Beranda Opini Cara Asyik Belajar Listening Bahasa Inggris: Inspirasi dari Kartun Adventure Time

Cara Asyik Belajar Listening Bahasa Inggris: Inspirasi dari Kartun Adventure Time

0

Oleh: Armanda*)

Bagi banyak orang, mempelajari bahasa Inggris sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika berhubungan dengan keterampilan listening atau kemampuan mendengarkan. Michael Rost dalam bukunya berjudul Teaching and Researching Listening memaparkan bahwa tidak sedikit pelajar merasa kesulitan memahami penutur asli karena faktor kecepatan bicara, intonasi, serta variasi kosakata yang luas.

Di sisi lain, metode pembelajaran yang monoton seperti hanya mendengarkan rekaman atau mengerjakan latihan buku teks sering menimbulkan rasa bosan. Sementara itu, Larry Vandergrift dan Christine C. M. Goh dalam Teaching and Learning Second Language Listening berpendapat bahwalistening merupakan dasar penting dalam proses pemerolehan bahasa secara menyeluruh.

Michael Rost menyatakan bahwa “listening is not just a receptive skill but an active process of constructing meaning from spoken input.” Dengan kata lain, mendengarkan bukan sekadar memahami bunyi, tetapi juga melibatkan kemampuan mengaitkan konteks, pengalaman, dan pengetahuan sebelumnya untuk membentuk makna.

Di era digital, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada ruang kelas formal. Beragam media hiburan kini dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, seperti film, lagu, hingga kartun. Salah satu media menarik yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan listening adalah serial animasi Adventure Time dari Cartoon Network. Kartun ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyuguhkan dialog yang kaya dan variatif, menjadikannya sarana belajar bahasa Inggris yang alami dan menyenangkan.

Dalam tulisan ini akan membahas alasan mengapa Adventure Time efektif digunakan untuk belajar listening serta strategi agar pengalaman belajar menjadi lebih interaktif dan tidak membosankan.

Mengapa Listening itu Penting

Kemampuan mendengarkan memiliki posisi sentral dalam pembelajaran bahasa. Secara alami, keterampilan ini menjadi tahap awal sebelum seseorang mampu berbicara, membaca, maupun menulis. H. Douglas Brown dalam bukunya yang berjudul Principles of  Language Learning And Teaching menyatakan bahwa melalui listening, pelajar dapat menangkap bunyi, ritme, dan pola intonasi khas penutur asli. Hal tersebut menjadi fondasi bagi penguasaan speaking dan pronunciation.

H. Douglas Brown menegaskan bahwa “listening is the foundation of language learning. Without developing listening comprehension, learners cannot build the ability to communicate effectively.” Dengan demikian, tanpa pemahaman mendengarkan yang baik, kemampuan komunikasi dalam bahasa asing tidak dapat berkembang secara optimal.

Namun, banyak pelajar bahasa Inggris, terutama di Indonesia, masih menghadapi kesulitan dalam memahami percakapan alami. Abbas Pourhosein Gilakjani dan Narjes Banou Sabouri dalam Learners’ Listening Comprehension Difficulties in English Language Learning: A Literature Review mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya paparan terhadap bahasa yang digunakan oleh penutur asli . Menurut Gilakjani dan Sabouri, “many EFL learners face listening comprehension difficulties due to unfamiliar vocabulary, fast speech rate, and different accents.” Temuan ini menegaskan pentingnya latihan mendengarkan berbasis konteks nyata.

Sayangnya, di lingkungan sekolah, siswa sering kali hanya mendengarkan guru yang berbicara dengan aksen berbeda dari penutur asli, sementara latihan mendengarkan dari buku pelajaran cenderung terlalu formal. Akibatnya, ketika dihadapkan pada percakapan asli atau film berbahasa Inggris, mereka merasa kewalahan dengan kecepatan bicara dan ragam slang yang muncul.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan metode pembelajaran listening yang lebih alami dan menarik. Kartun bisa menjadi solusi karena menyajikan bahasa yang lebih hidup, kontekstual, dan mudah dicerna oleh pelajar dari berbagai tingkat kemampuan.

Mengapa Memilih Kartun Adventure Time

Kartun memiliki sejumlah keunggulan sebagai media belajar bahasa. Pertama, pernyataan dari Mertina Ismaili,MA dalam The Effectiveness of Using Movies in the EFL Classroom, penggunaan bahasa yang ringan dan kontekstual membantu pelajar memahami makna tanpa bergantung pada kamus secara terus-menerus. Merita Ismaili, MA menyatakan bahwa “using movies in the EFL classroom helps students to improve listening, comprehension, and vocabulary acquisition in an enjoyable way.” Dengan kata lain, media visual seperti film dan kartun tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan.

Kedua, pernyataan dari Jane Sherman dalam buku Using Authentic Video in the Language Classroom bahwa unsur visual dalam kartun membantu memperjelas makna dialog. Ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan latar adegan dapat menjadi petunjuk tambahan dalam memahami pesan yang disampaikan. Sherman menjelaskan bahwa “visual context provides learners with rich clues that facilitate understanding of spoken messages.”

Ketiga, sifat kartun yang menghibur membuat proses belajar terasa lebih ringan. Pelajar dapat menikmati pembelajaran tanpa merasa sedang “belajar” dalam arti formal.

