana.

Itu dia! Rumah yang sederhana itu. Anda tahu, di dalam rumah itu kita akan menjumpai seorang manusia yang istimewa. Ialah tuan rumahnya.

Perlu Anda tahu juga, orang-orang sekitar amat mengenalnya dengan baik. Memang, ia salah seorang keturunan orang terpandang di sini. Akan tetapi, bukan lantaran itu pula yang membuatnya begitu dikenal. Ia dikenal sebagai sosok dengan perilaku yang tak biasa. Kesantunannya melebihi orang paling santun di negeri ini. Kesederhanaannya tak ada yang melebihi. Begitu pula dengan sikap ramahnya tak satu pun yang menandingi. Ia begitu akrab dengan siapa saja. Lebih-lebih kepada orang-orang yang papa.

Ia begitu dicintai orang-orang di negerinya. Akan tetapi, rasa cinta yang teramat besar itu rupanya membuat sebagian lainnya merasa tak tenteram. Mereka cemburu. Sampai-sampai, kecemburuan itu menggerogoti hati mereka.

Lama-lama, rasa cemburu itu menguasai pikiran mereka. Terdorong pula hasrat mereka untuk merebut cinta rakyat negeri ini. Segala cara dilakukan. Mulai dari mengucilkannya, menghasut, hingga upaya mengenyahkan sosok yang amat dicintai itu dari muka bumi. Itu semua karena mereka khawatir cinta yang teramat besar kepada sosok itu membuat harga diri mereka jatuh sejatuh-jatuhnya. Kewibawaan mereka juga tak ada harganya. Bahkan, takut pula apabila kekuasaan yang selama ini mereka nikmati akan beralih tangan.

Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain. Segala upaya untuk mencelakakan sosok itu tak juga berbuah. Malahan, gelombang cinta itu makin membesar. Makin banyak orang yang merasa terpanggil oleh rasa cinta.

Para pembesar di negeri ini pun turut ambil bagian. Satu per satu mereka jatuh cinta pada sosok itu. Bahkan, mereka siap sedia untuk berada di garda terdepan. Melawan siapa saja yang memusuhinya. Sosok ini tidak melarang sikap yang ditunjukkan para pencintanya. Akan tetapi, ia kerap memberi wejangan, agar mereka tak melakukan tindak kekerasan. Tidak mendahului, karena segala sesuatu yang belum bisa dipastikan biasanya muncul dari prasangka buruk. Di sinilah, sosok yang satu ini kerap mengajarkan kepada para pencintanya untuk mendahulukan prasangka baik. Sebab, yang ditanam adalah kebaikan.

Ah, itu dia! Baru saja ia keluar dari rumahnya. Mari kita ikuti! Terus terang saya penasaran, akan ada peristiwa apa setelah ini. Kita ikuti ia dari jauh. Jaga langkah kaki Anda. Jangan sampai tersandung.

Anda lihat, bagaimana ia bersikap ramah kepada siapa saja? Bagaimana ia menyapa dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang? Itulah sosok yang saya idolakan. Ah, Anda dengar pula kan, kalau ia hari ini sedang terburu-buru ingin mengunjungi sebuah rumah? Katanya, ada yang sakit di sana. Sangat mungkin, ia ingin menjenguk si sakit. Ayo, kita ikuti lagi!

Nah, ia sudah sampai di rumah yang dimaksud. Lihat, beberapa orang menyambut dan mengantarnya masuk ke rumah. Sepertinya, kita cukup duduk di pojokan saja. Kita curi dengar apa yang terjadi di dalam. Bagaimana?

Untuk beberapa saat, suasana senyap. Saya berusaha sebisa mungkin menyimak setiap kata yang tersuara dan menembus dinding rumah itu. Angin gurun agak usil. Membuat pendengaran agak terganggu. Tetapi, saya anggap itulah cara alam bercanda. Sehingga, saya mesti berusaha lebih keras agar dapat menangkap suara sosok itu dari balik dinding rumah. Saya pusatkan pikiran, berusaha membayangkan apa yang terjadi di dalam rumah itu.

Lamat-lamat saya mendengar ucapannya, setelah ia mendoakan si sakit agar diberikan kesembuhan. Ia menyarankan, agar salah seorang menghubungi seorang tabib. Harits ibn Qaladah, namanya. Lalu, ia juga menganjurkan, agar orang ini meminta kepada tabib itu untuk memeriksa kesehatan si sakit.

“Bukankah engkau juga mampu melakukannya? Ah, tentunya atas izin Allah,” tanya seseorang di antara yang berkumpul di dalam.

“Harits ibn Qaladah adalah orang yang tepat. Ia telah banyak belajar ilmu pengobatan, hingga jauh ke negeri Persia. Dan, atas kegigihannya belajar, Allah telah menganugerahinya pengetahuan yang amat berguna bagi banyak orang. Percayalah, ia lebih tahu daripada saya,” jawab sosok yang penuh cinta itu lembut.

“Apakah tidak ada nama lain?” tanya yang lain.

“Apa yang membuatmu ragu, saudaraku? Apakah karena kau menganggap ia bukan bagian dari golonganmu? Bukankah, saya, kalian, dan juga ia sama-sama manusia? Sama-sama makhluk ciptaan Allah? Sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, saya yakin, kita semua memiliki kelembutan hati, saudaraku. Saya percaya, ia juga memilikinya. Dan, sebagai seorang tabib, rasanya tidak ada sesuatu yang akan membuatnya bahagia kecuali ia diberi kesempatan untuk menolong sesamanya,” balas sosok itu.

Sejenak kemudian senyap. Tak ada pembicaraan lagi.

“Baiklah, kalau kalian masih ragu, katakan kepadanya, bahwa saya yang memintanya,” tukas sosok itu dengan nada yang begitu santun.

Percakapan itu kembali menjumpai kesenyapan. Saya merasa semua sudah selesai. Ah, sebaiknya kita segera beringsut. Mari kita tinggalkan tempat ini. Kita kembali ke kapsul waktu yang kita tinggalkan di tengah gurun. Jangan sampai orang-orang menemukan kapsul itu. Bisa-bisa akan mengacaukan dunia. Kita tak punya banyak waktu. Kita mesti bergerak cepat.

Untunglah, kapsul waktu kita masih utuh. Saya harap, Anda tidak keberatan dengan perjalanan ini, kawan. Agak melelahkan memang. Tetapi, saya yakin ada pelajaran penting yang bisa kita petik dari petualangan ini. Kira-kira apa yang Anda dapatkan?

Oh iya, kita tak punya waktu banyak. Sebaiknya kita bergegas pergi dari sini sebelum waktu kita habis. Baiklah, saya aktifkan kapsul waktu ini dan segera meluncur ke masa kita. Wuuush!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini