Seni peran
Seni peran kerap diidentikkan dengan pentas teater. Padahal, tidak selalu demikian.

Kalau saya minta Anda memilih dari empat hal berikut, menurut pikiran Anda, manakah yang mewakili pemahaman Anda tentang seni peran? Pura-pura menjadi orang lain, sungguh-sungguh menjadi orang lain, menirukan orang lain, atau memainkan watak diri sebagai orang lain. Mana yang Anda pilih?

Sebelum melanjutkan bagian berikutnya dari tulisan ini, sekali lagi, saya minta dengan sangat hormat, tentukan pilihan Anda. Mengapa? Karena saya sangat mengharapkan Anda memilih salah satu di antara pilihan-pilihan yang saya sediakan.

Sudah Anda pilih? Atau masih ragu untuk memilih? Kalau ragu, mengapa Anda ragu-ragu? Toh, memilih bukanlah pekerjaan yang susah. Tinggal pilih saja sesuai dengan apa yang terbesit di benak Anda. Selesai.

Kalau masih ragu, ada baiknya Anda sejenak duduk tenang. Tegakkan badan, lalu hirup udara pelan-pelan. Hembuskan dengan pelan pula. Sampai hitungan napas ketiga, Anda perlu mengingat-ingat kembali pilihan yang sudah saya sediakan. Lantas, pelan-pelan pejamkan mata Anda, sambil terus bernapas dengan teratur. Pejamkan mata Anda sampai benar-benar Anda tentukan pilihan sebagai jawaban.

Jika sudah, silakan buka kembali mata Anda. Lalu, pelan-pelan mulai menyusuri rangkaian huruf yang saya susun ini hingga titik paling ujung di akhir tulisan ini. Semoga Anda tak keberatan.

Oh iya, setelah Anda tentukan pilihan, simpan baik-baik pilihan itu dalam memori Anda. Ingat baik-baik, jawaban Anda. Siapa tahu, Anda memiliki jawaban yang tepat. Sudah Anda tentukan jawaban Anda? Sudah kan? Baiklah, mari kita lanjutkan.

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah peristiwa kecil yang pernah saya alami. Peristiwa itu terjadi manakala saya menghadiri sebuah acara pelatihan seni peran yang diselenggarakan sebuah komunitas teater kampus, beberapa tahun silam. Nama komunitas itu Teater Unique.

Kebetulan, panitia meminta saya mengisi materi tentang seni peran. Tak cukup di situ, panitia juga menghendaki saya membuat media pengantar materi yang berupa selindia. Maka, beberapa hari sebelumnya saya membuat media itu. Setelah jadi, segera saya kirim melalui pesan singkat WhatsApp.

Pembaca yang arif dan bijaksana, tentu Anda akan berpikiran, bahwa selindia yang saya bikin itu akan memuat banyak tulisan dan gambar. Menerangkan dengan gamblang apa itu seni peran. Umumnya, memang demikian.

Sampai-sampai, antara tulisan yang dimuat pada selindia dan apa yang diucapkan pemateri biasanya tak jauh beda. Hanya sedikit tambahan keterangan untuk meyakinkan peserta. Walau, terkadang pemateri pun bisa jadi ragu-ragu dengan penjelasannya sendiri ketika tiba-tiba merasa agak melenceng dari apa yang dicantumkan pada selindia itu.

Akan tetapi, seorang pemateri biasanya tak kurang akal, panjang pula jangkauan pikirannya untuk dapat meyakinkan peserta. Lebih-lebih, saat salah seorang peserta ada yang bertanya tentang penjelasan yang agak melenceng tadi. Mungkin, peserta itu sangat memperhatikan atau bisa juga sekadar iseng bertanya.

Apapun itu, terkadang pertanyaan yang kritis bisa membuat pemateri seperti saya tiba-tiba ngelag alias ujug-ujug ngeblank sesaat. Di saat itu, saya akan berusaha sekeras dan sesegera mungkin menemukan jawaban. Bahkan, kadang terpaksa memberikan penjelasan yang berputar-putar sambil mencari istilah atau kata yang tepat. Begitu ketemu, saya akan kembali pada relnya.

Tentu, upaya itu sebenarnya sebagai pengabuan. Agar, peserta tak mengetahui bahwa saya sedang ngelag. Dengan kata lain, saya sedang pura-pura menjadi sosok yang lebih tahu dari peserta.

Padahal, cara itu tak disarankan. Mengapa? Bisa jadi, panjangnya penjelasan itu sama sekali tak berguna. Malahan, bisa saja semakin membuat rumit dan sulit dipahami. Tidak hanya bagi peserta, melainkan pula bagi diri sendiri.

Celakanya, usaha untuk menutupi kelemahan bisa jadi akan berujung memalukan. Siapa tahu, diam-diam beberapa peserta mengetahui bahwa saya sedang berpura-pura. Sebab, sekalipun sikap pura-pura itu cukup efektif menutupi kelemahan, selalu saja ada hal-hal kecil yang justru akan menyingkap kepura-puraan saya.

Misal, gerakan bola mata, gerakan jari tangan, cara berdiri, posisi bahu, cara menatap, ucapan yang terbata-bata, dan lain-lain. Apalagi kalau sampai pori-pori tubuh mendadak mengucurkan cairan kelenjar keringat. Seketika, saya bisa saja kehilangan rasa percaya diri di hadapan peserta.

Parahnya lagi, di saat rasa percaya diri itu hilang, pikiran bisa kacau. Apa yang saya ucapkan kehilangan fokus, bahkan bisa saja ngelantur kemana-mana. Makin tak jelas pula penjelasan yang saya sampaikan.

Lalu, apakah tak ada cara lain untuk mengatasi hal itu? Tentu ada. Banyak pula!

Saya bisa saja memainkan diri saya sebagai sosok yang saya idolakan. Tentu, dihubungkan pula dengan materi yang saya ampu.

Karena materinya tentang seni peran, saya boleh-boleh saja memainkan diri saya sebagai seorang aktor hebat. Katakanlah, seperti Reza Rahadian, Nicholas Saputra, atau Slamet Raharjo, mungkin juga meniru gayanya WS. Rendra, Sujiwo Tejo, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Pokoknya, siapa pun itu, selagi sosok itu saya gandrungi akan saya tiru gayanya.

Cara ini tentu akan tampak lebih sangar dibandingkan cara sebelumnya. Setidaknya, ada semacam upaya tebar pesona. Mempersonifikasikan diri seolah-olah diri saya adalah sosok yang setara dengan tokoh-tokoh yang saya tiru itu.

Syukur, kalau bisa meyakinkan peserta. Pasti, hal itu akan membuat mereka terperangah. Kagum pada apa yang saya lakoni.

Tetapi, di balik itu ada ancaman besar bagi diri sendiri. Memainkan diri sebagai peniru sesungguhnya akan sangat melelahkan. Apalagi dalam durasi yang panjang. Biasanya, satu sesi materi membutuhkan waktu dua jam.

Bisa dibayangkan, selama dua jam saya mesti menirukan gaya mereka secara sempurna. Rasa-rasanya mustahil, sekalipun mungkin saya sudah mempersiapkannya dengan sangat matang. Tetapi, ada kalanya tanpa disadari, saya akan terpeleset dan luput memainkan peniruan itu. Walhasil, makin tampaklah kecerobohan saya di hadapan peserta. Makin hilang pula kesan flamboyan yang saya persiapkan itu jauh sebelum harinya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Salah satu sebabnya adalah kapasitas diri yang tentu berbeda dengan tokoh-tokoh yang saya tiru itu. Mereka sudah sangat kaya pengalaman, sedang saya baru belajar menirukan mereka.

Jarak pengalaman ini menimbulkan pula pengetahuan, penghayatan, dan cara pandang yang tidak sama. Mereka yang telah mengenyam pahit asinnya kehidupan, tentu akan lebih bijaksana ketika menyikapi berbagai kemungkinan tak terduga. Sedang saya, bisa saja malah kehilangan kendali saat menghadapi hal-hal yang tak diinginkan. Gagap dan mungkin sekali akan terjerembab pada situasi emosi yang tak terkendali pula.

Maka, sebaiknya cara ini saya hindari. Kalaupun hendak meniru, barangkali sesekali saja dalam satu sesi. Sekadar memberi hiburan atau sebagai contoh memainkan seni peran. Setidaknya, untuk membangun kedekatan.

Lantas, cara apalagi yang bisa dimainkan? Dulu pernah, saya lakukan sebuah kekeliruan yang segera saya insafi saat ini. Yaitu, benar-benar menjadi orang asing bagi peserta. Kala itu, saya menganggap cara ini ampuh untuk menaklukkan peserta. Sebab, ada jarak yang sengaja saya bikin sebagai pembatas bagi peserta.

Ketika datang ke lokasi acara saya berlagak sebagai tamu agung. Petantang-petenteng, seolah tak mengenal satu pun panitia, apalagi peserta. Sama sekali, saya cuwek dengan mereka.

Padahal, mereka sudah sangat tahu siapa saya. Minimal, dari obrolan di warung kopi atau kantin. Bahwa saya adalah sosok yang bla bla bla. Semua sudah sangat mereka kenali. Bahkan, akun media sosial saya pun mereka skrol. Begitu pula, mungkin tulisan-tulisan saya di berbagai media sudah mereka baca.