Adventure Time sendiri memiliki daya tarik yang khas. Serial ini mengikuti petualangan Finn dan anjing ajaibnya, Jake, di dunia fantasi bernama Ooo. Meski tampak sederhana, Adventure Time dikenal dengan dialognya yang cerdas, humoris, dan sering kali sarat makna filosofis. Bahasa yang digunakan pun bervariasi—mulai dari percakapan sehari-hari hingga idiom khas yang umum dijumpai dalam bahasa Inggris modern. Selain itu, aksen bahasa Inggris Amerika yang digunakan dalam serial ini sangat jelas, sehingga ideal bagi pelajar yang ingin melatih kemampuan mendengarkan aksen standar.

Tidak hanya itu, Adventure Time juga menyisipkan nilai-nilai positif seperti persahabatan, keberanian, dan empati. Nilai-nilai ini dapat menjadi sumber motivasi tambahan bagi pelajar, menjadikan proses belajar bahasa lebih bermakna dan menyentuh aspek karakter.

Strategi Efektif Belajar Listening dengan Adventure Time

Belajar melalui kartun akan lebih efektif bila dilakukan dengan pendekatan yang terarah. Berikut saya coba paparkan beberapa langkah pendekatan yang dapat diterapkan. Pertama, pilih episode sesuailevel.Mulailah dengan episode yang memiliki dialog sederhana dan jumlah karakter sedikit. Gunakan subtitle bahasa Inggris di awal untuk memahami konteks, lalu perlahan-lahan coba menonton tanpa subtitle agar fokus pendengaran meningkat.

Kedua, tonton ulang secara bertahap. Menonton satu episode beberapa kali bisa membantu memperkuat pemahaman. Pada tontonan pertama, pahami alur cerita secara umum. Pada tontonan kedua, perhatikan pengucapan dan kosakata. Pada tontonan berikutnya, fokuslah pada intonasi dan ekspresi karakter. Pola repetisi ini efektif untuk memperkuat ingatan bunyi dan makna bahasa.

Ketiga, Catat Kosakata dan Ungkapan Baru. Setiap kali menemukan kata atau ekspresi baru, tuliskan dalam catatan khusus dan sertakan contoh kalimatnya. Misalnya, ketika Finn berkata “That’s totally math!”, ungkapan ini berarti “That’s awesome!” bukan tentang matematika, tetapi menunjukkan ekspresi kekaguman khas karakter.

Keempat, gunakan teknik shadowing. Teknik shadowing atau menirukan pelafalan secara langsung membantu melatih kepekaan bunyi serta memperbaiki pengucapan. Cobalah menjeda video beberapa detik, lalu ulangi ucapan karakter dengan ritme dan intonasi serupa.

Terakhir, diskusikan episode yang ditonton. Setelah menonton, coba ceritakan ulang isi episode dengan bahasa sendiri, baik lisan maupun tulisan. Jika memungkinkan, berdiskusilah dengan teman atau komunitas daring penggemar Adventure Time untuk melatih kemampuan berbicara dan memahami konteks sosial bahasa.

Tips Agar Belajar Semakin Menyenangkan

Agar kegiatan belajar lebih efektif, gunakan headset supaya suara terdengar lebih jelas. Dengan begitu, menangkap intonasi, pengucapan, dan detail percakapan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Menetapkan rutinitas juga penting. Misalnya, menonton satu episode setiap hari dapat membantu menjaga konsistensi belajar tanpa terasa berat. Kebiasaan kecil yang stabil biasanya memberi hasil yang lebih baik.

Pelajar juga bisa memilih karakter favorit lalu menirukan gaya bicaranya. Cara ini membantu melatih kelancaran, ekspresi, serta pemahaman terhadap bahasa informal. Untuk menambah variasi, manfaatkan media pendukung seperti podcast atau video behind the scenes. Konten semacam ini memberikan konteks tambahan yang lebih natural.

Agar tidak monoton, cobalah membuat aktivitas kreatif seperti menulis ulang dialog, membuat meme, atau fan art dengan kutipan favorit. Pendekatan ini membuat proses belajar lebih menyenangkan dan tetap berkesan.

Pendekatan kreatif seperti ini membuat otak lebih mudah menyerap informasi karena proses belajar terjadi dalam suasana rileks dan menyenangkan. Belajar listening tidak harus menjadi kegiatan yang membosankan.

Dengan memanfaatkan kartun seperti Adventure Time, pelajar dapat meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara alami sekaligus menikmati prosesnya. Serial ini menawarkan dialog yang realistis, aksen yang jelas, serta konteks visual yang mendukung pemahaman.

Melalui strategi yang tepat—mulai dari pemilihan episode, pencatatan kosakata baru, hingga latihan shadowing—pelajar dapat memperkuat kemampuan mendengarkan dengan cara yang menyenangkan. Dengan konsistensi dan kreativitas, kegiatan menonton dapat bertransformasi menjadi pengalaman belajar yang efektif dan bermakna.

Jadi, ketika pelajar ingin melatih kemampuan listening, cukup siapkan camilan, nyalakan Adventure Time, dan biarkan Finn serta Jake menjadi gurumu. Karena sejatinya, belajar bahasa bisa menjadi petualangan yang seru — learning can be an adventure too!

*)Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Nurul Huda OKU Timur

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini