Agaknya, tidak semua manusia pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku berkali-kali. Termasuk, padanya. Kami bertemu kali pertama tanpa sengaja. Tepatnya, di sebuah persimpangan tiga jalan tembus pasar, depan sebuah gedung SD.
Aku masih duduk di atas jok sepeda motor yang kulajukan agak pelan. Jalanan sempit yang kulintasi padat kendaraan. Orang-orang sepertinya sedang sibuk menaklukkan waktu. Di sela-sela lalu lalang kendaraan itu, tanpa sengaja aku menatapnya yang sedang berdiri di seberang. Di atas trotoar, di depan pagar gedung SD itu.
Tak hanya itu, ia rupanya juga menatapku. Cukup lama kami saling bertatapan. Sampai-sampai ada niatku menghampirinya. Sayang, laju waktu tak merestui. Aku mesti meninggalkannya untuk saat itu.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, benakku agaknya mulai terganggu. Tatapan mata itu terus membayang. Hingga, saat tiba di kantor, aku belum juga bisa move on dari tatapan mata itu.
Ah, ia benar-benar membuat hari kerjaku saat itu kacau. Begitu masuk ruang kelas untuk memberi kuliah, pikiranku masih saja belum bisa melupakan tatapan mata itu. Sampai aku sempat ngelantur di dalam kelas. Kontan, mahasiswa yang kuajar geli. Mereka tertawa tak habis-habis.
Walau begitu, aku tak merasa itu sebagai olok-olok. Ku katakan saja pada mahasiswa, “Saat Anda jatuh cinta, ada saja tingkah konyol yang dilakukan. Anda akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan seseorang yang Anda cintai.”
Semua pasang mata menatapku tajam. Lalu, ku lanjutkan, “Padahal, Anda tahu, cinta Anda mungkin saja berakhir di ujung kertas tisu yang basah oleh airmata. Tetapi, mengapa Anda tetap melakukannya?”
Aku sengaja menjeda sejenak. Berharap ada yang bersedia memberi jawaban. Tetapi, lagi-lagi sepi.
Aku pun masih melanjutkan kata-kataku, “Tidak lain, karena sesungguhnya, saat Anda jatuh cinta, Anda menyadari bahwa Anda sedang menghadapi masa-masa kesepian yang teramat dalam. Anda butuh seseorang yang mau menemani. Dan, orang yang Anda harapkan adalah orang yang Anda cintai.”
Mereka makin terdiam. Mungkin mulai berpikir sesepi apa yang mereka rasakan. Atau, sekadar diam, tanpa mengerti apa maksud kata-kataku. Aku tak peduli. Yang pasti, tatapan mata itu masih saja membekas dalam ingatan.
Usai menjalani rutinitas, di sore hari, pada jam pulang kerja, aku buru-buru pulang. Berharap, akan menemui tatapan mata itu. Di tempat yang sama. Di atas trotoar, di depan pagar SD.
Honda Blade Repsol ku ajak berkelok-kelok. Meningkahi keramaian lalu lintas padat di sore hari. Makin cepat aku sampai di tempat itu, harapanku, makin ada kesempatan untuk menjumpai tatapan itu.
Begitu tiba di tikungan jalan, dekat dengan tempat ia berada, jantungku berdegup lebih cepat. Aku memperlambat laju sepeda motor. Aku tak ingin melewati momen indah itu. Menatap tatapannya.
Makin dekat jarakku, makin aku tak sabar. Pelan-pelan ku lihat ujung daun pohon kayu jaran yang menjadi tempat naungnya. Aku makin deg-degan.
Begitu ujung tembok yang mula-mula menghalangi tikungan, terbukalah seluruh pemandangan di atas trotoar itu. Ku temukan halaman itu kosong. Tak ada tatapan mata itu. Ah, aku lemas.
“Dimana ia?” tanyaku dalam hati. “Duh! Kenapa tadi pas ketemu tak aku samperin aja?” gumamku agak kecewa.
Walau begitu, muncul dalam benak, sepercik keyakinan. Besok pasti ia ada di sini lagi. Itu pasti!
Esok hari, aku berangkat lebih awal. Dan, keyakinanku rupanya tak meleset. Seratus persen, benar! Aku menemukannya di tempat yang sama.
Kali ini, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Kudekati. Lalu, ku ajak kenalan. Dan akhirnya, ia pun membonceng sepeda motorku.
Di sepanjang perjalanan, aku memeluknya erat-erat. Aku tak mau kehilangan dia lagi. Ku katakan padanya, kalau ia benar-benar telah membuatku tergila-gila. Ya, aku telah melakukan hal gila bersamanya saat itu. Aku tak peduli apa pandangan orang tentang aku dan dia.
Sesampai di kampus, ku ajak ia menuju ruang kantor. Ku kenalkan kepada semua orang di kantor. Lalu, kuminta ia untuk bersabar menunggu di meja kerjaku. Ia terima saja. Ia tak protes. Juga tak banyak tanya.
Ku lihat, ia begitu tenang dan anggun. Apalagi ketika ia duduk di atas meja kerjaku. Makin besar pesona yang terpancar darinya.
Warna kulitnya yang kecokelatan. Rupanya yang menawan. Dan, aduhai! Tatapannya yang tak kalah menawan. Membuatku menemukan hari yang paling membahagiakan dalam hidup. Oh!
Sejak itu, aku merasakan hari-hariku dipenuhi kegairahan yang tak biasa. Kerjaku bersemangat. Apalagi saat ia selalu ada di meja kerjaku. Ah, ia begitu istimewa.
Sampai-sampai aku relakan sejumlah uang untuknya. Karena aku yakin, ia tidak akan mengkhianatiku. Setiap sehabis mengisi acara seminar atau acara-acara lain, sebagian honor ku berikan untuknya.
Teman-teman sekantor juga tak keberatan dengan keberadaannya. Malah, mereka tampak gembira menyaksikan hubungan kami yang begitu dalam. Itulah, awal mula kisah cintaku pada sebuah celengan berbentuk ayam.
Ah, cinta…. Rupanya tak selalu hanya kepada lawan jenis. Celengan berbentuk ayam pun jadi kisah cinta. Siapa tahu, celengan akan menjadi sarana yang tepat menabung. Apalagi di tengah ramainya isu tarikan pajak dan pembekuan rekening bank apabila tak melakukan transaksi dalam waktu tiga bulan. Ah!