Tetapi, disadari atau tidak, lagak petentengan seperti ini secara tak langsung justru menunjukkan nyali yang menciut. Kecil rasa percaya diri. Atau, malah tak punya rasa percaya diri sama sekali. Blaik!

Ya, kalau lagak petentengan itu justru memberi kesan baik di mata peserta dan panitia. Kalau sebaliknya, menimbulkan kesan kurang baik? Bisa saja malah bikin saya sendiri celaka, karena dengan cara itu saya menutup kesempatan untuk belajar kepada siapa pun. Tidak terkecuali, kepada mereka yang sedang belajar.

Saya ingat betul pepatah Tiongkok yang bunyinya guru yang bijak adalah guru yang bersedia belajar kepada muridnya. Artinya, seorang guru tidak hanya mengandalkan pengetahuannya, ia juga perlu membuka diri untuk mendengarkan pengalaman-pengalaman kecil murid-muridnya. Sehingga, ia cukup mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi murid-murid.

Pada kesempatan lain, ia bisa mendiskusikan dengan bijaksana di dalam menemukan cara terbaik bagi murid-muridnya untuk mengatasi masalah. Sebab, sebagaimana dalam ungkapan lain dalam tradisi Tiongkok pula, guru yang hebat adalah mereka yang bisa melahirkan murid-murid yang lebih hebat dari dirinya.

Ungkapan-ungkapan bijak ini pula yang akhirnya mengantarkan saya pada cara keempat. Yaitu, mengelola watak diri. Tentu, hal yang harus saya lakukan terlebih dahulu adalah mengenali diri dengan beragam potensi yang melekat. Baik itu potensi yang positif maupun yang negatif.

Di dalam diri setiap manusia terdapat potensi-potensi yang saling berpasangan. Baik dan jelek. Cerdas dan bodoh. Indah dan buruk. Semua potensi itu bisa dimainkan.

Misal, ketika harus berhadapan dengan pertanyaan yang tak saya temukan jawabannya saat memberi materi pelatihan. Tak harus berpura-pura, tak juga berlagak sok tahu, apalagi meniru gaya orang lain. Ketidaktahuan dan juga kelemahan bisa diolah dan dimainkan.

Bisa kita mainkan dengan melempar pertanyaan itu kepada peserta lain untuk menjawab. Tanpa memedulikan apakah jawaban-jawaban yang diberikan itu benar atau keliru, tampung saja dulu jawaban itu. Sambil kita bisa mengurai atau mencoba menemukan jawaban yang mendekati benar.

Lalu, bagaimana jika tidak ditemukan jawaban yang benar? Tentu, tak perlu repot-repot pula memberikan justifikasi. Akan lebih baik ketika peserta diajak untuk bersama-sama menemukan jawaban lagi, hingga ditemukan jawaban yang terbaik. Tetapi, mesti dipahami pula, bahwa sebenar apapun jawaban, sesungguhnya bersifat sementara. Sebab, kebenaran sebuah jawaban juga perlu diuji lewat pengalaman dan penghayatan atas pengalaman-pengalaman itu.

Di sinilah, seorang pemateri perlu mengajak peserta agar berkenan menghimpun pengalaman-pengalaman yang berserakan di alam nyata. Kemudian, menyusun pengalaman-pengalaman itu menjadi sebuah catatan perjalanan yang berharga. Bukan dalam rangka menghakimi benar-salahnya, melainkan merangkai peristiwa yang dilalui sebagai cara ia menemukan peran mereka.

Selain itu, juga menggali lebih dalam makna pengalaman itu bukan sebatas sebagai pengetahuan, melainkan sebagai langkah ia menemukan titik terang di dalam memaknai kehidupan. Sehingga, ia akan menemukan keindahan di setiap bentuk kehidupan. Menjadi bijaksana pula di dalam menyikapi setiap kejadian tanpa terburu-buru menjatuhkan hukum atas sebuah peristiwa.

Wah, agaknya tulisan saya melenceng dari bagian awal. Semestinya, saya lebih banyak mengungkapkan apa itu seni peran. Tetapi, sampai pada kata yang ke 1.554 saya malah sibuk bercerita soal yang tak penting ini. Maaf, kalau saya membuat repot pembaca yang budiman. Hanya, karena tulisan ini kadung panjang, rasanya tak mungkin saya jelaskan apa itu seni peran.

Lain waktu, semoga saya berkesempatan untuk menuliskan apa itu seni peran sebagaimana yang saya pernah buat dalam selindia untuk kegiatan pelatihan seni peran itu. Sekali lagi, saya sampaikan permohonan maaf dan rasa terima kasih yang mendalam atas kesediaan Anda untuk membaca tulisan saya ini sampai titik paling ujung di akhir tulisan saya. Terima kasih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini